Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 189


__ADS_3

Di apartemen Dave, Sila memaksa Dave hari ini juga membujuk Shafa agar mau bekerja di kantor Dave. Dia juga kan lulusan management bisnis, pekerjaan di kantor Dave juga pasti akan cocok untuk Shafa.


Sebelum sarapan, saat sarapan dan setelah sarapan. Sila terus membujuk Dave.


"Sayang, kan bisa besok. Aku juga belum bilang pada Shafa juga ayah dan ibu. Aku juga harus siapkan posisi yang tepat untuk Shafa di kantor, tidak semudah membalikkan telapak tangan sayang!" jelas Dave pada Sila.


Mendapatkan jawaban seperti itu, Sila langsung memicingkan matanya pada Dave.


"Apa katamu mas? tidak semudah membalikkan telapak tangan? lalu bagaimana caramu dulu membuatku secepat kilat bisa bekerja di perusahaan mu, menjadi sekertaris pribadi mu lagi, coba jelaskan?" tanya Sila dengan pandangan serius.


Saat ini Sila bahkan berada di depan Dave yang sudah bersiap membuka pintu apartemen. Sila melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang Dave dengan sangat serius.


Dave hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Sayang, itu berbeda! saat itu aku tidak memikirkan apapun selain ingin terus berada di dekatmu...!" Dave berbisik di telinga Sila dan membuat Sila mendorong suaminya perlahan.


"Masss!" protes Sila yang malah di goda seperti itu oleh suaminya.


"Apanya yang berbeda? dia adikmu, memang kamu tidak ingin berada di dekatnya dan memastikan dia aman dan baik-baik saja?" tanya Sila.


Dave malah langsung menggelengkan kepalanya dan berkata dengan cepat.


"Tidak"


"Masss!"


"Sayang!"


Sila langsung cemberut saat Dave malah terkesan selalu mencari kesempatan untuk menggodanya.


"Mas, Shafa sedang tidak baik-baik saja. Jika dia sendirian di rumah, bagaimana kalau sampai terjadi seperti hal kemarin itu, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi saat aku menemuinya di kamarnya, dia sedang menangis, dan ada pecahan gelas di lantai. Bagaimana kalau dia terluka?" tanya Sila.


Dave pun mendengarkan istrinya dengan serius. Tapi dia juga harus tanyakan masalah ini pada Shafa.


"Kalau dia bekerja, secara otomatis dia akan di sibukkan untuk memikirkan masalah lain selain masalah rumah tangganya yang pelik itu. Setidaknya dia akan ada pengalihan gitu loh mas!" jelas Sila mengutarakan alasan kenapa dia bersikeras meminta pada Dave agar membujuk Shafa bekerja di perusahaan.


Dave langsung mengusap kepala Sila perlahan lalu mengecup mesra kening istri yang sangat dia cintai itu.

__ADS_1


"Baiklah sayang, aku akan ke rumah ayah dan mengajak Shafa ke perusahaan. Sekarang, apa kamu sudah senang?" tanya Dave dan Sila pun tersenyum.


"Terimakasih mas!" ucap Sila.


Dave pun tersenyum.


'Seharusnya aku yang berterima kasih sayang, dia adikku. Kamu sangat memperhatikan nya, aku sangat senang!' batin Dave.


Setelah ritual cium dan peluk dan salim. Dave pun akhirnya meninggalkan apartemen nya menuju ke rumah ayahnya.


Di dalam perjalanan, Dave bertanya pada Joseph yang sedang serius mengemudi.


"Jo, meja sekertaris yang dulu di pakai Luna sudah di pindahkan belum dari ruangan mu?" tanya Dave.


"Belum tuan karena Anita masih memakai nya untuk meletakkan beberapa dokumen dan dia jadikan meja makan kalau dia makan di ruangannya!" jawab Joseph.


Dave mengangguk paham.


"Bersihkan meja itu ya, siapkan juga fasilitas lengkapnya, laptop dan segala macamnya!" seru Dave.


"Tapi tuan, apa nona Luna akan kembali bekerja di perusahaan. Bukankah...!"


"Bukan Luna Jo, tapi Shafa!" ucap Dave.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Joseph nyaris saja menginjak pedal rem. Tapi kemudian dia menghela nafasnya untuk menetralkan emosi dan sikapnya.


