
Seorang pria bertubuh kekar dengan balutan setelan jas pernikahan berwarna putih, senada dengan pakaian wanita muda cantik di sampingnya yang memakai pakaian pengantin internasional dengan warna senada. Sedang duduk menjabat tangan Rizal Hendrawan.
Ikrar yang dimulai dengan lafaz basmalah itu kemudian di ucapkan dengan tegas oleh Rizal Hendrawan.
"Saya nikahkan putri kandung saya yang bernama Shafa Hendrawan binti Rizal Hendrawan dengan engkau Joseph Ezza bin Hardian Ezza dengan mas kawin Seorang alat sholat dan perhiasan emas di bayar tunai!" seketika tangan Rizal menghentak tangan Joseph.
"Saya terima nikahnya Shafa Hendrawan binti Rizal Hendrawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.
"Sah!" Randy yang pertama kali mengatakan itu.
Di susul Prio Utomo dan yang lain yang menyerukan kata yang sama yaitu sah.
Meski ini pernikahan keduanya, Shafa tetap tak bisa menghentikan tangis yang mengalir ke pipinya. Bahkan dia tidak seharu dan sebahagia ini saat menikah dengan Vincent dulu.
Acara di lanjutkan dengan meminta restu kedua orang tua. Air mata juga mengiringi acara tersebut. Sangat hikmat, tenang, karena hanya di hadiri sanak saudara dan teman-teman dekat. Acara jadi semakin hikmat dan banyak yang berderai air mata.
Acara selanjutnya adalah lempar buket bunga. Dan sudah dapat di tebak, meski Anita berdiri cukup jauh dari wanita lain yang masih pada jomblo. Buket bunga itu mengarah padanya. Oman yang melihat hal itu pun tersenyum dari jauh.
Sila, Dave dan yang lain yang tahu hubungan Oman dan Anita juga turut mendoakan kebahagiaan untuk mereka. Sampai pada malam harinya, setelah para tamu undangan pulang, dan pesta pernikahan Joseph dan shafa berakhir.
Joseph membawa Shafa ke apartemen nya, seperti di film-film India. Davina menangis saat mengantar Shafa menuju mobil Joseph.
"Bu, jarak apartemen Joseph dan rumah ini hanya setengah jam. Ibu jangan lebay!" kata Randy yang melihat ibunya sedih jadi ikut sedih juga.
Plakk
Davina langsung memukul lengan Randy.
"Diam kau, makanya cepat punya anak perempuan, biar kau tahu rasanya melepas anak berumahtangga itu bagaimana!" kesal Davina.
Dave dan Sila hanya diam dan saling pandang. Mereka memilih mundur daripada kena semprot juga oleh Davina.
Setelah tiba di apartemen Joseph. Shafa langsung bergegas ke kamar mereka.
"Sayang... jalan pelan-pelan. Gaun mu panjang, awas jatuh!" seru Joseph memperingati Shafa.
"Cepat masuk kamar ya, kalau sudah bawa koper-koper ku masuk!" seru Shafa dari dalam kamar.
Sementara itu, Joseph masih harus kembali ke mobil lagi untuk membawa koper Shafa yang jumlahnya ada 4 buah koper itu. Setelah membawa semua ke dalam apartemennya, Joseph pun membuka dasi kupu-kupu dan jasnya. Lalu dia pun membuka pintu kamar yang tertutup.
Ceklek
*Terdengar musik tetew tetew.... musik yang biasa di putar saat ada wanita menggoda seorang pria.
Dan mata Joseph pun terbuka lebar kala melihat sang istri berjalan mendekatinya sambil membuka jubah tidurnya dan menjatuhkan jubah itu ke lantai.
"Aku milikmu malam ini suamiku!" bisik Shafa di telinga Joseph.
Dada Joseph berdesir, tanpa menunggu Joseph langsung mengangkat tubuh Shafa dan menggendongnya menuju ke tempat tidur.
Tanpa ragu Joseph membuka semua pakaiannya, dan pertempuran panas terjadi sampai pagi hari. Meski awalnya Shafa menjerit kesakitan, tapi lama-lama dia malah meracau tak karuan. Dan benar-benar sampai pagi.
***
__ADS_1
Empat bulan kemudian...
Saat menghadiri pernikahan Oman dan Anita, tiba-tiba saja perut Sila kontraksi.
Sila memegang lengan Dave yang duduk di sebelahnya.
"Mas, sepertinya aku mau melahirkan!" ucap Sila yang sudah pernah melahirkan jadi dia tahu mana sakit kontraksi biasa, mana sakit kontraksi saat akan melahirkan.
Dengan sigap Dave memanggil Joseph untuk menyiapkan mobil lalu menggendong Sila menuju mobil dan segera membawa Sila ke rumah sakit.
Di jalan Dave sudah menghubungi Jimmy dan meminta sahabatnya itu untuk menyediakan ruang persalinan dan dokter kandungan terbaik. Setelah tiba di rumah sakit, Sila terus berusaha menahan sakit sambil mengatur nafasnya.
Sila berkeringat sangat banyak membuat Dave menjadi panik.
Dave bahkan menggendong Sila begitu saja saat turun dari mobil, padahal Joseph sudah berlari ke dalam membawakan kursi roda untuk Sila.
Alhasil Joseph meninggalkan kursi roda itu dan mengikuti Dave. Semua orang yang sudah menyusul pun sudah tiba di rumah sakit, termasuk Oman dan Anita yang masih pakai pakaian pengantin.
