
Bughhh
"Sialannnn... beraninya kau berbuat kurang ajar seperti itu pada adik ku!" pekik Dave penuh amarah.
Bughhh
"Apa kau tidak menganggap ku lagi, Jo?" teriak Dave.
Jika saja tidak ada suara musik yang dimainkan para pemain musik. Sudah pasti teriakan Dave itu akan terdengar oleh semua orang yang ada di tempat itu. Batasnya benar-benar hanya sebuah dinding pembatas saja yang membatasi wilayah kolam renang kediaman Hendrawan.
Bughhh
"Aku bahkan sudah menganggap mu saudaraku, bren9sek!!" Dave bahkan sampai meneteskan air matanya ketika memukul Joseph seperti itu.
Bughhh....
Joseph terhuyung dan jatuh ke lantai saat Dave tanpa perduli pada Myshopobia nya memukuli Joseph dengan wajah yang menunjukkan kalau dirinya sangat marah.
Shafa menangis terisak di pinggir kolam renang, melihat pria yang dia cintai di pukuli sedemikian rupa oleh kakak kandungnya sendiri. Setiap pukulan yang mendarat di wajah dan tubuh Joseph serasa menyakiti tubuhnya juga.
Shafa sudah tidak tahan lagi, dia pun melupakan semua rasa takutnya dan langsung berlari memeluk Joseph.
"Hiks... maafkan aku pak tua, semua ini karena aku yang pengecut. Hingga kamu terluka dan babak belur begini!" ucap Shafa yang menyeka darah yang menetes di pelipis Joseph dan di sudut bibir pria itu.
"Shafa!" lirih Dave yang tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Dave yang tangannya sudah terluka karena kulit Joseph memang keras dan kasar pun hanya bisa mengepalkan tangannya. Dengan air mata yang terus menetes dia melihat adiknya memeluk pria yang bahkan sudah hampir kehilangan kesadarannya itu karena pukulan yang bertubi-tubi dari Dave.
Shafa pun menoleh ke arah Dave.
"Iya kak, aku mencintainya. Aku mencintai Joseph. Kamu berdua saling mencintai.. hiks... hiks!" ucap Shafa mengakui perasaannya pada sang kakak.
Dave bukan main terkejutnya. Mulutnya terbuka, tapi dia benar-benar tak sanggup untuk berkata-kata. Matanya terus meneteskan air mata, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Karena Dave tak pernah menyangka akan hal ini. Adiknya jatuh hati pada Joseph. Jangankan menyangka hal itu, memikirkan nya saja sama sekali tak terlintas di kepala Dave.
Shafa merangkul Joseph yang sudah terduduk lemas di lantai.
"Semua ini bukan salah Joseph kak, aku yang mengejarnya. Kalau kakak ingat aku pernah mengatakan ada pria yang aku cintai saat aku berusia 17 tahun, itu adalah Joseph. Dan kalau kakak ingat ada pria yang menolak ku hingga membuatku menerima lamaran Vincent. Itu adalah Joseph kak, aku sudah mencintainya sejak waktu itu kak... !"
__ADS_1
Dugh
Dave terduduk lemas di lantai dengan bertumpu pada kedua lututnya. Dave benar-benar syok.
Sementara itu Sila yang sudah meninggalkan mereka sejak pukulan pertama Dave pada Joseph dan mencari Rizal dan Davina. Akhirnya menemukan mereka di tengah tempat acara. Mereka sedang bercengkrama dengan tamu undangan yang hadir.
Sila langsung menyentuh lengan ibu mertuanya pelan.
"Ibu, tolong ikut aku. Ini sangat urgent!" ucap Sila berbisik di telinga ibu mertuanya.
Davina langsung terkejut, dengan cepat dia menoleh ke arah Sila. Dan Davina makin cemas, saat melihat wajah Sila yang pucat dan panik.
"Ada apa? kenapa wajahmu terlihat begitu panik?" tanya Davina.
Rizal yang mendengar sekilas ucapan Davina juga meminta diri pada tamu yang sedang dia ajak ngobrol. Dengan cepat dia menghampiri istri dan menantunya itu.
"Mas Dave dan Joseph, mas Dave memukul Joseph !"
Mata Davina dan Rizal sama-sama melebar. Davina bahkan membuka mulutnya lebar.
"Dimana mereka?" tanya Rizal dengan cepat.
Rizal pun tanpa menunggu Davina dan Sila segera menuju ke arah kolam renang. Dia tidak bisa percaya hal ini, Dave memukul Joseph. Itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Pasti ada hal yang sangat besar di balik semua ini.
