
Shafa memandangi Joseph yang terlihat salah tingkah di depan Shafa.
'Pak tua, masih bilang tidak menyukai ku. Kata sandi pintu rumahnya bahkan tanggal lahir ku. Tapi kalau bertanya lagi padanya, dia pasti akan berkilah dan mungkin saja mengganti kata sandinya. Hem... biarkan saja lah. Yang penting aku tahu kalau sebenarnya di hatinya ada tempat untuk ku!' batin Shafa.
Sementara Joseph memalingkan pandangannya dari Shafa. Sebenarnya tanggal lahir Shafa mudah di ingat itu saja alasannya, tidak seperti Dave dan Randy, juga tanggal lahirnya sendiri. Tapi karena kedekatan mereka beberapa waktu ini membuat Joseph mulai berpikir kenapa saat itu, saat dia akan mengatur kata sandi pintu apartemennya, yang terlintas adalah tanggal lahir Shafa.
Saat ini Joseph bahkan gugup karena dia tahu seperti apa agresifnya Shafa padanya. Kalau dia tahu tanggal lahirnya adalah kata sandi pintu apartemennya. Joseph mungkin tidak bisa berdalih lagi kalau Shafa memang sangat berarti baginya.
"Kata sandi itu? pak tua! aku minta royalti atas tanggal ulang tahun ku yang kamu pakai sebagai kata sandi!" seru Shafa membuat Joseph tak percaya kalau hal itu yang akan di katakan Shafa padanya.
"Royalti nona?" tanya Joseph bingung.
"Iya, royalti. Setiap bulan kamu harus memberikan aku setangkai bunga!" ucap Shafa lalu meninggalkan Joseph yang masih diam mematung.
'Dia memang tidak akan menyerah dengan mudah!' batin Joseph.
Joseph menghela nafas panjang dan mengikuti Shafa. Joseph pun mengantarkan Shafa ke rumahnya.
Sementara itu di rumah kontrakan Karina, Randy sedang berada di luar rumah, duduk di kursi kayu yang ada di teras. Menunggu Karina yang sedang menyiapkan minuman untuknya. Sebenarnya setelah mengantarkan Karina tadi, Randy sudah pulang. Tapi karena Dave memberinya kabar kalau dia tidak bisa ikut liburan karena Jimmy mengatakan Sila tidak boleh naik speed boat, Randy kembali ke rumah Karina untuk menjelaskan tentang hal itu.
"Ini minuman untukmu!" seru Karina sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja di sebelah Randy.
Karina juga ikut duduk di kursi yang ada di sebelah meja.
"Ada apa sebenarnya, kenapa kamu kembali lagi?" tanya Karina karena Randy tak kunjung bicara tujuannya apa datang lagi ke rumah kontrakan Karina.
"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Randy.
Karina terdiam, sebenarnya dia sudah makan mie instan tadi setelah pulang kerja. Tapi dia lihat Randy masih mengenakan baju yang sama sepertinya dia belum makan malam.
"Kamu belum makan malam?" tanya Karina.
__ADS_1
"Sebenarnya belum, tapi kalau kamu sudah...!"
"Aku belum belanja, di rumah hanya ada mie instan. Apa kamu mau?" tawar Karina pada Randy.
Mendengar tawaran Karina, Randy benar-benar seperti mendapatkan durian runtuh. Dia sama sekali tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Randy pun langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, aku mau!" jawab Randy cepat.
"Sebentar ya!" ujar Karina lalu kembali masuk ke dalam rumah Kontrakan.
Dia memang sengaja tidak mempersilahkan Randy masuk ke rumah kontrakan nya karena tidak ingin ada kesalahpahaman dari para tetangga.
Beberapa menit kemudian, Karina keluar dengan semangkuk mie instan rebus di tangannya. Juga ada sebuah telur mata sapi di atas mie itu.
"Ini!" ucap Karina singkat dan meletakkan mangkuk itu di dekat minuman yang dia siapkan untuk Randy tadi.
