
Flashback On
Joseph sedikit merasa aneh dengan bosnya, masalahnya dia berjalan dengan langkah yang sangat lambat begitu meninggalkan ruangan VIP dimana mereka melakukan pertemuan tadi.
Padahal sepengetahuan Joseph Dave tidak pernah seperti itu, langkah kakinya selalu mantap dan pasti. Joseph baru menyadari apa yang terjadi sebenarnya saat beberapa kali dirinya yang memang berjalan di belakang Dave, melihat bos nya itu beberapa kali menoleh ke belakang, ke arah ruang VIP itu.
'Oh, ternyata tuan sangat mengkhawatirkan nona Sila, kalau dia khawatir kenapa malah membiarkan nona Sila bersama dengan dua orang yang telah menyakiti dan mengkhianati nya?' tanya Joseph dalam hati.
Tapi langkah Dave terhenti dengan tiba-tiba. Tentu saja hal itu juga membuat langkah Joseph terhenti. Joseph melihat Dave yang melihat dengan tatapan serius ke arah belakang, Joseph pun mengikuti arah pandangan tuannya itu.
'Nona Susan keluar, bukankah itu artinya nona Sila hanya berdua saja dengan mantan suaminya itu?' pikir Joseph.
"Tuan, jika tuan mengijinkan aku bisa kembali ke sana dengan alasan...!"
Belum Joseph selesai dengan apa yang ingin dia ucapkan. Dave mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Joseph agar dirinya diam.
"Tidak perlu, kita ke mobil saja. Aku percaya Sila bisa menghadapi ini, kalau kita terus membantunya, maka dia tidak akan pernah menjadi tangguh, dia tidak boleh lemah. Karena menjadi pasangan Dave Hendrawan akan banyak sekali hal tak terduga yang akan dia hadapi!" ucap Dave begitu diplomatis lalu meninggalkan hotel menuju ke arah lobby.
Joseph hanya bisa menghela nafasnya mendengar apa yang baru saja Dave ucapkan. Dia pun menghubungi supir dan memintanya untuk segera pergi ke lobby.
Sambil menunggu supir datang membawa mobil, Dave terus melihat ke arah jalan menuju ruang VIP tempat mereka meeting lagi.
'Katanya tidak khawatir, tapi dari tadi pandangan bos terus ke arah sana!' gumam Joseph dalam hatinya.
Sementara itu Dave sendiri merasa sedikit gelisah.
'Sebenarnya apa saja yang mereka berdua bicarakan, kenapa juga wanita itu harus keluar, ck... merepotkan sekali!' Imel Dave dalam hatinya.
Tidak hanya seperti itu, Dave tidak hanya terus memandang ke jalan yang mengarah ke ruang VIP meeting tapi dia juga terus merubah posisinya, duduk satu menit lalu berdiri lagi satu menit, berjalan mondar mandir dan kadang berdiri sambil terus menatap ke arah yang sama.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Dave itu malah membuat Joseph menutup wajahnya sendiri karena jika terus memperhatikan bos nya uang panik, maka dia akan cepat tertular panik juga.
"Jo, cepat hubungi Sila. Bicara masalah seperti itu saja lama sekali!" seru Dave membuat Joseph langsung berdiri.
"Tuan, tapi nona Sila tidak punya handphone. Tuan belum memberikan ponsel yang kita beli tadi padanya, lagipula ponsel baru untuk nona Sila itu ada di kantor!" kelas Joseph panjang lebar.
Dave langsung mengusap kepalanya gusar, karena memang tadi dia yang melarang Joseph untuk memberikan ponsel itu, karena Dave ingin memberikannya sendiri. Tapi kedatangan Luna di kantor membuat Dave melupakan hal itu.
"Huh, ini juga kenapa supir yang membawa mobil kemari lama sekali!" omelnya lagi.
"Tuan, supir sudah ada di depan. Tadi saya sudah bilang pada tuan, tapi...!"
"Kapan kamu bilang?" tanya Dave menyela Joseph.