Davina juga terlihat cemas, dia dengan cepat mengikuti langkah Rizal yang cepat. Sila yang mau menyusul pun merasa kelelahan, hingga dia berhenti sebentar dan menyeka keringatnya.
"Huh, sayang. Kamu yang kuat ya, kita sedang berusaha untuk kebahagiaan Tante dan om kamu. Ya sayang!" ucap Sila mengusap-usap pelan perutnya.
Setelah menghela nafas sejenak, Sila pun kembali mengikuti langkah Davina yang menyusul Rizal yang bahkan sudah tidak terlihat lagi oleh Sila.
Rizal yang sudah tiba di tempat itu langsung terbelalak kaget. Melihat Shafa memeluk Joseph yang babak belur. Dan Dave yang terduduk lemas di lantai.
"Apa-apaan ini, Dave apa ini?" tanya Rizal yang terlihat sangat marah.
Bagaimanapun juga dia merasa kecewa pada ketiga orang di depannya itu. Mereka membuat keributan di saat yang tidak tepat. Dimana seluruh keluarga, dan kolega hadir di kediaman Hendrawan.
Dave sama sekali tidak menjawab. Dia masih sangat syok dengan pernyataan Shafa.
__ADS_1
"Shafa! Joseph! ada apa dengan kalian?" tanya Rizal yang tak mendapatkan jawaban dari Dave.
Shafa bahan hanya terus menangis dan tak berani bicara pada ayahnya.
"Shafa... ayah, dia...!" Dave mulai mengeluarkan kata-kata tapi menjedanya karena dia masih menahan emosinya.
Pikiran Dave benar-benar kacau, dia masih belum bisa menerima apa yang dikatakan Shafa tadi. Bagaimana mungkin, orang yang di anggap saudara sendiri olehnya, orang yang setiap menit bersamanya. Dia bisa tidak menyadari kalau orang itu tengah menjalin hubungan dengan adik kandungnya.
Rizal langsung menarik lengan Dave, membuat putranya itu berdiri.
"Shafa kenapa? kenapa kamu memukul Joseph?" tanya Rizal yang sudah sangat kehabisan kesabaran nya.
"Aku mencintai Joseph ayah! aku mencintai Joseph hiks.. hiks..!" ucap Shafa mengakui perasaannya di depan sang ayah sambil memeluk erat Joseph yang sudah nyaris pingsan.
Davina yang baru saja sampai di tempat itu langsung menghentikan langkahnya. Bak petir di siang hari, Davina benar-benar di buat terkejut dengan pengakuan Shafa barusan. Sama halnya dengan Rizal yang bahkan sudah melepaskan tangannya dari Dave. Dia hanya menatap nanar ke arah putri bungsunya dan juga pria yang sudah terluka parah itu. Pria yang bahkan kalau dia mau, pria itu bisa menahan serangan Dave dengan mudah. Tapi dia membiarkan dirinya babak belur di tangan Dave.
Rizal juga bisa melihat kalau putri kesayangannya itu benar-benar tulus dan jujur dari dalam lubuk hatinya saat mengatakan itu. Rizal benar-benar tak bisa berkata-kata.
Sila pun tiba di tempat itu, dia melihat tangan Dave terluka. Dengan cepat dia menghampiri Dave dan meraih tangan suaminya itu.
"Mas, kamu terluka!" ucap Sila.
Lalu Sila berpikir, kalau tangan Dave saja begitu, lalu bagaimana dengan Joseph? mata Sila pun langsung mengarah ke arah Joseph. Dan betapa terkejutnya dia melihat kondisi Joseph.
"Ya Tuhan! Joseph kau...!" tapi baru Sila akan menghampiri Joseph. Dave menahan tangannya.
"Kita pergi dari sini Sila, bukankah seharusnya kamu menjelaskan sesuatu padaku?" tanya Dave yang langsung mengajak Sila meninggalkan tempat itu.
Sementara Rizal dan Davina juga hanya diam. Tapi Davina juga langsung mendekati Rizal.
"Mas, sebaiknya kita akhiri pesta ini. Masalah ini harus kita selesaikan!" ucap Davina.
Dan Davina juga meninggalkan tempat itu bersama Rizal.
Shafa hanya bisa memeluk Joseph, dan meminta para pelayan membawa Joseph ke kamarnya untuk di obati.
***
__ADS_1
Bersambung...