
Shafa masuk ke ruang tengah meninggalkan Luna yang mendengus kesal dan menatap sinis padanya.
‘Lihat saja Shafa Hendrawan, sampai kapan kamu akan bisa bersikap sombong seperti itu padaku. Setelah aku menjadi nona muda kedua di keluarga ini, kamu bahkan tidak mungkin bisa hidup tenang di rumah ini' batin Luna yang begitu percaya diri kalau sebentar lagi dia akan segera menjadi nona muda kedua di keluarga Hendrawan.
Sementara itu, Shafa hanya langsung duduk di sebelah ayahnya yang sedang sibuk berbincang dengan Adi Praja, suami dari Aline.
“Shafa, setidaknya kamu harus menyapa tamu kita terlebih dahulu kan. Kenapa sikapmu seperti itu?” tanya Rizal berbisik pelan pada Shafa.
Shafa langsung berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya sambil memberi salam dan menyapa ke arah Adi Praja.
“Selamat sore om, selamat datang di kediaman Hendrawan, apa kabarnya om?” tanya Shafa yang terkesan sangat berlebihan.
Dan apa yang di dilakukan Shafa itu membuat Davina menghela nafasnya panjang. Dan tersenyum canggung pada Aline.
“Shafa!” tegur Rizal lagi.
Shafa langsung menoleh ke arah sang ayah.
“Kenapa lagi sih yah? Tadi Shafa langsung duduk salah, sekarang sudah menuruti permintaan Ayah memberi salam dan menyapa tamu kita juga salah? terus Shafa harus gimana dong?” tanya Shafa pada Rizal yang membuat pria paruh baya itu menatap serius putri bungsunya itu.
Davina yang tidak mau semakin di permalukan akibat Shafa yang sepertinya sengaja membuat ulah. Langsung menegur anaknya itu.
“Shafa sayang, cepat ganti baju dan siap-siap. Nanti kita langsung ke rumah sakit menjenguk kakak mu Randy. Sekalian saling memperkenalkan dua calon menantu ibu. Karina dan juga Luna. Cepat lah!” seru Davina membuat Shafa mengernyitkan keningnya.
‘Ibu benar-benar ya, kalau Karina sih aku masih oke jadi kakak iparku, tapi kalau ratu drama itu. Iyuh...!’ batin Shafa yang bahkan melihat ke arah Luna saja dia sudah merasa ada ulat bulu yang meray4p di tangannya.
Membuatnya sangat tidak nyaman dan merasa jijik.
‘Aku tidak akan biarkan ini terjadi, sangat tidak rela ya kalau kak Dave yang tampan dan rupawan itu menikah dengan ratu drama ini!’ batin Shafa lagi yang langsung bergegas ke kamarnya tanpa ada basa-basi dengan Rizal juga Davina. Apalagi pada keluarga Praja yang datang.
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Shafa langsung meraih ponselnya. Shafa menghubungi Dave.
“Ya!” jawab Dave yang langsung cepat menerima panggilan itu ketika tahu Shafa yang menghubungi nya.
“Kak Dave, dengarkan aku baik-baik. Apa ayah dan ibu memintamu datang ke rumah sakit malam ini?” tanya Shafa.
__ADS_1
“Darimana kamu tahu?” tanya Dave yang sedikit heran kenapa Shafa bertanya seperti itu.
Mendengar jawaban Dave, Shafa jadi semakin kesal pada ibunya.
“Kak dengar, nenek sihir itu akan mengenalkan Karina dengan Luna, sekarang di rumah sudah ada Om Adi, wanita tua genit, dan juga ratu drama....!”
Shafa menjeda kalimatnya ketika mendengar Dave terkekeh di ujung telepon sana.
“Kakak, bukan waktunya tertawa!” protes Shafa.
“Habis kamu bilang Tante Aline seperti itu, wanita tua genit ha ha ha !” Dave kembali tertawa.
“Jangan bahas itu dulu, sekarang pertunangan mu sudah tidak bisa di hindari lagi, sudah ada Om Adi dan ayah. Kalau mau tidak menikah dengan ratu drama maka Kak Dave harus membawa calon istri pilihan kakak sendiri ke rumah sakit nanti malam. Siapa saja lah, yang penting jangan sampai pertunangan kakak terjadi dengan ratu drama itu. Anita atau siapalah...!”
