Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 177


__ADS_3

Keesokan harinya...


Rizal sudah memanggil seorang pengacara ke kantornya. Hari ini juga Shafa akan pulang ke rumah. Karena kondisinya sudah membaik, efek obat yang diberikan oleh Vincent padanya juga sudah hilang sepenuhnya.


Randy dan Dave juga menemani sang ayah di kantornya.


"Kita juga bisa mengajukan tuntut4n tuan Rizal, ini juga termasuk perbuatan melanggar hukum. Kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya kekerasan fisik saja, laporan dari rumah sakit dan juga semua bukti yang ada bisa jadi alasan yang kuat untuk kita mengajukan tuntutan hukum atas pasal perbuatan tidak menyenangkan, serta pasal kekerasan dalam rumah tangga kepada Vincent Oberen. Dan bukti rekaman dari nyonya Tatia Oberen juga bisa menjadi bukti untuk tuntutan tambahan, yaitu penipuan!" jelas Wira. Pengacara keluarga Hendrawan.


Randy yang mendengar apa yang dikatakan pengacara itu menjadi sangat antusias dan bersemangat.


"Benar ayah, kita tuntut saja mereka. Itu pasal berlapis, biar Vincent Oberen itu membu5uk di penjara. Biar dia rasakan dinginnya lantai penjara itu, biar jera dia ayah!" ujar Randy dengan semangat berapi-api.


Rizal diam sejenak.


"Baiklah, kita bisa lakukan itu nanti. Yang terpenting adalah, Shafa bisa terlepas dari ikatan pernikahan dengan pria licik seperti Vincent Oberen itu!" jelas Rizal.


Dave pun punya pemikiran yang sama dengan sang ayah.


"Benar ayah, kalau dia tidak mau bercerai. Maka kita gunakan saja semua bukti itu untuk menggertak dan menekannya!" tambah Dave.


Pengacara pun mendengarkan semua yang dikatakan tiga pria dari keluarga Hendrawan itu. Yang paling penting adalah mengurus perceraian Shafa dan juga Vincent. Sisanya akan di urus setelah perceraian itu resmi.


Sementara itu di rumah sakit, Jimmy sedang memeriksa kembali kondisi Shafa.


Disana ada Davina dan juga Sila yang menemani Shafa. Joseph dan Oman juga sudah berada di luar pintu ruang rawat, Joseph akan mengantar Shafa dan Davina pulang, sementara Oman memang sejak pagi mengantarkan Sila dan Mika ke sekolah Mika. Sekalian Sila mampir ke rumah sakit untuk menemani Davina menjemput Shafa pulang ke rumah.


"Kondisi mu sudah baik. Aku senang kamu bisa melewati trauma mu ini dengan cepat!" ujar Jimmy.


"Tentu saja Jimmy, dia punya kami keluarganya. Punya kamu sebagai dokter yang sangat perhatian. Bagaimana dia tidak cepat sembuh!" sahut Davina yang membuat Jimmy langsung salah tingkah di depan Shafa dan Sila.

__ADS_1


"Ah, Tante bisa saja. Aku kan hanya menjalankan tugas ku saja!" ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Oh ya Jimmy, bagaimana dengan mu. Lihatlah Dave sudah akan mempunyai bayi kecil, apa kamu tidak bosan menjadi jomblo?" tanya Davina.


Shafa dan Sila saling pandang. Mereka merasa kalau pertanyaan Davina itu terlalu menoh0k perasaan dokter Jimmy. Itu sama saja bilang kalau dokter Jimmy itu gak laku kan.


"Ibu, siapa bilang dokter Jimmy jomblo!" sela Shafa.


Davina memasang wajah terkejut mendengarkan apa yang dikatakan Shafa. Jangankan Davina, Jimmy sendiri terkejut saat Shafa bilang begitu. Dia sendiri kan memang jomblo.


"Benarkah? wah, siapa gadis beruntung itu Jimmy?" tanya Davina yang di buat penasaran oleh apa yang dikatakan Shafa.


"Suster yang berkacamata tebal tadi Bu, yang membantu ku ganti pakaian tadi!" jelas Shafa berbohong dengan niat bercanda dengan dokter Jimmy.


