
Joseph sudah melaporkan semua pada Dave, dan Dave pun segera memerintahkan Oman untuk menangkap Ilyas dan Dani. Karena untuk langsung menangkap Feri, mereka butuh bukti yang lebih banyak. Bukan hanya mengatakan sekedar mendengar dari apa yang dikatakan Karina. Apalagi sekarang Karina tidak berada bersama mereka. Feri bukan orang yang mudah, karena dia merupakan salah satu orang yang cukup punya nama di antara para pengusaha senior. Tapi hal itu juga tak membuat Dave dan anak buahnya lantas gentar. Mereka bertindak cepat karena hal ini juga menyangkut keselamatan Karina.
Oman bekerja dengan cepat, dia mendatangi rumah Dani dan Ilyas dan segera menangkap mereka. Pertama, Oman mendatangi rumah Dani. Dani langsung di seret ketika dia baru saja selesai mandi, dengan masih memakai balutan handuk sebatas pinggang, Oman dan anak buahnya Roy langsung menyeret Dani ke mobil yang ada di depan rumah Dani tanpa perduli dia sudah berpakaian atau belum.
Beberapa orang melihat kejadian itu hanya terbengong, karena kejadian itu begitu cepat. Dani bahkan masih bingung dengan apa yang terjadi. Dia bahkan tidak kepikiran minta tolong pada orang-orang yang sedang menyaksikan dirinya di seret dari rumah nya sendiri ke sebuah minibus hitam milik Oman.
Sementara anak buah Oman yang lain memeriksa rumah Dani. Setelah itu Oman langsung memukul tengkuk Dani hingga pria itu pingsan.
Sementara itu Joseph terus berusaha mencari keberadaan minibus yang membawa Karina berserta dengan semua anak buahnya.
Oman lalu berpindah ke rumah Ilyas. Tapi saat tiba di rumah Ilyas, pria itu sedang bermain dengan anak lelakinya yang berusia mungkin sekitar 6 atau 7 tahun. Oman mendengus kesal.
"Ya ampun, aku harus berakting menjadi pria baik hati. Roy, belikan eskrim di mini market itu!" seru Oman memerintahkan Roy membelikan eskrim.
Meski Roy bingung untuk apa bos nya itu memintanya membelikan eskrim, tapi Roy tetap berangkat. Beberapa menit kemudian Roy datang dengan plastik yang lumayan besar. Oman langsung mengambil bungkusan itu dan menyuruh Roy serta anak buahnya yang lain tetap menunggu di dalam mobil. Kebanyakan dari mereka berta*to jadi Oman memintanya menunggu di mobil.
Meskipun niatnya ingin membawa Ilyas, tapi dia tidak mau anak Ilyas yang sudah pasti tidak tahu apa-apa ketakutan nantinya.
"Ilyas!" panggil Oman.
Ilyas yang melihat siapa yang telah memanggilnya, langsung berdiri dan menyembunyikan anaknya di belakangnya.
"Hei, ada apa? apa aku terlihat seperti penjahat?" tanya Oman.
"Tuan Oman, untuk apa tuan kemari?" tanya Ilyas yang sudah mempunyai perasaan tidak enak.
Ilyas tahu kalau Oman adalah orang kepercayaan Dave, tapi orang yang selalu bekerja di belakang. Itulah yang membuat Ilyas semakin takut kalau mungkin saja semua perbuatannya sudah ketahuan. Dan itu memang benar.
"Aku kebetulan lewat, aku dari minimarket itu. Aku tidak tahu kalau rumah mu di sini! itu anakmu?" tanya Oman berbasa-basi.
Tapi belum sempat Ilyas menjawab Oman langsung maju mendekati Ilyas.
__ADS_1
"Ini, untukmu!" ucap Oman pada anak Ilyas.
Anak kecil itu terlihat senang dan langsung mengambil semua eskrim yang ada di plastik yang di bawa oleh Oman. Kemudian anak itu berlari ke dalam rumahnya.
