
Selain keributan kecil di rumah Vincent, pagi cerah di apartemen Dave itu juga sangat berbanding terbalik di rumah besar Hadi Tama.
Susan pagi-pagi sekali sudah mendatangi Hadi Tama. Dengan membawakan sarapan pagi untuk Hadi. Tapi sayang, niatnya tidak tulus. Saat Hadi tengah sarapan dan mengira Susan sudah menyesali apa yang dia lakukan kemarin, ternyata apa yang dipikirkan Hadi itu salah.
Susan yang menemani Hadi di meja makan malah kembali membujuk Hadi untuk tetap menyelenggarakan pesta pernikahan mereka dengan meriah. Hingga Hadi Tama membanting sendok yang ada di tangannya ke atas piring. Membuat Haris dan Murti yang ada juga di sana sedang sarapan juga, terdiam dan langsung menoleh ke arah Hadi Tama.
"Jadi pagi-pagi kamu datang, sangat rapi, sangat cantik, membawakan aku sarapan hanya untuk itu?" tanya Hadi kesal.
Susan yang mendapatkan tatapan tajam dari Hadi dan juga tatapan kesal dari Murti pun segera memegang tangan Hadi yang ada di atas meja.
"Mas, coba pikirkan ini. Kalau kita batalkan acara mewah kita, apa kata orang-orang mas? kita akan malu?" tanya Susan pada Hadi dengan suara pelan.
Hadi yang kesal pada pemikiran Susan itu langsung berdiri dari duduknya.
"Jadi mana yang menurutmu lebih tidak enak, malu? atau tidak punya uang ke depannya?" tanya Hadi Tama sambil berkacak pinggang di depan Susan.
"Ada apa sih ini?" tanya Murti yang mulai kesal pada dua orang pasangan yang baru akan menikah beberapa minggu lagi itu.
Haris yang malas mendengarkan perdebatan Hadi dan Susan malah langsung berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruang makan.
"Wanita ini Bu, dia sudah membuat kesalahan dengan cari masalah dengan suami baru Sila. Dia sudah membuat ku rugi milyaran rupiah, sekarang dia masih mau pesta pernikahan yang megah dan mewah. Lalu darimana aku akan dapatkan uangnya?" tanya Hadi Tama setelah menjelaskan pokok permasalahannya pada Murti.
Murti tidak fokus pada permasalahan keuangan dan pesta pernikahan Hadi, dia malah fokus pada kalimat Hadi yang mengatakan kalau Sila sudah menikah.
"Jadi Sila sudah menikah?" tanya Murti pada Hadi.
Ada tatapan sesal dan kesedihan saat Murti menanyakan itu pada Hadi.
"Iya, dan apa ibu tahu. Entah keberuntungan apa yang dia miliki. Hingga bisa menikah dengan CEO paling kaya di kota ini!" jawab Hadi sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Sesungguhnya Hadi juga tak habis pikir tentang hal itu. Istri yang dia tinggalkan dan dia jebak demi Susan, malah bisa menjadi keluarga keluarga Hendrawan.
Murti terdiam.
'Itulah kesalahanmu dan ibu, Hadi. Kita tidak menyadari betapa berharganya Sila saat dia bersama kita. Sekarang kamu bisa lihat kan, betapa keberuntungan Sila itu sangat besar!' batin Murti yang hanya bisa menunduk sedih.
Susan yang makin kesal dengan apa yang dikatakan Hadi yang malah terkesan memuji mantan istrinya ikut berdiri dari duduknya.
"Mas, kalau kita tidak jadi mengadakan pesta resepsi pernikahan yang besar, dan mewah. Aku akan mogok makan!" gertak Susan membuat Hadi yang tadi mengusap wajahnya menatap ke arah Susan dengan tatapan mata yang makin tajam.
"Apa kamu gil4 Susan? apa kamu mau menyiksa anak kita yang ada di kandungan mu? dasar egois!" bentak Hadi.
Hadi yang sudah kehilangan n4fsu makannya memilih meninggalkan ruang makan, namun ketika Susan akan mengikutinya Hadi kembali membentak Susan.
