Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 240


__ADS_3

Rombongan dua buah mobil polisi dan juga mobil Randy memasuki komplek perumahan elite di salah satu wilayah kota ini. Semua orang yang kebetulan melihat iring-iringan ketiga mobil itu sedikit tercengang. Masalahnya mereka merasa tidak ada terjadi kejahatan atau kecurian di komplek perumahan elite yang di jaga ketat oleh satpam selama 24 jam itu.


Mata para tetangga keluarga Praja juga langsung heran setelah ketiga mobil itu saling antri untuk masuk ke dalam pintu gerbang rumah yang paling besar di antara rumah-rumah yang terdapat di komplek tersebut.


"Eh, ada apa itu? kenapa mobil polisi masuk ke gerbang keluarga Praja?" tanya salah seorang wanita yang sedang membawa anak balitanya dalam gendongannya di luar gerbang rumahnya.


Wanita itu berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang memakai daster dan masih memegang sapu lidi di tangannya.


"Eh iya, kenapa ya? selama ini keluarga itu aman-aman saja. Apa ada yang kecelakaan?" tanya wanita berdaster itu dengan wajah terkejut.


"Ih, ibu Marpuah jangan bilang gitu dong. Amit-amit deh, jauh jauh!" sahut wanita yang sedang menggendong balitanya itu.


"Habis apa dong, korups1 kali ya? tapi kalau korupsi kan harusnya seragamnya lain yang nangkep?" tanya wanita berdaster itu lagi.


"Gak mungkin dong bu Marpuah, keluarga itu mah hartanya gak bakal habis tujuh turunan delapan tanjakan sembilan pengkolan, gak mungkin lah berbuat korup atau semacamnya!" sahut wanita muda yang terlihat lebih cerdas dari ibu-ibu yang memakai daster itu.


"Lalu apa? kenapa polisi datang ke rumah kakek Praja?" tanya wanita berdaster itu.


Wanita yang menggendong bayi itu pun hanya bisa mengangkat bahunya sekilas sambil sesekali menengok ke arah rumah keluarga Praja. Semua mobil itu sudah masuk di pekarangan rumah besar itu sekarang.


Sementara itu di dalam kediaman keluarga Praja, kakek Praja baru saja minum obat dan hendak beristirahat ke dalam kamarnya. Namun dia di kejutkan dengan suara mobil berhenti di depan rumahnya. Kakek Praja bahkan bisa melihat dari jendela besar yang terbuka, kalau ada mobil polisi juga di sana. Langkahnya pun berbalik, dia kemudian menuju ke ruang tamu.


Di saat yang bersamaan, Luna juga sedang bersiap-siap bersama sang ibu yang akan menghadiri sebuah acara amal yang di selenggarakan oleh perusahaan Praja. Saat itu mereka berdua sedang berada di kamar Luna di lantai dua. Hanya ada tiga orang itu saja di kediaman keluarga Praja saat ini. Karena Adi Praja memang sedang berada di kantor untuk bekerja seperti biasanya.


Suara bel berbunyi, dan seorang asisten rumah tangga dengan cepat berlari untuk membukakan pintu utama. Kakek Praja yang sudah berada di ruang tamu bersama dengan penjaganya Dito berdiri tepat di depan pintu.


Begitu seorang petugas polisi masuk ke dalam, kakek Praja masih bersikap biasa saja karena memang dia tidak merasa pernah melakukan kejahatan apapun.

__ADS_1


Tapi ketika melihat Randy masuk dan di belakangnya seorang petugas polisi membawa seseorang dengan pakaian yang berantakan dan juga wajah yang babak belur lalu tangannya terpasang gelang besi, kakek Praja mulai memasang wajah cemas.


"Selamat siang!" ucap petugas polisi yang ada name-tag nya bertuliskan Nandes.


"Selamat siang!" sahut kakek Praja dengan suara pelan.


Randy pun mengikuti langkah sang polisi hingga berhadapan dengan kakek Praja. Sebelum Nandes menjelaskan, kakek Praja yang langsung menoleh ke arah Randy pun segera bertanya.