Di ruang persalinan, dokter memeriksa Sila dan ternyata benar, Sila akan melahirkan, sudah pembukaan 6.
"Atur nafasnya ya Bu, miring ke kiri dulu yuk!" seru sang dokter.
"Mas, sakit mas... !" pekik Sila dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Dave yang panik dan kasihan melihat sang istri juga terus menggenggam tangan Sila dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
'Ya Tuhan, tolong ringankan rasa sakit istriku. Berikan rasa sakitnya padaku saja ya Tuhan!" Dave terus berdoa dalam hatinya.
Satu jam kemudian, terdengar suara dari dalam, dan air mengalir keluar. Setelah dokter memeriksa ternyata sudah pembukaan 10.
Sementara di dalam Sila dan Dave terus berusaha dan berdoa. Di luar, Prio Utomo dan keluarga, juga Rizal Hendrawan dan keluarga menanti dengan harap harap cemas kelahiran anak Sila dan Dave.
"Ayo Bu, tarik nafas... dorong Bu...!" ujar sang dokter.
"Mas, sakit mas.... mas mana Jimmy mas?" tanya Sila.
Dave terkesiap karena di saat yang genting begini, istrinya malah mencari Jimmy.
"Kenapa sayang?" tanya Dave bingung.
"Mas, panggil Jimmy kemari mas, cepat!" seru Sila.
Karena itu permintaan Sila, meski bingung untuk apa memanggil Jimmy. Tapi Dave pun menuruti permintaan sang istri.
Saat Dave keluar, semua mendekatinya terutama Rizal dan Davina.
"Dave, bagaimana? belum ada suara bayi?" tanya Davina penasaran.
"Bu, dimana Jimmy?" tanya Dave.
Jimmy yang duduk di belakang pun berdiri.
"Ada apa?" tanya Jimmy.
"Ikut aku!" seru Dave.
__ADS_1
Jimmy dan Dave kembali masuk ke dalam ruang persalinan. Dengan berlari Dave mengajak Jimmy menghampiri Sila.
"Jimmy, menghadap belakang!" seru Sila.
Dan Jimmy pun mengikuti perintah Sila. Dia menghadap belakang di samping Sila.
"Mas berdiri di sini!" ujar Sila yang meminta Dave berdiri di sebelah kirinya.
Sila menggenggam tangan Dave. Dan saat dia mengejan dia memukuli boK0ng Jimmy dengan kuat.
"Ekhhhh!"
"Oe oe oe...!"
"Alhamdulillah, selamat pak Bu. Anaknya laki-laki. Sehat dan lengkap pak, Bu!" ujar dokter itu lalu memberikan di kecil mungil yang masih memejamkan mata itu ke dada Sila untuk inisiasi menyu5ui dini.
Jimmy yang merasa bok0ng nya sangat panas pun meringis dan menatap kesal pada Sila.
"Hei, jangan lihat, tugasmu sudah selesai, terimakasih Jimmy. Kau boleh keluar!" seru Dave yang juga membelai lembut anak mereka yang sedang mencari dimana letak put1ng ibunya.
Tangis haru dan bahagia tak bisa di tahan oleh Dave dan Sila.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melahirkan seorang anak untukku!" ucap Dave mengecup mesra kening Sila.
Begitu Jimmy keluar, Rizal langsung mendekatinya.
"Sudah lahir ya?" tanya Rizal.
"Iya om, laki-laki. Sehat dan lengkap om!" seru Jimmy.
"Kamu kenapa?" tanya Davina.
"Menantu Tante itu, tidak mau menyakiti suaminya. Jadi saat dia mengejan dia malah memukul ku, dan tak mau memukul Dave. Ck... kenapa nasib ku selalu begini!" keluh Jimmy membuat semua orang di tempat itu terkekeh.
'Aku sedang mengeluh, bukan melawak kenapa mereka terkekeh' batin Jimmy tak habis pikir.
Setelah bayi mungil itu di bersihkan di bedong, Sila juga di pindahkan ke ruang rawat. Semua keluarga pun masuk ke dalam ruang rawat dan memberi selamat pada Sila dan Dave. Davina yang pertama menggendong si kecil.
"Tampannya, persis seperti Dave!" serunya.
"Benar, persis seperti Dave. Mau di beri nama siapa?" tanya Rizal yang tak henti-hentinya menyentuh bedong si bayi.
"Danish ayah, artinya bijaksana!" jawab Dave.
"Wah, nama yang bagus!" sahut Prio Utomo yang juga mendekati Danish.
Davina pun menyerahkan Danish pada Tini. Dan Sila tersenyum melihat semua kebahagiaan di depan matanya.
Sila melihat senyum di wajah Dave, Mika dan seluruh anggota keluarganya. Dia sangat bersyukur, dia pernah mengalami saat dimana dia benar-benar hanya sendirian karena ulah seseorang yang sangat dia cintai dulu. Tapi kini semua itu terobati. Beratus beribu kali lipat. Sila percaya, akan ada pelangi setelah badai. Dan itu dia alami sendiri. Harapannya adalah, semoga semua wanita di luar sana di dunia ini juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti dirinya untuk bahagia.
...TAMAT...
Di sini author mau mengucapkan banyak sekali terimakasih buat kalian semua para readers setia novel ini. Semoga Tuhan mengganti kebaikan dan ketulusan kalian ini dengan beribu-ribu kali lipat kebaikan. Selalu jaga kesehatan dan semoga kalian semua selalu sukses dan bahagia dimana pun berada. Amin.
Salam sayang untuk kalian semua para readers yang baik hati ♥️♥️♥️.
__ADS_1