Wajah Davina semakin menunjukkan ekspresi tak percayanya.


"Hah, yang benar saja Jimmy. Kamu ini tampak loh, tinggi mu saja 180 cm kan. Suster tadi itu, maaf bukannya Tante body shaming ya sayang, tapi dia itu hanya semester lebih. Lihat kacamata tebalnya...!" Davina menjeda kalimatnya.


"Oh, maafkan Tante Jimmy. Tapi kamu tidak serius menyukai sister tadi kan?" tanya Davina lagi.


Jimmy melihat ke arah Shafa yang sedang menahan tawanya.


'Gak kakaknya gak adiknya semua sukanya mengerjai aku. Awas saja kalian, kalau aku dapatkan Miss world, baru tahu kalian!' batin Jimmy mulai sedikit kesal.


"Ibu aku hanya bercanda, mungkin ibu bisa Carikan gadis baik dan cantik untuk kak Jimmy!" ucap Shafa yang membuat Davina menghela nafas lega.


"Oh, Shafa. Jangan lakukan itu lagi. Kamu dan kakak mu senang sekali mengganggu dokter Jimmy. Kalau dia ngambek, terus ke luar negeri, ke Amazon. Siapa yang akan datang saat kalian butuh dokter?" tanya Davina menasehati anaknya.


Sila hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya. Tidak heran Dave begitu percaya pada Dokter Jimmy, karena memang dokter Jimmy sangat dekat dengan semua anggota keluarga. Pandangan Sila pun akhirnya tertuju pada perdebatan antara Shafa dengan dokter Jimmy.

__ADS_1


Sila pun mulai pada Mak comblang mode on nya. Dia berpikir kalau Shafa sudah pasti akan bercerai dengan suaminya, karena ayah mertuanya tadi sudah membicarakan itu pada Dave, dan Dave pun pergi ke kantor ayahnya untuk membantu Rizal mengurus perceraian Shafa.


Setelah melihat ke arah saham, Sila pun melihat ke arah dokter Jimmy. Sila berpikir usia dokter Jimmy memang lebih tua, lumayan jauh. Tapi juga tidak terlalu jauh, jika dia tidak salah maka mungkin usia dokter Jimmy pasti antara 31 atau 32 sama seperti Dave. Sedangkan Shafa 27, bukankah itu tidak terlalu jauh.


Dan lagi, Sila melihat kalau dokter Jimmy juga sangat perhatian pada Shafa. Bahkan kemarin malam, dokter Jimmy juga ikut begadang menunggu Shafa di ruang rawat bersama dirinya, Dave dan yang lain.


Tapi tak lama kemudian Sila menggelengkan kepalanya pelan.


'Aih, apa yang aku pikirkan. Bisa-bisanya aku berpikir jadi Mak comblang!' batin Sila yang merasa kalau yang dia pikirkan terlalu jauh dan tidak masuk akal.


Setelah selesai dengan administrasi dan selesai membereskan barang-barang Shafa. Mereka pun keluar dari rumah sakit. Sila juga ikut mengantarkan Shafa pulang ke rumah tapi dengan mobil berbeda yang dikemudikan Oman.


Begitu tiba di rumah Shafa langsung masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sila pun menemaninya sebentar karena Davina tiba-tiba harus pergi menyusul Rizal ke kantor karena ada yang harus di diskusikan.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Sila pada Shafa.


Shafa yang duduk bersandar di tempat tidur nya tersenyum.


"Tidak kak Sila, terimakasih. Kak Sila, sebenarnya aku ingin sekali mengobrol dengan Kakak. Dan setelah apa yang aku alami sekarang ini, aku jadi lebih ingin tahu dan menanyakan hal ini pada kakak!" ucap Shafa dengan wajah serius.


Sila yang penasaran pun bertanya.


"Tentang apa?" tanya Sila singkat.


Shafa pun menghela nafas nya berat.


"Bagaimana rasanya saat kak Sila menjadi seorang Janda dulu?" tanya Shafa yang langsung membuat Sila menatap sedih pada adik iparnya itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2