
Di rumah Hadi Tama, sejak pagi Mila sudah masuk ke ruang kerja Hadi Tama tanpa sepengetahuan dari Murti ataupun penghuni rumah yang lain.
Mila mencari kemungkinan Hadi kira-kira akan menyembunyikan dimana Rosa. Karena sampai malam kemarin Hadi Tama benar-benar tidak pulang ke rumah. Tapi anehnya Murti dan juga Haris tidak khawatir, karena hal itu Mila curiga kalau Hadi Tama sebenarnya sedang bersama dengan Rosa, dan bahkan mungkin saja sebenarnya Hadi memang belum menceraikan Rosa.
Setelah mengacak-acak laci meja kerja Hadi, akhirnya Mila menemukan slip pembayaran sebuah rumah kontrakan di daerah pinggiran kota. Dan tanggalnya tertera di hari dimana ibu Rosa keluar dari rumah sakit.
Mila sangat kesal, dan akhirnya dia menggebrak meja kerja Hadi.
"Dasar pria bren9sek! dia benar-benar telah menipu anak ku!" pekik Mila merasa sangat kesal.
Mila langsung keluar dari ruangan kerja Hadi Tama. Ketika dia keluar dari ruangan itu, dia pun berpapasan dengan Murti.
Murti tentu saja terkejut melihat Mila yang matanya memerah dan juga menggenggam sesuatu di tangannya setelah keluar dari rumah kerja anaknya.
"Apa yang kamu lakukan di ruang kerja Hadi?" tanya Murti penuh curiga.
Mata Murti lalu melihat ke arah kertas yang ada di genggaman Mila.
"Apa itu?" tanya Murti sambil mengarahkan tangannya ke arah tangan Mila.
Namun dengan cepat Mila menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu, kamu saja tidak mau mengatakan dimana anakmu itu? apa kamu tidak kasihan pada Susan? dia sedang hamil, tapi calon suaminya bahkan meninggalkan dirinya dan terkesan tidak perduli padanya? apa Hadi itu tidak punya hati?" tanya Mila dengan nada ketus pada Murti.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Mila itu tentu saja membuat Murti geram.
"Aku bahkan bersyukur karena Hadi setidaknya sudah sadar meskipun terlambat. Anakmu itu pantas menerima perlakuan seperti itu dari Hadi, wanita licik yang penuh tipu muslihat. Kalau bukan karena anakmu yang merayu Hadi dengan sikap palsunya, anak ku juga tidak mungkin menceraikan Sila, wanita yang jelas-jelas ribuan kali lebih baik dari Susan!" balas Murti.
Balasan Murti itu membuat Mila kesal. Dia langsung mendorong Murti.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu. Anakmu saja yang mata keranj4ng, menyebalkan!" pekik Mila lalu meninggalkan Murti menuju ke kamar Susan.
Murti hanya berdecak kesal.
"Ck... Hadi benar-benar bodoh. Apa dia but4. Anak dan ibu itu seperti penyihir, bagaimana bisa Hadi lebih milih Susan dan menjelek-jelekkan Sila di depan ku, hingga aku salah paham pada Sila. Benar-benar tidak tahu di untung!" kesal Murti lalu meninggalkan tempat itu.
Setibanya di kamar Susan dia langsung menghampiri Susan yang tengah berdandan di depan meja rias.
"Ck... untuk apa kamu berdandan. Hadi Tama itu pasti sekarang sedang di rumah pelakor itu!" jelas Mila membuat Susan terkejut.
Susan langsung menoleh dan menghampiri ibunya.
"Bagaimana ibu tahu?" tanya Susan.
Saat Susan bertanya pada Mila, wajahnya menjadi pucat sedikit. Mila terus terang saja mulai khawatir, karena sedang hamil Susan menjadi sangat sensitif. Mila takut kalau sampai Susan tidak kuat, maka Susan justru akan celaka.
Maka dari itu sebelum mereka dirinya memberitahukan yang sebenarnya pada Susan. Mila pun memegang kedua tangan anaknya itu dengan erat.