"Randy, ada apa ini?" tanya kakek Praja yang wajahnya sudah pucat.


"Kakek Praja, dimana Tante Aline?" tanya Randy yang malah balik bertanya dan tidak menjawab pertanyaan kakek Praja yang tadi.


"Aline?" tanya kakek Praja dengan suara serak dan pelan.


"Tuan Praja, kedatangan kami kemari untuk menangkap saudara Aline Praja, atas tuduhan pelenyapan terhadap nyonya Alisha Randy Hendrawan! ini surat penangkapan nya!" seru Nandes dengan wajah datar tapi serius.


Bak petir di siang bolong, kakek Praja sangat terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh petugas polisi tampan di depannya itu.


Alih-alih meraih surat penangkapan yang di ulurkan oleh Nandes ke arahnya. Kakek Praja justru terhuyung ke belakang dan memegang dadanya yang terasa sakit dengan kuat.


Mata rentanya tak bisa menyembunyikan rasa sakit luar biasa dalam hatinya mengetahui kenyataan sang menantu adalah dalang di balik lenyapnya nyawa seseorang.


Dito dengan cepat menahan kakek Praja dan memapahnya untuk duduk di sofa yang ada di belakangnya.


Lalu Dito meraih surat penangkapan dari Nandes dan memberikannya pada kakek Praja.


Saat kakek Praja sedang membaca surat penangkapan itu. Randy pun bicara.

__ADS_1


"Katakan dimana Tante Aline kek, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dia sudah mencelakai Alisha, dia membayar orang untuk memotong kabel rem mobil Alisha. Aku tidak akan pernah memaafkan nya kek. Dimana Tante Aline, kek?" tanya Randy yang sudah sangat emosional.


"Tenang dulu tuan Randy!" tegur Nandes pada Randy karena dia merasa Randy salah sasaran melampiaskan kemarahannya.


Apalagi melihat wajah kakek Praja yang sudah pucat dan terus memegang dadanya dengan kuat. Nandes takut kalau Randy malah akan membuat masalah baru.


"Tuan Praja, tolong katakan di mana nyonya Aline Praja. Atau kami akan menggeleda4h rumah ini?" tanya Nandes baik-baik.


Sementara itu di lantai dua, Luna dan ibunya juga sempat mendengar suara Randy yang berteriak dari lantai satu tadi.


"Ibu, itu seperti suara Randy? kenapa dia berteriak-teriak?" tanya Luna mendengar suara Randy berteriak namun tidak jelas juga sebenarnya apa yang di teriakan oleh Randy.


Aline yang sedang mencoba berbagai perhiasan pun kemudian meletakkan semua benda yang dia pegang lalu menuju ke arah pintu. Dari kamar Luna, memang tidak bisa melihat apa yang terjadi di rumah tamu di lantai satu. Jadi dia memutuskan untuk keluar dari kamar Luna dan melihat apa yang terjadi.


Namun baru akan menuju ke pagar pembatas yang terbuat dari besi di lantai dua. Langkah Aline langsung terhenti, bahkan dia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Polisi, untuk apa Randy kemari dan membawa polisi?" tanya Aline bergumam pelan.


Aline lalu kembali melihat ke beberapa orang yang ada di sana, dengan tetap berusaha menyembunyikan keberadaan nya tentunya.


Mata wanita paruh baya itu langsung terbelalak lebar ketika dia melihat seseorang yang sempat dia temui lima tahun lalu, dia bayar dengan uang yang jumlahnya lumayan besar untuk melakukan kejahatan, yaitu mencelakai Alisha, istri Randy.


"Pria itu, itu orang bayaran lima tahun lalu. Jangan-jangan polisi dan Randy sudah...!" Aline tak melanjutkan perkataannya.


Aline terburu-buru lari ke arah balkon. Dia tidak memikirkan hal lain selain melarikan diri dari rumah itu agar tidak sampai tertangkap oleh polisi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2