
Seperti yang telah di minta oleh Sila padanya, Joseph pun segera menghubungi dokter Jimmy. Sila yang sudah di panggil oleh Dave segera menghampiri nya.
Sambil menunggu Jimmy menerima panggilan telepon darinya, Joseph yang melihat Diah berusaha mengangkat tas besar milik Mika langsung mendekatinya.
"Diah, letakkan saja di situ. Bawa saja tas yang ringan. Aku akan membawanya nanti setelah menelepon. Kamu langsung ikuti tuan dan nyonya saja, tapi ingat untuk menjaga jarak dengan tuan!" seru Joseph yang langsung di balas anggukan kepala oleh Diah.
Diah langsung meletakkan tas yang berat, dan hanya membawa tas jinjingnya yang ukurannya tidak terlalu besar dan berjalan dengan setengah berlari menghampiri Sila, Dave dan Mika yang sudah masuk ke dalam lift. Tapi Sila masih menahan pintu lift dengan tangannya agar pintu lift tidak tertutup sebelum Diah masuk ke dalam. Setelah Diah masuk ke dalam lift, baru pintu lift tertutup.
Sementara itu Joseph harus kembali mengulangi panggilan pada Jimmy karena panggilan pertamanya tadi tidak di angkat oleh dokter Jimmy.
"Halo Jo!" sapa Jimmy yang baru saja menjawab panggilan dari Joseph.
"Ke apartemen tuan sekarang juga? nyonya Sila yang minta!" seru Joseph langsung pada apa yang ingin dia sampaikan pada Jimmy.
"Hei, kenapa aku harus ke sana? siapa yang sakit? Sila atau tuan mu, heh dengar aku sedang sibuk, aku akan datang sekitar dua atau tiga jam lagi ya!" ucap Jimmy yang memang punya banyak pekerjaan di rumah sakit miliknya.
"Kata nyonya datang sekarang, kalau kamu mau datang dua jam lagi aku akan menjemputmu...!"
"Heh, untuk apa repot-repot menjemput ku. Iya iya aku akan datang!" ucap Jimmy menyela ucapan Joseph dan langsung memutuskan panggilan telepon dari Joseph.
Joseph lalu menyimpan ponselnya lagi di saku jasnya. Kemudian dia mengangkat tas Mika lalu berjalan menuju ke arah lift.
Dave dan Sila sudah mengajak Mika masuk ke dalam apartemen milik Dave.
"Sayang, Daddy akan menunjukkan kamar mu!" ucap Dave yang menggandeng tangan Sila dan mengajaknya ke kamarnya.
Semalam Dave sengaja mengajak Sila menginap di apartemen Dave untuk menata salah satu kamar yang ada untuk kamar Mika. Semua barang-barang di sana di sesuaikan dengan kesukaan Mika. Dari warna dindingnya, wallpaper sampai tempat tidur dan meja belajar semua sesuai dengan karakter kartun kesukaan Mika. Yaitu beruang madu, beruang kutub dan juga panda.
__ADS_1
Sila lalu menunjukkan kamar untuk Diah.
"Mbak Iyah, kamar mu di sana di sebelah kanan ruang makan, istirahat lah dulu dan rapikan pakaian mu. Aku yang akan mengurus Mika!" ucap Sila yang langsung di balas anggukan kepala paruh oleh Diah.
Sila lalu menyusul Dave dan Mika ke kamar Mika.
"Lihat, apa kamu suka?" tanya Dave yang sudah membuka pintu kamar Mika dan mengajak Mika masuk ke dalam kamarnya.
Mika terlihat senang, mata gadis kecil itu berbinar.
"Wah, Panda... Ice bear, dan Grizzly..!" teriak Mika senang dan langsung memeluk guling besar berbentuk beruang madu yang ada di atas tempat tidurnya yang berbentuk kepala panda.
"Daddy, terimakasih!" ucap Mika sambil memeluk kaki Dave dengan tangan sebelahnya masih menyeret boneka beruang madu yang lebih besar dari tubuh Mika sendiri.
Dave langsung menggendong Mika.
