Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 173


__ADS_3

Murti begitu terkejut, pagi-pagi anaknya datang setelah tidak pulang semalaman. Dan dia pun datang dengan seorang wanita yang tiba-tiba di kenalkan sebagai calon istrinya. Murti nyaris seperti tertiban beban yang begitu berat di tubuhnya.


Murti tidak tahu sejak kapan Hadi Tama anaknya yang baik dan perhatian menjadi pria playboy seperti itu.


"Hadi, jangan bercanda nak. Kamu akan menikah dengan Susan, undangan juga sudah di sebar. Bagaimana mungkin kamu akan menikah dengan wanita lain. Dan siapa dia ini, jangan-jangan dia menjebak mu?" tanya Murti menduga-duga.


Masalahnya putranya itu juga bukan pria yang mudah di rayu, dia juga jatuh cinta pada Susan karena memang Susan itu adalah cinta pertama Hadi, dan pacarnya satu-satunya sebelum menikah dengan Sila.


Rosa yang merasa ibu Hadi begitu menaruh curiga padanya pun segera berakting seperti wanita lemah.


"Aku sudah katakan padamu pak Hadi, tidak akan ada yang menerimaku... hiks!" entah darimana air mata juga berlinangan di mata Rosa.


Hadi yang makin merasa gusar segera meminta ibunya untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari mereka.


"Ini Rosa, dia sekertaris pribadi ku. Semalam karena banyak pikiran tentang masalah pekerjaan dan masalah Susan, aku minum Bu. Tapi aku tidak menyangka kalau aku akan memaksakan diri pada Rosa. Hingga aku meren9gut keperawan4nnya!" jelas Hadi pada sang ibu.


Murti yang mendengarkan apa yang Hadi katakan menutup mulutnya tak percaya. Aur mata bahkan sudah menetes di wajah wanita paruh baya yang terlihat letih itu.


"Hadi... apa yang kamu lakukan?" tanya Murti sangat kecewa pada anaknya yang tertua itu.


Hadi Tama mengusap wajahnya kasar.


"Maaf Bu, tapi aku harus menikahi Rosa. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya ada ibunya. Aku minta ijin dan minta tolong pada ibu dan ayah untuk melamar Rosa pada ibunya!" ucap Hadi mencoba bicara sepelan mungkin agar Murti tidak bertambah syok.


Cukup lama Murti terdiam, dia sangat kecewa pada Hadi. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah menghancurkan masa depan seorang gadis. Dan dia harus bertanggungjawab atas itu.


"Lalu bagaimana dengan Susan?" tanya Murti.


Hadi menundukkan kepalanya ketika Murti bertanya tentang Susan.


"Dia sedang hamil, Hadi. Dia akan terluka karena perbuatan mu ini. Dan apa Rosa mau kalau harus menjadi istri mu uang kedua?" tanya Murti.


Hadi kembali mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Bukan Rosa yang akan menjadi istri keduaku Bu. Tapi Susan...!"


"Apa kamu sudah tidak waras, Susan sudah hamil anakmu. Undangan pernikahan sudah di sebar. Kamu ini bagaimana cara berpikir mu sih Hadi?" tanya Murti yang mulai bersuara keras.


Haris yang baru datang pun hanya bisa menghela nafas.


"Masalah apa lagi yang kamu buat Hadi?" tanya Haris dengan suara beratnya. Dia sangat lelah dengan semua yang dilakukan oleh anaknya itu akhir-akhir ini.


"Ayah, dia ingin menikahi wanita ini. Dia mau menjadikan Susan istri kedua, dia keterlaluan sekali ayah..!" Murti mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Haris, suaminya.


Haris langsung memegang pelipisnya yang terasa sangat sakit.


"Ayah, aku sudah menghancurkan masa depan Rosa, dan aku harus bertanggungjawab jika tidak dia akan mengakhiri hidupnya, tapi jika aku mengatakan pada Susan, Susan juga pasti akan melakukan hal yang sama. Tolong aku ayah. Bantu aku satu kali ini lagi saja!" ucap Hadi memohon pada Haris.


