
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shafa sudah heboh dengan segala persiapannya untuk liburan. Dia bahkan memakai dress pantai dan juga topi pantai juga dengan kaca mata hitamnya sejak keluar dari kamar.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Shafa yang langsung duduk di ruang makan.
Pffffttt
Randy bahkan memuncr4tkan kopi yang baru dia minum melihat adiknya yang penampilannya mengalahkan hebohnya penampilan Syahrini kalau konser.
"Shafa, kamu sehat?" tanya Randy cepat.
Rizal dan Davina saling pandang dan terkekeh kecil. Rizal bahkan terus melihat ke arah Shafa, dia sudah sangat tenang karena Shafa sepertinya sudah kembali pada Shafa yang ceria seperti dulu. Davina juga senang, mungkin ide liburan ini akan sangat bagus untuk ketiga anaknya.
"Kak Randy apa-apaan sih, kalau aku tidak sehat gimana ceritanya aku ada di sini. Aku akan ada di ruangan eksklusif kak Jimmy!" jawab Shafa ketus.
Shafa langsung menyantap sarapannya.
"Oh ya, aku belum bilang padamu kan. Dave, Sila dan Mika tidak jadi ikut!"
"Loh kenapa?" tanya Shafa yang mulutnya masih penuh dengan sarapannya.
"Shafa telan dulu makanan yang ada di mulut ku baru bicara, nanti tersedak!" nasehat Davina pada Shafa.
"Kata Jimmy, tidak baik bagi Sila naik speed boat!" jelas Randy.
Rizal pun mengangguk paham.
"Memang benar, Sila kan sedang hamil. Akan lebih baik dia tidak ikut. Demi keselamatannya dan juga calon cucu ayah!" ucap Rizal.
"Wah, ayah sebentar lagi akan jadi kakek!" sahut Shafa.
"Eh, ralat omongan mu Shafa, ayah dan ibu memang sudah jadi kakek. Mika kan cucu ayah dan ibu juga!" seru Davina.
Shafa pun terkekeh.
"Iya, Shafa lupa. Maaf ya!"
Setelah sarapan Shafa dan Randy sidah siap akan berangkat. Di depan rumah, Joseph bahkan sudah berdiri di teras.
"Loh Jo, kostum apa itu?" tanya Randy yang melihat Joseph pakai setelan jas lengkap.
"Maaf tuan, tugasku menjaga nona Shafa!" jawab Joseph dengan ekspresi wajah datar.
Shafa bahkan sampai menepuk dahinya sendiri.
"Pak tua, kan bisa pakai baju santai seperti kak Randy!" seru Shafa.
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya pakaian santai, Jo?" tanya Randy yang selama ini memang selalu melihat Joseph dengan setelan jas lengkapnya.
Randy mulai berpikir apakah Joseph memang tidak punya pakaian santai. Randy juga berpikir akan membelikannya kalau memang seperti itu keadaannya.
"Ada kok, semalam...!"
Baru Shafa akan bicara, Joseph menyelanya.
"Aku lebih nyaman seperti ini tuan!" Sela Joseph.
Randy langsung mengangguk paham.
"Ya sudah, ayo berangkat. Karena semua perlengkapan dan makanan juga minuman ada di mobil Shafa. Kita berangkat dengan mobil Shafa saja, kita ke rumah Karina dulu!" ujar Randy.
Joseph pun mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Shafa terlebih dahulu, Randy berjalan memutar ke pintu mobil bagian penumpang belakang dari sisi lain.
"Kenapa kamu menyela ku?" tanya Shafa dengan suara pelan pada Joseph.
"Nona, aku hanya tidak ingin tuan Randy salah paham!" jawab Joseph tanpa melihat ke arah Shafa.
"Ck.. dasar pak tua menyebalkan!" keluh Shafa lalu masuk ke dalam mobil.
Joseph pun menutup pintu mobil bagian Shafa lalu bergegas ke kursi kemudi, lalu melajukan mobil Shafa meninggalkan kediaman Hendrawan.
Sepenjang perjalanan Shafa hanya mengobrol dengan Randy dan mengacuhkan Joseph.
"Aku rasa dia mulai menerimaku!"