Susan pun menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baiklah, ibu menemukan ini di ruang kerja Hadi!" ucap Mila menunjukkan slip pembayaran rumah kontrakan yang diberikan Hadi untuk Rosa.
Susan sempat sangat marah, tapi dia ingat apa yang dikatakan ibunya.
"Kamu punya kartu truff Hadi kan? kamu yang membantunya menyingkirkan Anton dan saingan lainnya dari perusahaan saat dia mengincar jabatan wakil CEO kan?" tanya Mila dan Susan pun mengangguk.
"Bagus, katakan itu langsung pada Hadi kalau dia tidak mau menceraikan pelakor itu!" sahut Mila.
Susan kembali termenung.
__ADS_1
"Jadi, mas Hadi belum menceraikan nya?" tanya Susan terdengar sangat sedih.
"Ck... jangan bodoh Susan, apa mungkin kalau dia menceraikan nya dia masih menyewakannya rumah?" tanya Mila dan Susan pun terdiam.
Melihat Susan yang kembali sedih, Mila langsung menepuk bahu anaknya itu perlahan.
"Dengar, kamu hanya harus kuat. Jangan sampai kehilangan bayi dalam kandungan mu. Sebelumnya kan ibu sudah bilang, merayu pria beristri itu kalau berhasil artinya pria itu memang tidak setia, dan setelah berhasil harus siap di selingkuhi juga, makanya ibu selalu bilang padamu untuk jangan terlalu melibatkan perasaan!" ucap Mila.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi ke kantor pengacara sekarang!" ajak Mila.
"Untuk apa Bu?" tanya Susan bingung.
"Untuk apa lagi? tentu saja membuat surat perceraian Hadi dan wanita itu. Ingat untuk menggertak Hadi dengan kartu truff yang ada di tangan mu. Perempuan itu urusan ibu. Jika mereka sudah tanda tangan surat perceraian nya. Mau apa lagi Hadi itu kan?" tanya Mila dan Susan pun mengangguk setuju.
Akhirnya Mila dan Susan pergi ke kantor pengacara yang masih kerabat dari Hilman. Dengan data diri Hadi dan juga data diri Rosa yang di ambil dari surat lamaran kerjanya waktu itu. Pengacara membuatkan surat perjanjian perceraian untuk Hadi dan Rosa. Bahkan sudah di beri mater4i. Hadi dan Rosa tinggal tanda tangan saja, pendaftaran juga sudah di urus oleh pengacara itu dan setelah Hadi dan Rosa tanda tangan nanti. Maka mereka berdua akan resmi bercerai.
Setelah selesai dengan surat itu, Mila dan Susan pun bergegas melabrak Hadi yang mereka yakini sedang berada di rumah Rosa.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya Mila dan Susan sampai di tempat itu. Mata Susan terbelalak lebar ketika melihat mobil Hadi Tama benar-benar terparkir di depan sebuah rumah sederhana yang dia yakini adalah rumah kontrakan Rosa.
"Kamu benar-benar keterlaluan mas!" geram Susan sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Mila yang melihat reaksi Susan kembali mendekati anaknya itu.
"Susan, tahan emosi mu. Kamu harus kuat, buang dan singkirkan dulu perasaan mu pada Hadi. Setelah ini, Hadi pasti tidak akan bisa berkutik lagi. Mengerti?" tanya Mila dan Susan kembali mengangguk paham.
Meski Susan sudah berusaha kuat, tapi dalam hatinya sangatlah merasa sakit dan pedih. Dia tidak menyadari kalau hal ini juga yang dulu Sila rasakan saat datang ke kantor Hadi Tama, dan menemukan kalau dia bahkan sudah di khianati satu tahun oleh Hadi dan Susan. Tapi mana ada yang bisa melihat kotor4n di mata sendiri. Susan tetap merasa tersakiti, padahal dulu dia menyakiti Sila bahkan tanpa ampun, hingga dia mengeluarkan semua 4ib dan kekurangan Sila depan Sila sendiri kala itu.
***
__ADS_1
Bersambung...