Haris pun melihat wajah Rosa yang sembab.


"Lagipula kenapa dia berkeliaran malam-malam kalau dia wanita baik?" tanya Murti yang masih tidak mau begitu saja menerima Rosa.


"Baiklah Hadi, satu kali ini saja!" ujar Haris yang membuat Hadi menghela nafasnya lega.


"Terimakasih ayah!" ucapnya.


Hadi sudah memikirkan segalanya, dia akan membawa ayah dan ibunya ke kampung Rosa untuk melamarnya dan menikahinya di sana. Hadi akan beralasan pada Susan kalau dia akan pergi ke kampung orang tuanya. Dan pasti Susan tidak akan mau ikut.


Rencananya setelah dia menikah dengan Rosa, dia baru akan mengatakan semuanya pada Susan. Hadi yakin, Susan masih akan bisa menerima semua ini, Hadi yakin kalau Susan memang lebih kuat daripada Rosa yang menurut nya sangat rapuh.


Sementara itu pada pukul 10.00 pagi. Semua keluarga Hendrawan masih ada di rumah sakit, di ruang rawat Shafa. Kecuali Sila uang memang harus mengurus Mika dan Davina juga memintanya untuk istirahat, setelah semalaman menunggui Shafa bersama dengan yang lain.


Shafa perlahan mulai membuka matanya ketika, Jimmy memeriksanya.


"Kamu sudah bangun putri tidur?" tanya Jimmy sambil tersenyum.


"Kak... !" lirih Shafa.

__ADS_1


Mendengar Shafa memanggil kata kak, Dave dan Randy langsung bergegas menghampiri Shafa. Mereka bahkan berebut tempat paling dekat dengan Shafa di sisi sebelah kanan. Karena Jimmy memeriksa Shafa dari sisi sebelah kiri.


"Minggir Dave, dia memanggilku!" pekik Randy menggeser lengan Dave.


"Kamu yang minggir, kakaknya Shafa itu aku!" balas Dave tak mau kalah yang juga mengikuti pinggang Randy.


"Main kasar kamu ya?" tanya Randy kesal yang mulai menarik bagian kerah belakang jas yang Dave pakai.


Dave yang tak mau kalah langsung menginjak sepatu Randy.


"Kenapa menarik baju ku, kamu lebih pendek dariku. Jangan macam-macam!" balas Dave lagi.


Shafa yang melihat tingkah konyol kedua kakaknya itu pun terkekeh pelan. Dave dan Randy juga sengaja melakukan semua tingkah konyol itu untuk membuat Shafa tersenyum, dan akhirnya mereka berhasil.


Mendengar Shafa terkekeh pelan, Randy pun mengusap kepala adiknya itu perlahan.


"Kamu memanggil ku kan?" tanya Randy tersenyum pada Shafa.


Dave langsung menarik tangan Randy dan membuatnya menjauh dari Shafa. Setelah Randy menjauh, Dave pun mendekati Shafa.


"Bukan dia, tapi aku kan?" tanya Dave sambil menunjuk dirinya sendiri.


Shafa kembali terkekeh pelan.


"Aku tidak memanggil kalian berdua. Aku memanggil kak Jimmy!" jawab Shafa dengan suara yang masih amat lem4h.


Sontak saja, bukannya merasa senang Jimmy justru merasakan firasat buruk tentang jawaban Shafa itu. Pasalnya dua pria yang sejak tadi berebut perhatian Shafa malah langsung menatap tajam Jimmy. Tatapan kedua pria tampan itu benar-benar tajam, hingga bisa merobek, menc4bik-c4bik dan menyay4t setiap anggota tubuh Jimmy.


'Shafa, jawaban macam apa itu. Kedua singa mu ini pasti akan menelan ku hidup-hidup kalau kamu jawab seperti itu!' batin Jimmy sambil meneguk salivanya dengan susah payah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2