Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 108


__ADS_3

Sementara Joseph juga tengah mengantarkan Karina pulang ke rumah kontrakan Karina. Dave yang memerintahkan pada Joseph untuk mengantar dan menjemput Karina selama beberapa waktu ini, sampai di rasa keadaan sudah aman bagi Karina.


Dave tidak mau istrinya cemas, karena memikirkan Karina yang mungkin saja akan kembali di ganggu oleh Randy.


Di perjalanan seperti biasanya, suasana begitu hening. Tidak ada pembicaraan antara mereka berdua. Keduanya hanya saling diam dan fokus pada apa yang mereka lakukan. Joseph fokus mengemudi, dan Karina fokus melihat ke arah depan. Hanya itu yang mereka lakukan sejak tadi.


Sampai Karina terbatuk karena tidak sengaja kesedak sali*Vanya sendiri. Dia terlalu fokus ke depan, tapi sebenarnya dia tidak fokus pada jalan. Karina sedang gugup karena berada di samping pria yang berwajah garang, yang sejak tadi hanya diam tanpa senyuman sedikit pun dari bibirnya.


"Uhuk... uhuk...!" wajah Karina merah. Bukan karena dia tersedak. Tapi lebih karena dia malu, tidak makan apa-apa bisa tersedak.


Joseph lalu menepikan mobilnya, dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kamu kenapa nona Karina?" tanya Joseph.


Karina yang wajahnya masih merah bingung harus jawab apa.


'Aduh, aku harus bilang apa ya? masa iya aku harus bilang keselek lu*dah sendiri?' tanya Karina dalam hati.


Melihat wajah Karina yang merah karena malu, Joseph mengira Karina sedang kesulitan bernafas. Buru-buru Joseph membuka kaca jendela sebelah Karina.


"Maaf ya nona!" ucap Joseph yang langsung menepuk punggung Karina beberapa kali.


Karina semakin merasa malu. Dan setelah beberapa tepukan wajah Karina masih merah. Joseph lalu membuka sabuk pengaman nya.


"Nona Karina tunggu sebentar ya, aku akan carikan air minum!" seru Joseph yang langsung keluar di dari dalam mobil menuju sebuah toko kelontong yang lumayan besar yang ada di pinggir jalan tak jauh dari mobil yang mereka tumpangi berhenti.


Karina terus melihat Joseph. Dia juga terus berusaha menetralkan pernafasan nya.


"Ya ampun, hanya keselek lu*dah saja malah membuat tuan Joseph repot seperti itu. Aduh Karina, kamu ini benar-benar ya!" omel Karina pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak lama kemudian Joseph kembali ke dalam mobil dan memberikan satu buah botol ukuran sedang air mineral yang sudah di buka tutupnya oleh Joseph. Karina meminumnya dan dia mulai terlihat membaik.


"Sudah baikan?" tanya Joseph dan Karina pun mengangguk.


"Syukurlah, kita jalan lagi ya?" tanya Joseph dan Karina pun mengangguk.


Karina terus memandang ke arah botol air mineral pemberian Joseph. Entah kenapa rasanya perasaan nya menjadi hangat dan dia pun tersenyum sambil menoleh sekilas ke arah Joseph. Selama ini belum ada yang memperhatikan nya dan begitu khawatir padanya seperti ini. Di tambah lagi sikap Joseph yang sangat sopan, mau menyentuhnya saja untuk menolong nya pria itu bahkan minta ijin dulu padanya. Karina sangat respect terhadap Joseph, meskipun sebenarnya dia menyadari kalau semua itu merupakan tugas yang diberikan oleh suami sahabatnya pada anak buahnya itu. Tapi tetap saja, Karina merasa kalau Joseph sangatlah baik.


Sementara yang ada di pikiran Joseph memang yang tadi Karina juga pikirkan. Dia baik dan melindungi Karina karena memang itu adalah tugasnya. Setidaknya saat ini itulah yang ada dipikiran Joseph.


Sampai di depan rumah kontrakan Karina, Joseph bahkan turun lebih dahulu dengan cepat agar bisa membukakan pintu mobil untuk Karina.