"Daddy bilang apa?" tanya Mika dengan polosnya.
Dave langsung terkekeh dan menurunkan Mika. Dia lupa kalau gadis kecil yang masih berusia 4 tahun itu tidak pernah dan belum belajar bahasa Inggris. Jadi dia tidak mungkin mengerti dengan apa yang Dave ucapkan tadi.
Sila yang melihat kedua orang yang dia sayangi itu hanya tersenyum di dekat pintu.
***
Sementara itu di kantor Dave, Anita dan Karina sejak tadi berusaha untuk bersikap tenang dan biasa saja. Anita sudah beberapa kali mencoba menghubungi Dave tapi tidak juga di angkat. Lagipula kalau dia ingin melaporkan perbuatan Feri, maka dia juga butuh bukti. Karena jabatan Feri cukup tinggi, dan pasti banyak orang yang berdiri di belakang Feri saat ini. Hingga Anita tidak bisa gegabah.
Sambil menunggu Dave dan Joseph kembali ke kantor. Anita menyarankan pada Karina agar bersikap sangat biasa, karena kemungkinan Feri memang tidak melihat Karina. Kalau dia melihatnya, dia pasti akan mengejar Karina. Tetapi sepertinya hal itu tidak terjadi. Jadi Anita minta agar Karina tetap bersikap biasa saja.
__ADS_1
Saat jam istirahat, Anita kembali menghampiri Karina. Dengan alasan mengajaknya makan siang bersama, Anita mengajak Karina ke kantin kantor dengan posisi meja paling pojok yang jarang di lewati oleh karyawan lain.
"Bagaimana? apa ada yang aneh dari sikap pak Feri?" tanya Anita yang memang sejak tadi mencemaskan Karina.
Karina langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sampai saat ini tidak ada, pak Feri bahkan tadi sempat memintaku ke ruangannya, tapi dia hanya minta laporan harian. Sikapnya juga seperti biasanya. Mungkin dia memang tidak melihat ku!" jawab Karina yang masih terlihat gugup tapi berusaha untuk tetap tenang.
Anita pun menghela nafas lega.
"Syukurlah, kalau begitu. Kita akan tunggu tuan Dave dan tuan Joseph. Oh ya, bukankah biasanya tuan Joseph menjemput mu, sebaiknya cepat katakan padanya tentang masalah ini ya, sejak tadi aku hubungi mereka tidak bisa!" ucap Anita memberi saran pada Karina.
Dan Karina pun langsung menganggukkan kepalanya pertanda paham. Dia juga tidak ingin terus merasa ketakutan seperti ini. Tapi setidaknya dia merasa sedikit lega karena seperti apa yang dikatakan oleh Anita. Joseph akan menjemput nya saat pulang nanti. Jadi dia merasa tenang karena bersama Joseph dia pasti aman.
"Ya sudah, kita kembali bekerja. Ingat untuk tetap bersikap biasa dan jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Kita belum tahu, mana saja yang kawan dan mana saja yang lawan!" ujar Anita yang lagi-lagi mencoba menasehati Karina.
Karina pun kembali mengangguk paham. Setelah itu mereka pun keluar dari kantin. Tapi tanpa mereka sadari sejak tadi sudah ada dua orang dengan kemeja kerja dan dasi memperhatikan dan mengawasi mereka berdua.
"Apa mungkin wanita itu sudah mengatakan nya pada Anita?" tanya salah seorang pria yang berkacamata.
"Mungkin, tapi seperti kata bos. Kita hanya perlu menyingkirkan perempuan itu, dia karyawan baru. Kalau Anita, jika tidak ada perempuan itu, Anita juga tidak punya bukti apapun!" jawab rekannya.
Kedua pria itu adalah anak buah Feri. Ternyata Feri memang tidak mengejar Karina, dia malah ke ruang CCtv dan melihat rekaman CCtv yang ada di pantry perusahaan koridor yang mengarah ke gudang. Dari rekaman CCtv itu, Feri tahu kalau Karina lah yang mendengarkan percakapan nya dengan seseorang melalui telepon saat dia berada di dalam gudang.
***
Bersambung...
__ADS_1