
Malam semakin larut, setelah memastikan Joseph istirahat setelah minum obat dari dokter Jimmy. Dave dan kedua orang tuanya kembali ke acara.
Sementara Shafa masih menemani Joseph. Shafa sudah merasa sangat tenang duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur Joseph di kamar tamu. Shafa memandangi Joseph yang tertidur karena pengaruh obat yang di berikan oleh dokter Jimmy.
Tangan Shafa perlahan terangkat menyentuh tangan Joseph. Shafa menautkan lima jari mereka masing-masing. Senyuman terlukis di wajah wanita cantik yang merupakan putri bungsu keluarga Hendrawan itu.
"Maafkan aku pak tua. Aku yang terlalu over thinking hingga harus membuat mu babak belur begini. Kau tahu tidak, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Pria yang selama sepuluh tahun lebih aku sukai, kini juga sudah menjadi milikku. Restu orang tua dan kakak ku juga sudah aku miliki. Hari ini benar-benar hari yang luar biasa, cepatlah sembuh!" ucap Shafa di depan Joseph yang tengah tertidur.
Shafa bahkan mencium punggung tangan Joseph. Lalu membaringkan kepalanya di lengan kekar Joseph seraya memejamkan matanya yang sembab karena menangis terisak saat Dave memukul Joseph tadi.
Setelah menerima begitu banyak tamu yang memberi mereka selamat. Rizal dan Davina serta Marlina terlihat sangat lelah.
Apalagi Davina, beberapa hari ini dialah yang mengurus semuanya. Meskipun lelah tapi hari ini dia sangat bahagia. Selain karena pernikahan Randy dan Karina, juga Shafa yang sudah menemukan cintanya yang padahal sangat dekat dengannya. Bahkan sejak Shafa berusia 7 tahun, pria itu sudah ada di dekatnya.
Randy juga sudah sangat tidak sabar kapan pesta ini berakhir. Dia terus menerus menggerutu pada Karina, kapan para tamu undangan akan pulang.
"Kenapa masih banyak tamunya, sebenarnya ibu mengundang berapa orang sih? jangan bilang sampai pagi para tamu masih akan datang?" tanya Randy gelisah.
Karina hanya terkekeh pelan.
"Memangnya kamu pernah datang ke pesta pernikahan dini hari?" tanya Karina.
Randy pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nah, mana mungkin juga akan ada tamu lagi. Para tamu itu sedang menghabiskan waktu yang langka dengan teman-teman atau saudara yang bahkan beberapa waktu ini tidak bertemu. Mungkin baru ketika ada acara begini saja mereka bertemu. Maka biarkan saja!" jelas Karina.
"Darimana kamu tahu itu?" tanya Randy.
"Lihat ibu yang memakai sanggul besar yang menggendong balita di sana itu, dan wanita muda yang sejak tadi bahkan belum menyentuh makanan yang ada di mejanya. Aku rasa mereka adalah anak dan ibu yang sudah lama tak bertemu!" terang Karina.
__ADS_1
"Sayang, aku rasa kamu hanya mengarang!" sela Randy.
Karina segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, lihat pria yang ada di meja dengan ibu bersanggul itu, lihat pria yang ada di meja sebelahnya dan juga sepasang paruh baya itu. Mereka terlihat acuh tak acuh satu sama lain. Mungkin saja wanita muda itu adalah putri dari keluarga ibu bersanggul besar itu, lalu yang ada di meja di sebelahnya adalah keluarga suaminya. Mungkin karena suatu hal keluarga suami wanita muda itu dan keluarganya tidak akur. Dan di momen ini mereka bertemu. Lihat wanita bersanggul itu sangat senang bertemu dengan cucunya!" tambah Karina yang menggambarkan situasi yang di lihatnya sejak tadi.
Randy tersenyum, dia benar-benar tak percaya istrinya punya imajinasi sejauh itu.
"Sayang, kamu berbakat sekali. Kenapa tidak jadi narator saja? gajinya besar sayang?" tanya Randy yang sebenarnya menggoda Karina saja.
Tapi sepertinya Karina menanggapi hal ini dengan serius. Karina langsung manggut-manggut.