"Terimakasih tuan Joseph!" ucap Karina sambil tersenyum.


"Sama-sama nona!" jawab Joseph.


Dan Joseph langsung kembali ke dalam mobil dan tanpa basa-basi langsung pergi meninggalkan rumah kontrakan Karina.


***


Tiba-tiba saja pandangan Murti beralih ke arah pintu masuk rumah melihat kedatangan Hadi. Tapi yang lebih membuat Murti terkejut adalah saat melihat siapa yang ikut datang bersama dengan Hadi. Dari arah belakang Hadi, Susan muncul dan membuat Murti langsung bangun dari duduknya.


"Hadi! kenapa kamu bawa perempuan itu kemari lagi?" tanya Murti dengan tatapan kesal dan suara yang nadanya semakin meninggi.


Diah yang takut Mika akan trauma dan terkejut segera mengajak Mika masuk ke dalam kamarnya.


"Nona Mika, kita main di kamar nona saja yuk!" ajak Diah.


"Mika mau sama ayah mbak Iyah!" bantah Mika.

__ADS_1


Diah yang tidak mungkin mengabulkan permintaan Mika itu langsung memegang tangan Mika dengan lembut.


"Mika sayang, ayah sama nenek mau bicara. Kita harus ke kamar dulu. Mbak Iyah ceritakan dongeng yang waktu itu mama Sila ceritakan pada Mika, mau?" tanya Diah yang berusaha membujuk Mika.


Mika kecil langsung mengangguk cepat ketika mendengar Diah akan menceritakan dongeng yang pernah di ceritakan Sila sewaktu Mika menginap di rumah Prio Utomo. Dengan cepat Diah lalu menggendong Mika dan bergegas membawanya dari ruang tamu sebelum tiga orang yang ada disana mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di dengar oleh anak kecil seperti Mika.


"Ibu, tenang dulu. Susan kemari mau minta maaf pada ibu!" jelas Hadi yang menggandeng tangan Susan dan berjalan bersama ke arah Murti yang masih berkacak pinggang.


"Halah, minta maaf. Wanita ini licik Hadi. Buka matamu! dia itu bersikap baik kalau ada maunya saja. Dia dulu juga seperti ini kan saat pertama datang ke rumah ibu, tapi nyatanya apa? dia malah kasar pada Zain dan Ayu, mereka bahkan tidak mau balik lagi ke rumah ini. Gara-gara siapa?" tanya Murti yang masih kesal sekali pada Susan.


"Ibu, Zain dan Ayu memang tidak mau kembali karena Zain sudah punya pekerjaan baru disana. Lagipula aku juga sudah mendengar sendiri Zain dan Ayu sudah memaafkan Susan, ketika Susan minta maaf pada mereka!" tambah Hadi lagi.


"Pokoknya ibu gak setuju ya, kalau dia tinggal di rumah ini lagi. Ibu yang akan pergi kalau dia tetap kamu ajak tinggal di rumah ini!" kesal Murti yang tetap pada keputusannya.


Hadi terdiam, sepertinya ibunya sudah sangat sakit hati pada Susan. Hadi juga tidak mungkin terus mendesak ibunya. Hadi pun beralih pada Susan.


"Susan, cobalah bicara pada ibu. Minta maaf padanya dengan tulus!" bisik Hadi pada Susan.


'Ih, dasar nenek peyot. Sudah tua dan keriput begitu saja masih banyak tingkah. Kalau bukan karena anakmu sekarang adalah wakil CEO. Malas sekali aku harus meminta maaf pada nenek peyot sombong seperti mu!' batin Susan.


Susan mengambil nafas panjang lalu membuat matanya berkaca-kaca dalam sekejap.


Brukk


Susan bersimpuh di depan Murti. Membuat Hadi sedikit terkejut tapi dia merasa senang dengan perjuangan Susan.


"Bu, Susan mohon maaf. Aku benar-benar mohon maaf pada ibu. Aku sangat mencintai mas Hadi Bu, aku tidak akan sanggup hidup tanpanya!" ucap Susan yang secepat kilat sudah berhasil menghiasi wajahnya dengan air mata.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2