Joseph langsung diam seribu bahasa, dia sudah berusaha menjauhi Shafa. Berusaha mengacuhkannya, tapi kenapa dirinya malah selalu harus berada dekat dengan Shafa.


"Dan kita ke rumah ayah dulu, aku akan mengajak Shafa ke ke kantor hari ini juga!" ujar Dave.


"Baik tuan!" jawab Joseph singkat padat dan cepat.


Dalam perjalanan menuju ke kediaman Hendrawan, Joseph masih terus berusaha bersikap tenang. Meski sebenarnya dia sangat terganggunya, Shafa memang telah mengusik hidupnya beberapa waktu terakhir ini.


Beberapa saat kemudian Dave pun tiba di rumah ayahnya. Kebetulan saat itu semua orang masih ada di rumah.


"Selamat pagi ayah, ibu, kak!" sapa Dave pada Rizal, Davina dan juga Randy.

__ADS_1


"Pagi Dave!" jawab Davina dan Rizal.


"Kamu di usir istrimu? kenapa pagi-pagi sudah kemari?" tanya Randy bercanda.


Tapi ekspresi wajah Dave langsung tidak bersahabat saat Randy mengatakan hal itu padanya.


"Ck... tidak usah memikirkan urusan rumah tangga orang, urusi saja calon istrimu itu. Pikirkan bagaimana cara mendapatkan hatinya, waktu mu tinggal dua minggu lagi!" seru Dave membuat Randy mendengus kesal.


Randy masih belum lupa kalau dia sudah bertaruh dengan Dave. Dalam waktu satu bulan dia akan mendapatkan hati Karina. Kalau dalam waktu satu bulan dia tidak bisa membuat Karina jatuh hati padanya, maka dia akan melepaskan Karina.


Davina yang baru tahu kedua putranya bertaruh pun menjadi sangat penasaran.


"Bertaruh apa? kalian bertaruh apa tentang Karina?" tanya Davina yang ekspresi wajah nya sangat serius.


"Kak Randy bertaruh Bu, dia bilang dalam waktu satu bulan dia akan buat Karina jatuh hati padanya. Kalau gagal dia akan melepaskan Karina dan tidak akan memaksa Karina menikah dengannya!" jelas Dave.


Davina terlihat sangat terkejut. Begitu pula dengan Rizal dan Joseph. Davina langsung berdiri dari duduknya di sekap Rizal dan langsung menghampiri Randy.


Plakk


Davina memukul kepala Randy lumayan keras dan dengan wajah kesal melihat Randy yang mengusap kepalanya yang terasa sakit karena pukulan Davina.


Dave terkekeh, Joseph juga berusaha menahan tawa. Sedangkan Rizal hanya geleng-geleng kepala.


"Ibu kenapa ibu memukul ku?" tanya Randy berusaha memprotes sambil menggosok-gosok kepalanya dengan telapak tangannya.


"Masih tanya lagi! masih bagus aku memukul kepalamu dengan tangan. Aku rasanya ingin memukul kepala mu itu dengan guci besar itu kalau aku kuat mengangkatnya. Kamu ini bodoh atau bagaimana sih Randy, Karina sudah jelas tidak suka padamu sekarang ini, ibu sudah berusaha membujuknya menyetujui pernikahannya dengan mu. Kamu malah bertaruh seperti itu dengan Dave. Kamu ini anak ku atau bukan sih sebenarnya, kenapa tidak bisa berpikir sama sekali. Kalau kamu gagal mendapatkan hatinya Karina, bukankah itu berarti dia tidak akan menikah denganmu. Sekarang ibu tanya, mau dapat dimana wanita sebaik dia? sudah di kasih jalan yang enak malah pilih jalan yang susah. Randy...! kamu ini benar-benar ya!" kesal Davina pada Randy.


"Ibu, kenapa ibu bicara begitu. Masih ada dua minggu Bu. Aku akan berusaha!" bantah Randy.


Davina sangat geram, rasanya dia ingin memukul Randy sekali lagi.


"Dasar bodoh! berbulan-bulan saja kamu tidak bisa membuatnya luluh, apalagi dua minggu. Dave, batalkan taruhan itu!" seru Davina yang sudah pesimis Randy akan menang.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2