“Kenapa harus membawa calon istri, aku bahkan sudah menikah!” jawab Dave.
Shafa yang tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dave hanya memutar bola matanya.
“Oh katakan itu di depan ayah dan nenek sihir. Kalau bisa harus sangat meyakinkan ya!” balas Shafa.
Shafa menghela nafas berat.
“Ck... Aku akan percaya kalau kak Dave bisa menyentuh wanita, sudahlah pokoknya bawa wanita mana saja yang penting jangan sampai kakak menikah dengan ratu drama itu!” ucap Shafa yang langsung memutuskan panggilan telepon dengan kakak keduanya, Dave.
Shafa pun membanting dirinya di atas tempat tidur.
“Punya istri, sudah hamil... menyentuh wanita saja tidak pernah. Bagaimana bisa hamil kalau tidak di sentuh!” gerutu Shafa tak percaya pada apa yang tadi dikatakan oleh Dave.
Sementara itu di kantornya, Dave sedang menghubungi Sila. Dia merasa ini adalah momen yang tepat untuknya memperkenalkan Sila pada keluarganya. Sudah tidak ada yang perlu di cemaskan lagi, karena hak asuh Mika sudah di tetapkan secara mutlak pada Sila. Jadi walaupun Sila terbukti sudah menikah lebih cepat dari Hadi. Hadi juga tidak akan bisa menuntut hal itu lagi.
Di Mall, dimana Sila sedang menunggu Karina selesai makan...
Sila meraih ponsel yang ada di dalam tasnya karena sejak tadi ponsel itu terus berdering. Begitu Sila melihat siapa yang menghubunginya, Sila tersenyum senang lalu menerima panggilan telepon dari Dave.
"Halo mas!" sapa Sila.
__ADS_1
"Sayang, nanti malam jam 7 kamu harus bersiap-siap ya. Aku akan bawa kamu menemui keluargaku!" ujar Dave.
Mata Sila membulat sempurna.
"Malam ini mas?" tanya Sila yang merasa sangat gugup. Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya Dave membawanya pada mertuanya. Sila sangat gugup.
"Iya sayang, kamu tahu tidak malam ini kedua orang tua akan bertemu, kedua calon menantu pilihan ibu akan di pertemukan. Kamu tahu artinya apa?" tanya Dave.
"Apa mas?" tanya Sila.
"Jika kamu tidak mau, maka suami mu ini akan di nikahkan dengan orang lain...!"
"Aku mau mas, aku akan siap tepat jam 7 malam!" ucap Sila menyela ucapan Dave.
Dave terkekeh kecil, dan terdengar oleh Sila yang membuat wajahnya menjadi merona. Tentu saja Sila tidak mau suaminya di nikahkan dengan orang lain. Padahal itu juga tidak mungkin, Dave hanya menggodanya saja. Padahal Dave juga tidak akan membiarkan siapapun memaksakan kehendaknya pada dirinya.
"Baiklah sayang, aku akan menjemputmu nanti malam. Aku mencintai mu?" ucap Dave.
"Aku juga mencintai mu!" sahut Sila lalu memutuskan panggilan telepon Dave.
"Ekhem...!" Karina yang sudah selesai makan sampai berdehem.
Ternyata Sila tidak mengetahui kalau sejak tadi Karina memperhatikan dirinya.
"Aku juga mencintaimu Sila, I love you !" ucap Karina menggoda Sila sambil terkekeh dan bibir yang di mony0ng-mony0ngkan ke arah Sila.
Sila langsung menepuk dahinya melihat tingkah Karina.
"Karina, apa kamu yakin akan setuju dengan rencana pernikahan mu dengan Randy?" tanya Sila yang memang tidak setuju dengan hal itu.
Mendengar pertanyaan Sila Karina yang tadinya terkekeh menggoda Sila langsung diam dan beberapa detik kemudian dia menjawab.
"Apa aku boleh menolak?" tanya Karina dengan suara berat.
***
__ADS_1
Bersambung....