"Benarkah? lebih besar mana dari gajiku sekarang?" tanya Karina.
Randy langsung mengernyitkan keningnya karena dari cara bicara Karina, terdengar seperti wanita matre.
"Sayang, sejak kapan kamu matre begini?" tanya Randy.
"Ini sifat asliku, bagaimana? apa kamu menyesal menikah dengan ku?" tanya Karina yang juga berniat menggoda Randy.
Randy langsung memeluk Karina karena gemas pada istrinya itu. Membuat Marlina terkejut, dan membuat Davina memukul keras lengan putranya yang terbawa suasana itu.
Plakkk
"Ya ampun Randy, ini masih di atas pelaminan! kamu ini!" geram Davina karena para tamu yang melihat juga tertawa melihat tingkah Randy.
Marlina tersipu malu, Karina langsung mendorong Randy menjauh. Dan pria mantan buaya air payau itu langsung terlihat salah tingkah. Sementara Rizal lagi-lagi harus menggelengkan kepalanya melihat tingkah Randy yang seperti tak bisa mengendalikan dirinya kalau dekat dengan Karina.
Para tamu pun mendapatkan kesan dan hiburan yang tak terlupakan. Hingga sekitar jam sepuluh malam. Pesta pun selesai, dan para tamu juga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing dengan suka cita.
__ADS_1
Semua kembali ke kamar mereka masing-masing. Termasuk pasangan pengantin baru Randy dan Karina. Namun masih ada satu tamu yang nyelip dan tidak mau beranjak ke arah pintu utama.
Jimmy sempat mendengar kalau besok Marlina dan dia adik Karina harus pulang ke desa karena dua anaknya itu harus sekolah dan kuliah. Jadi dia berniat mendapatkan nomer ponsel Isnara sebelum gadis cantik anak Bu RT incarannya itu pulang ke desa.
Jimmy sudah berusaha bicara pada Isnara, tapi tatapan mata Bu RT saat pesta tadi membuatnya selalu tidak bisa bicara secara terus terang dan pribadi. Jimmy hanya berbincang masalah pekerjaan ataupun sekolah Isnara yang baru juga lulus S1. Dan sedang mencari pekerjaan. Tapi sayangnya Isnara tidak kuliah di bidang kesehatan, jadi dia tidak bisa menawarkan pekerjaan di rumah sakit miliknya.
Tapi Jimmy tak kehilangan cara, dia sempat menuliskan pesan lewat selembar tissue pada Isnara. Dan sempat memberikan tissue itu pada Isnara yang bertuliskan kalau Jimmy menunggunya di teras rumah keluarga Hendrawan tepat setelah pesta pernikahan Randy dan Karina selesai.
Jimmy cukup panik, karena sudah lima belas menit berlalu setelah pesta selesai dan keluarga Hendrawan meninggalkan tempat acara. Isnara tak kunjung datang.
Tapi pada akhirnya wajah tegang Jimmy bisa berubah menjadi ceria dengan senyuman karena Isnara perlahan berjalan mendekati ke arah pintu.
"Nara!" panggil Jimmy.
Isnara mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Jimmy. Isnara berhenti saat jaraknya dan Jimmy sekitar satu setengah meter.
"Tuan Jimmy...!"
"Panggil Jimmy saja!" sela Jimmy.
"Iya, Jimmy aku sudah baca pesanmu. Ada apa? kamu bilang ada hal penting yang harus kamu katakan?" tanya Isnara.
"Iya, aku... Nara aku dengar kamu besok akan pulang ke desa. Jadi, bolehkah aku minta nomer mu. Aku... aku rasa aku menyukai mu!"
Pernyataan Jimmy itu sontak saja membuat Isnara membuka mulutnya tak percaya. Tapi beberapa saat kemudian, Isnara mengatupkan bibirnya dengan rapat. Tanpa kata-kata lagi, Isnara bahkan langsung berbalik dan meninggalkan Jimmy begitu saja.
Jimmy pun hanya bisa menghela nafas berat.
"Yah, di tolak!" gumamnya kecewa.
__ADS_1
***
Bersambung...