"Benarkah?" tanya Shafa antusias sekali.
Randy pun mengangguk yakin.
"Semalam dia membuatkan aku mie instan rebus di kontrakan nya!" jelas Randy.
Shafa mengerutkan keningnya.
"Kak, apa kalau di buatkan makan malam itu artinya seseorang sudah membuka hati untuk kita?" tanya Shafa lagi-lagi melirik ke arah Joseph yang juga melihat ke arahnya sekilas.
"Ck... aku tidak tahu. Tapi selama ini Karina kan selalu menolak ku, mengajak masuk ke rumah kontrakannya saja tidak pernah. Semalam dia bahkan bertanya apa aku sudah makan atau belum, aku rasa ini perkembangan yang baik bagiku dan Karina, apalagi dua minggu lagi kami akan menikah. Aku harap saat itu dia benar-benar sudah membuka hatinya untukku, karena jika tidak aku takut aku kembali ke jalan yang salah itu lagi untuk melupakannya!" lirih Randy terlihat begitu sedih.
Shafa langsung merangkul lengan Randy dan menyandarkan kepalanya ke pundak kakak pertamanya itu.
"Kakak jangan bicara begitu. Aku percaya kalau hati kakak, cinta kakak itu tulus untuk kak Karina. Perlahan dia pasti akan bisa merasakannya. Kakak harus tunjukkan padanya kalau kakak benar-benar sudah berubah. Kakak bukan buaya darat lagi...!"
"Shafa!" protes Randy menyela Shafa.
__ADS_1
Shafa terkekeh tapi masih tetap memeluk lengan Randy.
"Pokoknya kakak harus tunjukkan perhatian lebih pada kak Karina nanti, karena aku sudah siapkan liburan ala camping untuk kita. Jadi kakak bisa lebih banyak menunjukkan kalau kakak itu calon suami yang bisa di andalkan di segala medan!" terang Shafa membuat Randy tersenyum.
Setidaknya dia selalu punya keluarganya yang meskipun terkadang sikapnya menyebalkan tapi Dave dan Shafa sangat perduli padanya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah kontrakan Karina. Randy dan Shafa turun dari mobil dan saat Joseph akan turun. Shafa melarangnya.
"Pak tua, jangan turun ya!" seru Shafa.
Shafa sengaja meminta Joseph tetap di dalam mobil agar Randy yang membawakan barang-barang Karina.
Tok tok tok
"Kak Karina, sudah siap belum?" seru Shafa setelah mengetuk pintu rumah kontrakan Karina.
Ceklek
"Selamat pagi!" sapa Shafa dengan ceria.
Karina yang membuka pintu lalu tersenyum pada Shafa lalu pada Randy.
"Selamat pagi!" jawab Karina.
Randy tersenyum melihat penampilan Karina yang sederhana namun tetap menawan menurutnya.
"Tas mu, mana?" tanya Randy.
"Sebentar!"
Begitu Karina mengeluarkan tas ukuran sedangnya, Randy langsung meraihnya dari tangan Karina.
"Biar aku yang bawa!" pinta Randy dan Karina hanya mengangguk lalu mengunci pintu rumah kontrakan nya.
Shafa yang bisa melihat kecanggungan antara Randy dan Karina pun menghela nafas panjang.
'Kalau begini sih, dua minggu juga tidak akan ada perkembangan. Aku harus membantu mereka agar bisa lebih dekat!' batin Shafa.
Saat sudah sampai di mobil, Randy membukakan pintu mobil untuk Karina. Dan saat dia akan duduk di kursi penumpang bagian depan, Shafa lebih dulu membuka pintu mobil bagian depan.
"Kak, aku saja yang di depan!" ucap Shafa. Randy pun tersenyum karena sang adik tahu apa yang ada di pikirannya.
Selama hampir setengah jam dalam perjalanan, Shafa terus memperhatikan Randy dan Karina. Mereka hanya diam setelah bertanya sudah sarapan atau belum. Shafa kembali menghela nafas panjang lagi.
'Ya ampun kak, kalau begini bagaimana mungkin ada kemajuan pada hubungan kalian!' keluh Shafa lagi dalam hati.
__ADS_1
***
Bersambung...