Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 212


__ADS_3

Saat Mila dan Susan mendatangi ruang makan, Murti sudah tidak ada disana. Susan yang masih berniat mencari keributan dengan calon ibu mertuanya di cegah olah Mila.


"Sudah, lebih baik kamu ganti pakaian lalu ikut dengan ibu!" seru Mila menahan tangan Susan.


"Kemana Bu?" tanya Susan.


"Kemana lagi tentu saja mencari Hadi!" tegas Mila.


"Mau cari kemana Bu? aku sudah menghubungi teman ku yang satu bedeng kontrakan dengan pelakor itu, katanya dia sudah tidak tinggal di sana lagi.


Mila pun mendengus kesal.


"Ck... kalau begitu ini akan sulit, sudahlah ini sudah malam. Kamu tidur saja, ibu akan menginap di sini. Menjagamu dari ibu mertuamu yang tukang cari ribut itu!" kesal Mila.


Sekarang hubungan mereka benar-benar tidak baik. Murti benar-benar sudah tidak bisa lagi tertipu sandiwara Susan dan ibunya. Dia sudah kapok di bohongi berulang kali. Sementara Susan juga sudah malas bersandiwara di depan kedua calon mertuanya itu, dia merasa sudah punya hal yang teramat sangat kuat untuk mengikat Hadi, yaitu calon anaknya.


***


Sementara itu Dave dan Sila juga baru saja selesai makan malam. Setelah itu Dave kembali ke ruang kerjanya bersama Oman. Sila pun membuatkan teh hangat dan mengantarkan nya pada suaminya di ruang kerja Dave.


Tapi saat Sila akan masuk dia tidak sengaja mendengar laporan Oman mengenai keluarga Oberen yang sudah sampai di luar kota.


"Mereka sudah berada di kota B, dan sedang berada di rumah sakit untuk merawat Vincent...!"


Laporan Oman belum selesai, Sila sudah menyelanya.


"Memangnya kenapa dengan Vincent? kenapa dia harus di rawat di rumah sakit?" tanya Sila yang kemudian meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kerja Dave.


Mendengar Sila bertanya seperti itu, Dave langsung melotot ke arah Oman yang sedang menunggu isyarat dari tuannya itu harus menjawab apa pada Sila.


Masalahnya Sila pasti akan kesal kalau sampai Dave tidak mau mendengarkan larangannya untuk tidak memukuli Vincent sebab dirinya sedang hamil. Kata ibunya dan juga Niken memang banyak sekali hal yang harus di jauhi atau menjadi sebuah pantang4n bagi seorang suami ketika istrinya sedang hamil. Itu juga berlaku bagi Sila.


"Sayang, dia hanya mabuk kendaraan dan hipotermia. Mereka pergi ke kota B dengan mobil box eskrim. Tentu saja mereka kedinginan berada di dalam freezer selama beberapa lama!" jelas Dave sedikit gugup.


Sila langsung melirik ke arah Oman. Dan Oman langsung salah tingkah melihat Sila yang menatapnya curiga.


"Kenapa mereka tidak matikan saja freezer nya? apa mereka tidak bisa pikirkan hal itu?" tanya Sila yang memang tidak percaya seratus persen pada ucapan Dave.

__ADS_1


"Mereka kan sedang panik, mana kepikiran hal itu nyonya!" kali ini Oman mencoba untuk membantu tuannya.


Sila mengangguk paham.


"Lalu bagaimana dengan perceraian mereka?" tanya Sila lagi.


Dave yang tidak mau istrinya berubah menjadi mode interog4si pun memutuskan untuk menyuruh Oman pergi. Setelah Oman keluar dari ruangan kerja Dave. Dave merangkul Sila dan mencium pipinya lembut.


"Sayang, semua sudah beres. Meskipun Vincent sudah pergi jauh, tapi dia sudah menandatangani semua pernjanjian perceraian. Tidak usah cemas!" jelas Dave membuat Sila menghela nafas lega.


"Mika sudah tidur belum?" tanya Dave lembut.


"Sudah mas, dia kelelahan hari ini main dengan Dion dan Tasya!" jawab Sila.


"Bagaimana dengan mu? kamu lelah atau tidak hari ini?" tanya Dave lagi.


"Em, tidak terlalu. Aku hanya membantu kak Niken membuatkan camilan untuk...!" Sila menjeda kalimatnya.


Wajah Sila memerah, karena dia baru menyadari apa maksud suaminya. Melihat Sila terdiam dan tersipu, Dave langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan merebahkannya di sofa ruang kerjanya.


