
Saat Rosa melangkahkan kakinya menjauh dari ruang rawat Susan, dia melihat seorang pria paruh baya yang wajahnya terlihat sangat lelah, dengan langkah yang di seret seperti sudah tidak bertenaga lagi. Rosa mengenal pria itu, tapi pria tidak mengenal Rosa.
Pria itu adalah Hilman, ayah Susan. Wajahnya yang tua semakin terlihat berkerut dan keriput karena sepertinya sudah beberapa waktu tidak tidur. Matanya yang merah dan berkaca-kaca saat berjalan ke arah kamar rawat Susan, membuat Rosa menghela nafasnya panjang.
'Maafkan aku pak Hilman, aku tahu anda tidak tahu apa-apa. Tapi anda juga harus ikut menanggung kesalahan istri dan anak anda. Maafkan aku!' lirih Rosa dalam hati lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Sementara Hilman dengan susah payah menenangkan putrinya yang terus menangis dan berteriak teriak meskipun dalam keadaan terbaring lemah tak berdaya. Mata Hilman bahkan sudah berurai air mata.
"Susan, tenang nak. Ya Tuhan... bantu hamba ya Tuhan" lirih Hilman yang terlihat sangat lelah.
Seorang dokter akhirnya bisa menyuntikkan obat penen4ng dan akhirnya Susan pun tertidur. Hilman merangkul Susan dan menangis memeluk putrinya itu.
"Sudah cukup nak, ini sudah batas kesabaran ayah. Jika kamu kelak melakukan kesalahan lagi, orang yang pertama menghukum mu adalah ayah nak. Ayah tidak akan membiarkan mu berbuat jahat pada siapapun lagi!" tangis Hilman pecah.
Dokter wanita dan dua orang perawat yang juga ada di dalam ruangan itu bahkan ikut menangis terharu karena apa yang dikatakan Hilman dan juga yang dia lakukan. Memang seperti itu kasih sayang seorang ayah, dia akan menunjukkan nya kalau sang anak sudah berada pada titik terendah dalam hidupnya.
Sementara itu di ruangan Mila, wanita paruh baya yang baru sadar itu juga tak kalah histeris dan membuat beberapa orang suster panik untuk menangani nya. Hingga hal yang sama juga dilakukan untuk menenangkan Mila, dokter pun menyuntiknya dengan obat penen4ng. Hilman yang sudah sangat lelah bahkan tak sanggup lagi berjalan ke tempat tidur pasien Mila, meskipun sudah berada di ruangannya. Hilman hanya duduk di sofa sambil mengusap wajah keriput nya kasar. Masalahnya dia sudah menjual rumahnya untuk operasi Susan dan Mila. Setelah ini mereka harus tinggal di rumah yang lebih kecil yang telah di beli oleh Hilman. Sangat kecil, karena usaha Hilman juga sedang tidak selancar biasanya. Toko bangunan miliknya juga sudah hampir bangkrut karena dia sibuk mengurus Mila dan Susan, salah satu anak buah kepercayaan nya malah membawa lari semua aset toko. Hingga Hilman harus memutar otak bagaimana sisa hasil penjualan rumah cukup untuk tempat tinggal mereka dan usaha mereka selanjutnya.
***
Sementara itu setelah meninggalkan rumah sakit. Sila dan Dave pun menuju ke perusahaan.
"Mas, maaf ya karena semua kejadian ini. Kamu jadi harus meninggalkan pekerjaan mu!" ucap Sila dengan lembut.
"Tidak apa-apa sayang, semuanya masih terkendali. Hanya saja aku memang merasa sedikit kesulitan saat Joseph liburan. Biasanya semua pekerjaan dia yang tangani!" ucap Dave kemudian.
"Begitu ya, pantas saja sampai sekarang dia masih jomblo. Pasti karena terlalu sibuk dengan semua pekerjaan yang mas berikan padanya!" seru Sila yang bercanda dengan suaminya.
__ADS_1
Dave pun terdiam.
'Iya juga, kenapa selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu!' pikir Dave.