Tak lupa Karina juga masuk ke dalam lagi untuk membawakan air putih untuk Randy. Randy mencoba mie instan buatan Karina, dia merasa kalau itu adalah makanan paling lezat yang pernah dia makan. Randy bahkan tidak perduli saat lid4hnya kepanasan karena kuah mie yang memang masih panas.
"Apa kamu tidak pernah makan mie instan?" tanya Karina.
"Sering, tapi tidak ada yang seenak ini!" jawab Randy yang lanjut memakan mie instan di depannya.
Karina terdiam, selama beberapa Minggu ini Randy memang selalu bersikap lembut dan baik padanya. Randy bahkan tidak pernah lagi bersikap seperti dulu yang main pegang tangan Karina begitu saja.
'Apa dia memang sudah berubah?' tanya Karina dalam hati.
Setelah selesai menghabiskan mie instan buatan Karina bahkan tanpa sisa meskipun hanya kuahnya sedikit pun. Randy lalu meminum air putih sampai habis satu gelas. Lidahnya terasa kebas.
"Aku sebenarnya ingin mengatakan padamu, tadi kita kan sudah bicarakan tentang liburan ke pulau itu. Liburan bersama Dave, Sila juga Shafa. Tapi ternyata Jimmy tidak memperbolehkan Sila pergi, kehamilannya masih sangat muda. Dan naik speed boat itu sama sekali tidak di sarankan. Jadi Dave dan Sila tidak jadi ikut kita liburan, kalau memang kamu tidak nyaman, maka kita bisa juga membatalkan acara liburan itu?" tanya Randy yang sebenarnya berat mengatakan itu pada Karina.
Karena sebenarnya ide liburan itu memang adalah idenya.
__ADS_1
Karina terdiam, jika Dave dan Shafa juga Mika tidak ikut. Maka yang akan pergi pasti hanya Randy, dirinya, Shafa dan mungkin saja Joseph karena Dave menugaskannya menjaga Shafa. Tapi masalahnya dia sudah berjanji pada Shafa, dia tidak mungkin membuat Shafa sedih jika membatalkan nya. Lagipula Shafa di skorsing karena dirinya.
"Tidak usah di batalkan, aku akan ikut!" jawab Karina.
Tanpa sadar Randy langsung meraih kedua tangan Karina yang berada di atas meja. Randy menggenggamnya dengan erat.
"Terimakasih Karina, aku senang kamu... oh maaf!" Randy langsung melepaskan tangan Karina begitu menyadari kalau dia menggenggam tangan Karina tanpa ijin.
"Karina, aku sungguh tidak sengaja. Aku hanya terlalu senang. Aku tidak bermaksud tidak sopan padamu!" Randy terus meminta maaf karena takut Karina marah padanya.
Karina hanya mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu tidak sengaja!" ucap Karina.
Randy sedikit heran, karena Karina mulai bersikap lembut padanya.
"Benarkah?" tanya Randy memastikan.
Karina kembali mengangguk. Randy tersenyum senang.
"Baiklah, aku akan pulang dulu. Besok pagi aku akan menjemputmu!" ucap Randy.
Karina hanya mengangguk sekali dan Randy pun meninggalkan rumah kontrakan Karina. Saat akan masuk ke dalam rumah, Karina menoleh ke arah mobil Randy yang perlahan menjauh dari pandangannya.
'Mungkin memang sudah saatnya memberinya kesempatan, bukankah setiap orang itu berhak mendapatkan kesempatan kedua!' batin Karina lalu masuk ke dalam rumah kontrakan nya dan menutup pintu rumah itu serta menguncinya.
Sepanjang perjalanan Randy tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia sudah tidak sabar menunggu besok.
'Dia tidak menolak meskipun tahu Sila tidak ikut, apa dia memang sudah membuka hatinya untukku? Aku sungguh berharap memang seperti itu!' gumam Randy dalam hatinya.
***
__ADS_1
Bersambung...