Belum Sila selesai bicara, Dave sudah membungkam mulut Sila dengan bibirnya. Tak sampai di situ saja, Dave pun bergegas mengunci pintu ruang kerjanya dan kembali ke arah Sila dengan membuka satu persatu kancing kemejanya. Sila hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Kelihatan nya Dave sangat menginginkan nya, dan pasti tidak akan selesai dengan cepat.


***


Sementara itu di pulau, Shafa sedang duduk di ruang santai yang ada di lantai dua. Dia sedang bersama dengan Joseph.


"Aku berterima kasih padamu pak tua, karena mu, kak Randy dan kak Karina sekarang bisa bersama di gazebo depan. Itu bagus untuk lebih mendekatkan mereka!" ucap Shafa.


Sebenarnya tadi mereka berniat makan malam berempat di gazebo itu, namun mendadak Joseph dapat telepon dari Oman. Dan Joseph mengatakan kalau itu telepon dari Rizal yang ingin bicara dengan Shafa. Saat mereka menjauh, hujan turun dengan deras lagi. Shafa dan Joseph kembali ke paviliun sedangkan Randy dan Karina masih berada di gazebo yang ada di depan berjarak sekitar 200 meter dari paviliun.


Joseph yang juga duduk di sofa di depan Shafa hanya tersenyum singkat.


"Sama-sama nona, aku ikut senang kalau hubungan nona Karina dan juga tuan Randy semakin dekat!" jawab Joseph.


Namun ketika Shafa mendengar Joseph berkata seperti itu. Shafa pun tersenyum getir.


"Apa ucapan itu dari hatimu pak tua?" tanya Shafa membuat Joseph menatap bingung ke arah Shafa.

__ADS_1


Shafa menundukkan kepalanya, kemudian dia kembali menatap Joseph dengan tatapan yang terlihat sedih.


"Aku tahu kamu pernah menyukai kak Karina, iya kan?" tanya Shafa.


Sekarang giliran Joseph yang tampak sedih tatapannya mendengar Shafa bicara seperti itu.


"Aku tahu itu Jo, sejak pertama kali aku datang ke kantor. Perhatian yang kamu tunjukkan pada kak Karina, bahkan aku pun tidak pernah mendapatkan perhatian yang semacam itu. Jujur saja aku sedih saat mengetahui hal itu, aku yang sudah bertahun-tahun bersama mu, dekat dengan mu, menyatakan cinta berulang kali padamu. Kamu bahkan tidak pernah memandang ku sekali pun. Tapi kak Karina yang baru datang beberapa minggu, kamu bahkan menaruh hati padanya." Shafa menjeda kalimatnya.


Joseph pun hanya menatap Shafa dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.


"Jika kamu tanya apa aku sempat iri pada kak Karina, itu benar. Aku sangat iri padanya, aku juga kesal padamu. Tapi setelah mengenal kak Karina aku malah merasa aku yang seharusnya sadar diri, jika kakak ku dan kamu bisa menyukainya itu artinya dia sangat istimewa bukan?" tanya Shafa yang sebenarnya tidak ingin jawaban dari Joseph.


"Aku tahu dia pernah membuatkan makanan untukmu, kalian sering makan siang berdua di kantin kantor... !" Shafa mulai berkaca-kaca dan kembali menjeda kalimatnya.


"Apa aku terlihat bodoh sekarang? aku bahkan tidak bisa memasak dengan benar, bagaimana mungkin kamu akan memandang ku?" tanya Shafa yang kemudian berdiri.


Shafa berniat pergi karena air matanya sudah tidak mampu dia tahan lagi. Dia juga tidak ingin menangis di depan Joseph. Karena itu dia berniat untuk pergi.


Tapi ketika Shafa melangkah, Joseph mengehentikan nya dengan menahan tangannya. Shafa bahkan tidak menyadari sejak kapan Joseph berdiri dan menghampiri dirinya.


"Nona!" panggil Joseph pelan.


Shafa masih tidak menoleh, sebab dia tahu kalau dia menoleh maka air matanya pasti akan jatuh. Jangan tanya tentang rasa sakit yang sudah di alami hati Shafa. Berkali-kali di tolak, berkali-kali pula rasa sakit itu menghampiri hati Shafa.


Karena Shafa tidak menoleh ke arahnya, tidak berbalik menghadapnya. Entah keberanian darimana. Joseph pun melepaskan tangan Shafa dan memeluknya dari belakang.


Deg deg deg


Shafa bahkan tidak percaya kalau Joseph melakukan hal itu. Mata Shafa membulat sempurna, membuat air matanya akhirnya jatuh juga.


"Maafkan aku yang selama ini tidak berani menjangkau mu, tapi setelah kamu resmi bercerai dengan tuan muda Oberen. Aku berjanji, aku yang akan mengejar mu!"


Deg deg deg


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2