
Ketika Vincent melihat Joseph, dia merasa sangat kesal.
"Sialll!" pekik Vincent dalam hati.
Vincent punya firasat tidak baik tentang kedatangan Joseph.
Joseph yang melihat keadaan Shafa langsung berlari menghampiri Vincent yang masih berada di atas tubuh Shafa.
Tanpa pikir panjang Joseph langsung menarik kerah baju Vincent dan langsung menghadiahkan bogem mentah di wajah Vincent.
Bagh... bugh.... bagh... bugh...
Bukan hanya sekali atau dua kali, Joseph menghadiahi Vincent dengan belasan kali pukulan di wajah dan perutnya.
"Bren9sek!!" pekik Joseph yang sangat marah melihat apa yang sudah di lakukan oleh Vincent pada Shafa.
Vincent yang mendapatkan pukulan bertubi-tubi di wajah, dan perutnya. Meringis menahan sakit, dia bahkan nyaris tak bisa berdiri.
Joseph lalu beralih ke arah Shafa yang sudah tak berdaya, dengan jubah mandi yang sudah tak menutupi bagian tubuhnya. Joseph terlihat sangat sedih, matanya sudah merah dan berkaca-kaca melihat tubuh Shafa yang polos dan terus menggeliat tak karuan, nona yang sejak kecil dia jaga di perlakukan seperti ini oleh pria yang statusnya adalah suaminya sendiri. Pria yang seharusnya menjaga Shafa dan kehormatan juga harga dirinya, malah berbuat serendah ini pada nona mudanya.
Dengan cepat Joseph membenarkan jubah mandi Shafa lalu menggendong nya.
"Lepaskan aku... hiks!" Shafa yang memejamkan matanya meminta agar di lepaskan dengan air mata di sudut matanya yang terpejam.
Hati Joseph hancur melihat Shafa seperti itu, dalam keadaan seperti itu. Tangan Shafa terus berusaha memukul dada Joseph padahal sudah tidak bertenaga. Shafa kira itu adalah Vincent.
"Nona, nona buka matamu. Ini aku, Joseph!" seru Joseph yang sudah mengalir setitik air mata dari sudut matanya.
Shafa yang mendengar suara Joseph membuka matanya.
"Joseph!" lirih Shafa sebelum dia pingsan.
Mata Joseph langsung menatap tajam ke arah Vincent yang berusaha berdiri serta mengusap darah yang keluar dari sudut mulutnya.
"Jangan ikut campur Joseph, dia istriku!" seru Vincent dengan nada marah pada Joseph.
"Kamu harus jelaskan semua ini pada keluarga nona Shafa, suami macam apa yang menyiksa istrinya sendiri seperti ini!" geram Joseph.
__ADS_1
"Lepaskan dia sialan, dia istriku!" pekik Vincent berusaha menghentikan Joseph membawa Shafa pergi.
Tapi sebelum Vincent bisa mendekatinya, Joseph langsung menendang Vincent hingga tersungkur dan terbatuk-batuk.
"Kamu yang sialan, pria licik. Jelaskan semua pada keluarga nona Shafa nanti, dan jelaskan juga tentang perjanjian pernikahan kalian!" pekik Joseph yang langsung bergegas membawa Shafa meninggalkan Villa milik Vincent.
Melihat Shafa di bawa pergi oleh Joseph, dan dirinya tidak bisa berbuat banyak karena sudah di buat babak belur oleh Joseph. Vincent merasa sangat marah.
"Shafa!!" teriak Vincent mengusap kepalanya gusar. Karena setelah ini dia pasti akan mendapatkan masalah besar.
Sementara itu, Joseph sudah meletakkan tubuh Shafa di dalam mobil. Di jok bagian belakang, dia merebahkan Shafa yang masih pingsan di sana. Juga menyelimuti tubuh Shafa yang masih menggunakan jubah mandi dengan jasnya.
Joseph lalu melajukan mobilnya meninggalkan villa milik Vincent. Dalam perjalan pulang Joseph langsung menghubungi dokter Jimmy.
"Iya Jo, kenapa Dave sakit lagi?" tanya Jimmy yang menduga-duga.
"Dokter, apa yang harus ku lakukan pada wanita yang menderita karena mengkonsumsi obat perangs4ng?" tanya Joseph dengan cepat tanpa menanggapi apa yang tadi Jimmy tanyakan padanya.
"Jo, ada kemajuan. Kamu mau menjebol siapa?" tanya Jimmy sangat antusias.
"Mau yang menyenangkan atau merepotkan?" tanya Jimmy membuat Joseph nyaris membanting ponsel yang dia pegang karena kesal.