"Sayang, kamu benar juga. Sepertinya aku tidak memikirkan hal itu selama ini. Bahkan teman sebayanya sudah punya anak empat sampai lima. Apa menurutmu aku terlalu menyulitkan Joseph?" tanya Dave pada Sila.
Dave baru sadar sekarang, kalau mungkin saja dia sudah terlalu memberi Joseph banyak tugas hingga asisten pribadi dan orang kepercayaan nya itu sampai sekarang tidak sempat, dan tidak ada waktu untuk berkencan dengan seorang wanita.
"Tapi kalau aku membiarkannya banyak libur, pekerjaan ku terbengkalai. Menurutmu aku harus bagaimana sayang?" tanya Dave pada Sila.
"Bagaimana ya mas, apa dia pernah mengatakan padamu tentang wanita yang dia suka?" tanya Sila pada Dave.
Dan Dave pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. Pikiran Sila yang sensitif mulai memikirkan hal yang di luar logikanya.
"Atau jangan-jangan dia menyukai mu mas?" tanya Sila dan langsung tertawa.
Dave langsung menggidikkan bahunya.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Sila dan Dave sudah sampai di kantor. Saat mereka akan naik lift khusus untuk CEO. Seorang karyawan yang merupakan resepsionis kantor itu menghampiri Dave.
"Selamat siang tuan Dave. Mohon maaf, saya hanya ingin memberitahu anda kalau nona Catherine sedang menunggu anda di ruangan anda. Nona Anita sedang meeting dengan klien. Saya sudah bilang anda tidak ada, tapi nona Catherine memaksa menunggu tuan!" terang karyawati itu panjang lebar.
Dave pun mengangkat tangannya dengan elegan.
"Tidak apa-apa. Kembalilah bekerja!" ucap Dave dan karyawati itu pun mengangguk paham.
Dia bahkan menganggukkan kepalanya pada Sila juga sebagai rasa hormatnya. Dan tentu saja di balas dengan senyuman oleh Sila.
__ADS_1
"Mas, siapa Catherine?" tanya Sila dengan mimik wajah tidak senang.
"Sayang, apa kamu ingat model yang aku bawa ke butik tempat mu bekerja waktu itu?" tanya Dave.
Sila pun kembali mengingat kejadian itu, dan mata Sila langsung melebar ketika mengingat wanita yang telah membuat salah seorang karyawati butik di pecat dan membuat kehebohan di setiap kedatangan nya ke golden butik.
"Wanita itu, wanita yang kalau bicara sok sok Inggris itu?" tanya Sila mulai timbul perasaan sedikit kesal pada Catherine.
Masalahnya dulu Sila dan teman-temannya yang bekerja di butik pernah di perlakukan dengan tidak menyenangkan bahkan di hina oleh wanita bernama Catherine itu.
Mendengar Sila sewot pada Catherine, Dave malah terkekeh.
"Sayang, kamu tidak cemburu kan?" tanya Dave.
"Hah, aku cemburu. Sama wanita yang sok manja seperti itu. Ya enggak mungkinlah mas, lagipula dia tidak akan bisa menggandengmu seperti ini kan?" tanya Sila sambil memeluk lengan Dave dengan erat.
'Masih bilang tidak cemburu, tapi memeluk lenganku begitu erat. Sila, wajahmu bahkan menyiratkan segalanya!' batin Dave yang begitu gemas melihat tingkah Sila.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift, laku menuju ke lantai dimana ruangan Dave berada.
Begitu Dave membuka pintu, Catherine langsung berdiri dan hendak menghampiri Dave. Tapi Sila langsung memeluk erat lengan Dave dan menunjukkan wajah sedikit sombong pada Catherine.
"Dave, siapa ibu-ibu ini? kenapa dia memeluk tangan mu?" tanya Catherine dengan wajah tidak senang.
Mata Sila langsung membelalak.
'Hah, apa katanya? ibu-ibu?' pekik Sila bertanya dalam hatinya.
__ADS_1
***
Bersambung...