"Jangan ikuti aku, aku mau pergi bekerja. Cari uang! bukan sepertimu yang cuma tahu menghamburkan uang!" bentak Hadi membuat langkah Susan berhenti.
Hadi Tama bahkan sangat kesal hingga dia tak lagi memikirkan untuk mengambil jas di dalam kamar. Dengan kemeja yang dia pakai dan tas yang sudah ada di ruang tamu, Hadi langsung berangkat ke perusahaan meninggalkan rumahnya.
Murti yang bahkan melihat Hadi berangkat kerja tanpa pakaian lengkapnya menjadi kesal pada Susan.
"Hadi sampai marah seperti itu, apa sudah puas kamu mencari masalah?" tanya Murti kesal.
Susan hanya melirik sekilas ke arah Murti. Dia yang masih bersandiwara menjadi calon menantu yang baik tidak ingin menunjukkan emosinya, sebenarnya dia juga sangat kesal pada calon ibu mertuanya itu.
"Memangnya kenapa kalau hanya pesta sederhana? sudah bagus di buatkan pesta. Apa kamu mau pesta besar-besaran tapi setelah itu kalian terlil1t banyak hutang dan tidak punya uang, tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan. Memangnya kamu bisa pastikan anak yang kamu kandung itu nanti akan sehat dan baik-baik saja?" tanya Murti yang sebenarnya hanya memberikan contoh pada Susan.
Tapi Susan malah menanggapi apa yang Murti katakan itu sebagai sump4h serapah.
"Ibu ini bagaimana sih, kenapa malah menyump4hi anak yang aku kandung ini kenapa-napa. Maksud ibu apa?" tanya Susan dengan nada kesal dan tak terima.
__ADS_1
Murti yang terkejut Susan menanggapi apa yang dia katakan dengan emosi pun coba untuk menjelaskan kalau yang dia maksudkan bukan itu.
"Ibu hanya mengatakan kemungkinan yang...!"
"Hah, sudahlah. Aku tahu ibu memang tidak pernah menyukai ku. Percuma juga bicara pada ibu!" ucap Susan menyela Murti dan langsung meninggalkan rumah Hadi.
Beberapa waktu berlalu, Hadi sudah sampai di perusahaan nya. Deni yang melihat Hadi hanya pakai kemeja saja pun menegurnya saat akan masuk ke dalam ruangan wakil CEO.
"Hadi, kenapa pakaian mu seperti itu? di usir oleh calon istrimu?" tanya Deni dengan sedikit bercanda pada Hadi.
"Diam kamu!" balas Hadi dengan kesal.
Tapi ketika Hadi masuk ke ruangannya di ikuti Deni. Hadi terpana pada sosok wanita cantik yang sedang mengelap meja kerja Hadi dengan posisi menunduk hingga pemandangan indah itu terlihat jelas oleh Hadi.
Deni yang memang berada di belakang Hadi yang masih memegang handel pintu pun tidak seberuntung Hadi, dan tidak bisa melihat apa yang Hadi lihat.
Menyadari Hadi masuk ke ruangan itu, Rosa langsung berdiri dengan benar dan memberi salam pada Hadi.
"Selamat pagi pak!" sapa Rosa dengan senyum manisnya.
"Pagi Rosa!" ucap Hadi yang sedikit merasa tenang setelah melihat senyum manis dan wajah cantik Rosa.
"Wah Rosa, kamu rajin sekali. Sekertaris Hadi yang lama mana pernah membersihkan meja dan membuatkan minum sepagi ini untuknya!" ucap Deni yang langsung di lirik tajam oleh Hadi.
"Kalau tidak ada urusan, keluar sana!" ketus Hadi pada Deni.
"Iya iya!" ucap Deni yang langsung keluar dari ruangan itu padahal sebenarnya dia juga belum masuk ke dalam ruangan Hadi karena dari tadi Hadi masih berdiri di depan pintu menghalangi Deni.
***
__ADS_1
Bersambung...