"Tadi tuan, saat tuan terus mondar mandir melihat ke arah sana!" jawab Joseph sambil menunjuk ke arah jalan yang menuju ruang meeting VIP di hotel ini.
"Ck... makanya bicara jangan seperti perempuan, jadi pria itu bicara harus tegas dan jelas!" ucap Dave yang malah melewati Joseph begitu saja menuju keluar hotel dan menuju ke arah mobilnya berada.
Saat sudah sampai di dekat mobil, supir pun membukakan pintu mobil untuk Dave, dan pria tampan itu pun masuk ke dalam mobil. Saat Joseph akan masuk ke dalam mobil juga, Dave pun berkata.
"Heh, kenapa malah ikut masuk, kamu kembali ke sana, tunggu di lobby saja. Jika dalam lima menit Sila tidak datang, susul dia dan katakan aku masih banyak pekerjaan!" ucap Dave memberikan perintah kepada Joseph.
Dan pria dengan badan tegap dan wajah garang itu pun tanpa membantah langsung mengikuti perintah dari Dave.
Sambil berjalan ke arah lobby, Joseph malah terkekeh kecil.
"Masih bilang tidak khawatir!" gumam Joseph pelan.
Flashback Off
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di perusahaan Dave Hendrawan. Joseph tidak mau sampai dia terlambat lagi membukakan pintu mobil untuk Sila. Dia turun dengan cepat dan membukakan pintu mobil untuk Sila, sedangkan supir membukakan pintu mobil untuk Dave.
Mereka bertiga kemudian masuk bersama ke dalam perusahaan. Banyak sekali karyawan yang melihat ke arah Dave dan juga Sila. Masalahnya Dave berjalan terlalu dekat dengan Sila, biasanya dia akan menjaga jarak sekitar satu meter jika berjalan dengan Anita, atau Anita akan berada di belakang Dave. Tapi kali ini semua orang melihat Sila berjalan di samping Dave dengan jarak kurang dari satu meter, tapi lebih dari setengah meter. Tentu saja hal itu membuat banyak karyawan yang menghentikan langkah dan aktivitas yang mereka kerjakan untuk melihat hal itu.
"Eh, lihat siapa perempuan itu. Kenapa dia berjalan dekat sekali dengan bos besar, apa dia tidak tahu kalau bos besar itu alergi..!" ucap salah seorang karyawati yang berkacamata.
"Hus!" sela karyawati yang ada di sebelahnya sambil melambaikan tangan.
"Bukan alergi, Mhysophobia. Itu loh penyakit langka yang gak ada obatnya!" tambah teman wanita berkacamata itu.
Wanita berkacamata itu manggut-manggut tapi dia masih penasaran dengan Sila. Begitu pula dengan karyawan bahkan beberapa OB juga terdiam melihat pemandangan langka itu.
Menyadari kalau banyak yang memperhatikan mereka bertiga, Joseph lalu memanggil Sila.
"Nona Sila!" panggil Joseph.
Tapi saat Sila menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Joseph, Dave juga melakukan hal yang sama. Dia juga berhenti dan menoleh ke arah Joseph seperti yang dilakukan oleh Sila. Melihat Dave juga menoleh, Joseph langsung membungkuk kan sedikit badannya dan berkata.
"Maaf tuan, sebaiknya nona Sila berjalan di belakang bersama ku, para karyawan lain sepertinya...!"
Joseph menjeda kalimatnya dan melihat ke arah karyawan lain. Pandangan Dave pun menuju ke arah yang sama dengan Joseph.
"Lihat apa kalian?" bentak Dave dengan nada begitu tinggi dan wajah yang begitu dingin.
Membuat para karyawan langsung lari tunggang-langgang dari tempatnya dan menghilang dalam sekejap dari pandangan Dave. Sila terkejut, dia memegang dadanya dengan kuat, karena dia yang berada di samping Dave tentu saja yang paling terpengaruh pada suara tinggi Dave itu.
"Sudah beres!" ucap Dave bangga lalu kembali mengajak Sila berjalan.
"Ayo Sila!" ucapnya.
__ADS_1
***
Bersambung...