"Mau katakan, atau ketika kamu berada di hadapan ku jangan harap gigimu masih utuh!" gertak Joseph yang kesal pada Jimmy.
Bisa-bisanya dalam situasi yang genting seperti sekarang ini dokter Jimmy masih bertele-tele dan membuat dirinya makin geram saja.
"Ck, kalau mau enak, jebol saja dia. Kalau mau susah ya bawa ke rumah sakit! tapi kalau dia sudah sampai pingsan, mungkin dia hanya bisa bertahan kurang dari satu jam sebelum terjadi sesuatu...!"
"Kami di pegunungan akan sulit untuk membawanya kurang dari satu jam, apa tidak ada cari lain. Cepat dokter Jimmy!" seru Joseph Yang semakin panik karena Shafa sudah pingsan.
"Hah, apa yang kamu lakukan Jo? anak siapa yang kamu bawa ke pegunungan, di kasih obat seperti itu lagi, kamu ganas sekali Jo...!"
"Jimmy!" bentak Joseph.
Jimmy yang mendengar namanya di sebut tanpa embel-embel dokter pun mulai menganggap serius kepanikan Joseph.
"Baik, baik. Dengar kalau dia sudah pingsan, biasanya dia akan beberapa kali terbangun. Dia akan kepanasan. Kalau mau menghilangkan penderitaan yang dia rasakan kamu mang harus berhubungan dengannya, tapi kalau kamu tidak mau, maka usahakan menjaga suhu itunya tetap dingin...!"
__ADS_1
"Itu apa?" tanya Joseph menyela ucapan Jimmy karena belum paham.
"Suhu seluruh tubuhnya nya, usahakan tetap dingin. Seperti saat seorang pria mengalami puncak yang tak bisa di lepaskan, bukankah cara terbaik adalah dengan mandi air dingin!" jelas Jimmy.
Joseph langsung memutuskan panggilan telepon saat dia mendengar Shafa melen9uh.
"Tolong..." lirih Shafa sambil menggeliat tak karuan.
"Nona, bertahan lah!" gumam Joseph yang tidak fokus karena sering menoleh ke arah Shafa.
Joseph sangat cemas, tapi dia juga tidak ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tugasnya adalah menjaga dan melindungi Shafa, bukan menyakitinya atau malah menyentuhnya.
Joseph mengendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Wajah Shafa sudah sangat merah dan nafasnya juga tereng4h-eng4h. Joseph tahu kalau Shafa pasti sangat menderita.
Joseph mendengar ada suara air di dekat jalan yang dia lewati. Dia ingat ada sebuah air terjun di sana. Joseph langsung menghentikan mobilnya lalu menggendong Shafa dan berlari ke arah air terjun. Dengan tetap menggendong Shafa, Joseph membiarkan air terjun itu mengguyur tubuh mereka berdua. Dinginnya air terjun di malam hari yang sedingin es itu membuat Shafa perlahan-lahan membuka matanya dan mendapatkan kembali sedikit demi sedikit kesadarannya.
Tangan Shafa mulai menyentuh wajah Joseph yang basah karena air terjun. Kedua pasang mata saling berpandangan.
"Nona, kamu sudah sadar?" tanya Joseph terlihat menghela nafas lega.
"Kamu datang?" tanya Shafa yang air matanya kembali mengalir meski tak terlihat jelas karena bercampur dengan air terjun.
Joseph mengangguk perlahan. Setelah yakin Shafa sudah lebih baik, Joseph pun segera membawanya ke dalam mobil lagi. Dengan keadaan basah kuyup, Joseph segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit milik Jimmy.
Setibanya di rumah sakit, Joseph berlari ke dalam rumah sakit terlebih dahulu dan meminta selimut pasien pada seorang perawat. Setelah mendapatkan nya Joseph baru menyelimuti tubuh Shafa yang mulai menggigil lalu menggendong nya ke ruang pemeriksaan dokter Jimmy.
Jimmy yang langsung masuk keruangan karena mendapatkan pemberitahuan dari perawat kalau Joseph sudah datang segera memakai Snelli putihnya.
"Jo, jadi apa yang kamu pilih menjebolnya atau menyiksanya?" tanya Jimmy yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Joseph.
"Hei, kenapa melotot seperti itu. Memang gadis malang mana yang sudah kamu PHP? sudah di beri obat tapi malah di bawa ke rumah sakit bukan di je...!" Jimmy menjeda kalimatnya karena terkejut dengan wanita yang telah berbaring lemah di atas ranj4ng pasien.
"Shafa!" pekik Jimmy terkejut.
***
Bersambung...
__ADS_1