Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 170


__ADS_3

Dave langsung menggenggam tangan Shafa dengan erat, Shafa berusaha untuk bangun dan langsung memeluk Dave. Shafa menumpahkan tangisnya di pelukan sang kakak.


Sila juga langsung mengusap lembut punggung Shafa. Melihat adik iparnya itu menangis, entah kenapa meskipun Sila belum tahu apa yang telah terjadi, dia merasa sangat sedih bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


Dave yang terkejut dengan reaksi Shafa ini langsung bertanya pada Shafa.


"Kenapa dia melakukan itu padamu? apa dia punya perilaku menyimpang?" tanya Dave yang merasa aneh kenapa adik iparnya itu memberikan obat seperti itu pada istrinya sendiri, Dave tidak tahu kalau ada perjanjian antara Shafa dan Vincent. Meski sudah mendengar dari Sila, tapi mereka juga tidak tahu apa isi perjanjian pernikahan itu.


Shafa masih diam, dan terlihat jelas kalau dia sangat enggan menceritakan apa yang terjadi padanya pada siapapun. Termasuk pada Dave.


"Shafa bicaralah, apa yang sudah Vincent lakukan padamu?" tanya Dave yang sudah mulai sangat emosi pada Vincent.


Tangis Shafa malah semakin menjadi, membuat Sila mengusap lembut lengan Dave.


"Mas, sabar. Biarkan Shafa tenang dulu!" ucap Sila lembut.


Mendengar apa yang dikatakan Sila, Dave pun berusaha untuk tenang meski hatinya saat ini sedang berkecamuk penuh dengan amarah pada Vincent. Dave kemudian menghela nafasnya dengan sangat berat, tangannya juga terus memeluk erat Shafa. Meyakinkan kalau sekarang dia sudah berada di tempat yang sangat aman, tidak akan ada yang bisa menyakiti nya selama ada Dave di sampingnya.


Joseph yang melihat situasi itu langsung memanggil dokter Jimmy. Dokter Jimmy yang memutuskan untuk memberikan Shafa obat tidur yang di suntikan di botol infus nya agar Shafa bisa tidur dan lebih tenang saat dia bangun nanti.


Dengan masih berada di pelukan Dave, Shafa perlahan memejamkan matanya dan tertidur. Setelah Shafa tidur, Dave membaringkan Shafa di tempat tidurnya.


Dave, Sila, Jimmy dan Joseph pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ada apa dengan Shafa, kenapa dia seperti itu?" tanya Dave pada Jimmy.


"Aku tadi sudah jelaskan pada Jo, Shafa mengalami trauma. Dia sangat ketakutan, tertekan dan merasa tidak aman...!"


"Vincent bren9sek, berani-beraninya dia menyakiti Shafa, aku akan menghabisinya!" geram Dave.


Melihat Dave sangat marah dan mengatakan hal seperti itu, Sila langsung memeluk lengan Dave. Meski Sila tahu itu adalah luapan hati seorang kakak yang tidak terima melihat kondisi adiknya jadi trauma seperti itu. Tapi Sila juga tidak mau kalau Dave sampai mengambil jalan yang salah.


"Mas...!" lirih Sila sambil memeluk tangan Dave.

__ADS_1


Dave langsung menoleh ke arah Sila, dia melihat tatapan cemas dari sang istri langsung menepuk-nepuk pelan punggung tangan Sila yang memegang lengannya.


"Maaf sayang, aku terlalu emosi!" ucap Dave lalu menghela nafas panjang.


Dave pun lalu meminta agar Joseph menceritakan semuanya, kronologi kejadian sampai dia membawa Shafa ke rumah sakit. Dan Joseph juga langsung menceritakannya.


"Saat tahu tuan Vincent...!"


"Tak perlu panggil manusia sampah itu dengan tuan, Jo!" sela Dave kesal.


Sila bisa melihat betapa suaminya itu sedang emosi saat ini. Jimmy pun sejak tadi memilih diam, salah bicara bisa habis juga dia terkena amukan Dave.