Ilyas menghela nafas nya lega, dia pikir apa yang dikatakan oleh Oman adalah benar. Dia hanya kebetulan lewat dan melihat dirinya. Tapi kelegaan Ilyas itu tidak berlangsung lama, karena Oman langsung berbisik padanya.
"Dani sudah ada di dalam mobil, bersikap baiklah. Aku yakin kamu tidak ingin anak dan istrimu yang tengah hamil besar itu mengetahui semua perbuatan buruk mu ini kan?" tanya Oman yang membuat Ilyas langsung banjir keringat dingin dan gemetaran.
'Habislah aku!' batin Ilyas ketakutan.
"Masuk ke dalam mobil!" seru Oman dan dengan langkah gemetaran serta sesekali melirik ke arah rumahnya Ilyas pun masuk ke dalam minibus.
Di dalam minibus, Ilyas terkejut melihat kondisi Dani yang bahkan belum memakai pakaian.
Setelah berada di dalam minibus, Oman langsung minta anak buahnya melakukan mobil itu. Oman membuka laptopnya dan merekam ke arah Ilyas.
"Katakan semua yang kamu tahu tentang usaha Feri membe*lot" seru Oman dengan tatapan tajam.
Dengan keringat dingin, Ilyas akhirnya membeberkan semua yang dia tahu. Juga semua bukti yang ada padanya tapi di simpan di rumah Dani agar anak istrinya tidak tahu.
Setelah selesai merekam, Oman lalu memukul kepala Ilyas dengan kesal.
"Dasar tikus tidak berguna! Anji*Ng saja bisa setia pada majikan mereka yang memberi makan mereka. Kamu sudah di beri gaji bertahun-tahun oleh tuan Dave malah berbuat seperti ini!" geram Oman.
Oman meskipun tampangnya selenge*an tapi dia sama sekali tidak suka pada orang yang tidak setia.
Ilyas terlihat sangat ketakutan, dengan sudut bibir yang sudah robek dan mengeluarkan darah, air matanya juga ikut mengalir.
"Sekarang katakan kemana kalian membawa nona Karina?" tanya Oman masih dengan tatapan garang.
"Katakan!" bentak Oman yang bahkan membuat Dani yang pingsan sampai terbangun.
__ADS_1
Begitu bangun Dani tampak bingung dan terus memegangi tengkuknya yang terasa sakit.
"Ilyas, ada apa ini?" tanya Dani.
"Jangan banyak bicara, katakan dimana kalian akan membawa nona Karina!" teriak Oman yang semakin kesal.
"Me.. mereka akan melemparkan Karina ke jurang!" jawab Ilyas ketakutan.
Mata Oman langsung melotot.
"Ke jurang mana?" tanya Oman yang sangat marah mendengar jawaban Ilyas.
"Jurang jalan xxx!" jawab Ilyas gemetaran.
"Siall, kalian ini manusia bukan sih. Breng*sek!" maki Oman yang langsung meraih ponselnya.
Oman langsung menghubungi Joseph.
"Katakan!" jawab Joseph dengan cepat.
"Mereka bilang, Karina akan di lemparkan ke jurang jalan xxx, cepat Jo. Lokasi ku sangat jauh dari sana!" seru Oman yang terdengar mulai cemas karena lokasinya saat ini memang sangat jauh dari tempat itu.
Oman langsung menatap tajam ke arah dia pria di depannya itu.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada nona Karina, habis lah kalian!" geramnya membuat Dani dan Ilyas saling pandang dengan tangan dan kaki yang sudah gemetaran.
Sementara itu Joseph yang sudah tahu kemana para penjahat itu membawa Karina langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
'Karina, tunggu sebentar lagi... aku datang!' batin Joseph yang terus memacu kecepatan mobilnya ke level kecepatan maksimal.
***
__ADS_1
Bersambung...