"Maaf tuan, saat aku tahu Vincent membeli obat itu, aku langsung menghubungi nona Shafa. Dia bilang akan berlibur ke villa bersama dengan Vincent dan kedua orang tuanya. Tapi anehnya kedua orang tua Vincent malah bersantai di rumah, karena itu aku memutuskan untuk menyusul nona. Dan setibanya aku di sana...!" Joseph menjeda kalimatnya dia masih sangat kesal pada Vincent saat melihat Shafa dalam keadaan seperti itu.


Dave makin kesal ketika Joseph berhenti bercerita.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Dave.


"Nona shafa dalam keadaan...!" Joseph bingung bagaimana mengatakan nya di depan Dave yang sedang marah.


"Jo!" bentak Dave.


Sila dan Jimmy bahkan tersentak kaget saat mendengar bentakan Dave pada Joseph.


"Nona Shafa menangis, dia tergeletak di sofa dengan memakai jubah mandi, tapi jubah itu bahkan tidak menutupi tubuhnya!" ucap Joseph ragu.


Prang


Meja kaca di hadapan Dave hancur berantakan karena di pukul dengan kuat Dave.


Semua orang terkejut, terlebih Sila yang melihat tangan suaminya berdarah karena terkena pecahan kaca.


"Mas...!" lirih Sila dengan air mata yang sudah menetes melihat tangan Dave berdarah.

__ADS_1


"Jo, cepat cari si bren9sek itu. Bawa dia kehadapan ku sekarang juga!" perintah Dave dengan mata yang sudah merah karena sangat marah.


Joseph langsung berdiri dan menundukkan kepalanya sekali.


"Baik tuan!"


Tanpa basa-basi lagi, Joseph langsung keluar dari ruang rawat Shafa. Jimmy yang gemetaran pun memilih untuk segera mengambil kotak medis untuk membalut luka Dave.


Bahu Dave naik turun menahan emosi, Sila yang menyaksikan semua itu langsung menoleh ke arah Shafa. Sebagai wanita dia bisa merasakan betapa ketakutan nya Shafa saat itu.


"Sila, obati tangan suami mu. Atau akan terkena infeksi!" ucap Jimmy yang memberikan kotak medis pada Sila.


"Aku akan pergi, memanggil orang untuk membereskan semua ini. Sebaiknya saat Shafa bangun, kamu tidak melakukan hal-hal semacam ini Dave. Aku sudah bilang kan, Shafa trauma, dia ketakutan dan tertekan. Kalau kamu bertindak kasar di depannya, dia akan semakin takut!" jelas Jimmy pada Dave.


Dave pun terdiam, dia mendengus kesal.


"Aku tahu, pergilah!" ucap Dave pada Jimmy dan Jimmy pun segera keluar dari ruangan itu.


Sila lalu menarik tangan Dave yang terluka ke arahnya.


"Aku mengerti mas, kamu sangat marah dan emosi. Tapi benar kata dokter Jimmy, Shafa sedang trauma saat ini, bentakan kecil saja mungkin akan membuat kondisinya semakin buruk!" ucap Sila menegur suaminya dengan lembut.


"Maafkan aku sayang, aku benar-benar kesal. Darahku seperti mendidih saat Joseph bilang dia menemukan Shafa dalam keadaan...!" Dave bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayangi, dan selalu dia jaga sampai remaja. Harus mengalami hal seperti itu. Dave merasa kesal, sangat kesal.


"Iya mas, aku mengerti. Tapi kita harus bicarakan ini dulu dengan keluarga mu, juga keluarga Vincent. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau memang Vincent bersalah, keluarganya juga harus tahu hal ini. Agar kamu tidak di salahkan atas tindakan mu padanya nanti!" jelas Sila mengutarakan pemikirannya pada Dave.


Setelah tangan Dave di obati dan di perban, dia pun memutuskan untuk menghubungi ayah, ibu dan juga Randy. Semua orang begitu terkejut mendengar apa yang terjadi pada Shafa.


Sementara itu, Joseph yang meminta anak buahnya menangkap Vincent mendapatkan kabar tak baik tentang Vincent. Anak buah Dave melaporkan kalau saat mereka tiba di villa, Vincent sudah tidak ada disana.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2