Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 111


__ADS_3

Susan dan Hadi sudah mendatangi lebih dari lima kantor pengacara. Dan semuanya sama saja, begitu mendengar nama Jeremy Darrow. Mereka sudah mundur sebelum membaca kasus Hadi.


Sampai sore menjelang malam harinya Hadi pun kembali ke rumah, karena dia juga tidak mungkin kembali ke kantor. Pikirannya yang sedang kacau malah akan membuat pekerjaannya nanti berantakan.


Melihat Hadi yang begitu frustasi, Susan lalu berjalan ke arah dapur, meninggalkan Hadi yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Saat akan ke dapur, Susan bertemu dengan Murti.


Susan yang memang sudah berbaikan dengan Murti pun menyapa Murti yang sedang membawa sayuran ke arah meja makan.


"Selamat malam Bu!" sapa Susan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Susan benar-benar bersikap sopan dan baik pada Murti, setelah calon ibu mertuanya itu memaafkannya. Murti yang melihat perubahan besar pada sikap Susan pun menjawab sapaan dari Susan.


"Selamat malam, kalian sudah pulang? dimana Hadi?" tanya Murti sambil matanya mencari keberadaan Hadi.


Susan ingin langsung menjawab kalau Hadi sedang duduk di ruang tamu, tapi kemudian Susan terpikir lagi sebuah cara. Bagaimana pun Sila sepertinya sangat menghormati mantan ayah dan ibu mertuanya itu. Jika Murti sampai tahu kalau Sila sedang memperjuangkan hak asuh Mika. Murti pasti tidak akan suka, dan akan membantunya melakukan apapun agar hak asuh Mika tidak jatuh pada Sila. Dan kalau sampai itu terjadi, Susan tidak perlu cemas dengan pernikahan nya yang mungkin akan batal karena Hadi frustasi atau bahkan malah membujuk Sila untuk kembali lagi padanya demi Mika.


Susan tahu kalau Hadi memang sudah menjatuhkan talak 3 pada Sila. Tapi yang namanya orang tua, apalagi itu Hadi dan Sila yang dia sangat ketahui kalau jadi dan Sila sama-sama sangat menyayangi Mika melebihi nyawa mereka sendiri. Tidak akan menutup kemungkinan bagi Sila dan Hadi merencanakan hal yang tidak mungkin. Hadi pasti akan berjuang demi Mika, apalagi Sila sekarang sudah jauh berbeda dari yang dulu. Susan saja sempat kesal saat melihat perubahan diri Sila. Wanita yang dulu hanya memakai lipstik dan bedak tipis kemana pun dia pergi, sekarang sudah merias wajahnya dengan baik. Bahkan Sila yang dulu selalu pakai kemeja dan juga celana kerja, sekarang sudah pakai blouse dan juga mini dress yang di padukan dengan blazer saat bekerja. Semua hal itu juga membuat perasaan Susan ketar-ketir.


Masalahnya dia tahu, merebut itu memang lebih sulit dari mempertahankan. Apalagi pandangan Hadi pada Sila sejak pertama kali bertemu saat makan malam di rumah Hadi itu membuat Susan merasa tidak tenang.


"Ibu, mas Hadi sedang di rumah tamu. Dia sedang sangat sedih dan frustasi Bu!" ucap Susan yang membuat wajahnya dalam sekejap berekspresi seperti orang yang sangat sedih dan paling mengerti penderitaan Hadi.


Murti yang melihat mimik wajah Susan pun mengerutkan dahinya yang memang sudah banyak kerutan.


"Apa maksud mu? kenapa Hadi sedih? bukankah dia baru naik jabatan?" tanya Murti yang merasa heran apa yang mungkin membuat anaknya sedih.


Dia baru saja naik jabatan, Murti dan juga Harus juga sudah menyetujui pernikahan nya dengan Susan yang akan di gelar bulan depan. Lalu apa yang bisa membuat Hadi bersedih. Itulah yang ada dipikiran Murti.

__ADS_1


"Mas Hadi sedih, karena Sila mengajukan tuntutan untuk mendapatkan hak asuh Mika!" jawab Susan yang sudah berderai air mata.


Entah darimana datangnya air mata Susan itu, tapi begitu Murti berkedip dan menoleh ke arah calon menantunya itu, wajah Susan sudah penuh dengan air mata.


"Apa?" tanya Murti dengan suara meninggi.


"Iya Bu, bahkan sidangnya akan berlangsung besok pagi!" tambah Susan lagi.


"Bagaimana mungkin, jelas-jelas Sila itu bersalah dan tidak pantas mendapatkan hak asuh Mika, karena kelakuan nya yang minus, dia itu selingkuh, dia itu mengkhianati Hadi. Kenapa masih bisa sih dia mengajukan tuntutan. Pasti ada yang gak beres ini!" ucap Murti yang langsung meletakkan semua peralatan yang di pegang nya dan segera bergegas menghampiri Hadi di ruang tamu.


Susan yang merasa sudah berhasil membuat Murti marah pun tersenyum puas. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya, tujuannya datang ke dapur tadi adalah untuk membuatkan kopi untuk Hadi.


Murti yang masih terus mengomel tentang Sila pun menghampiri Hadi yang memejamkan matanya sambil menempelkan tangannya yang terkepal di keningnya.


"Bagaimana mungkin Sila bisa mengajukan tuntutan?" tanya Murti yang langsung duduk di depan Hadi. Di sofa yang ada persis berseberangan dengan Hadi.


"Susan yang mengatakannya pada ibu?" tanya Hadi.


Sebenarnya Hadi tidak mau membuat ibunya kepikiran.


"Memang seharusnya dia mengatakannya pada ibu kan? bagaimana pun Mika itu juga cucu ibu. Ibu juga tahu kalau kamu sangat menyayangi Mika. Sila itu benar-benar ya, sudah selingkuh sekarang masih dengan tidak tahu malu malah meminta hak asuh Mika. Yang benar saja!" Murti terus mengomel.


Dan omelan Murti itu semakin membuat kepala Hadi sakit.


Tapi setelah mengomel beberapa saat Murti lalu merubah wajahnya menjadi serius.


"Hadi, kamu sekarang kan banyak uang. Jabatan mu juga sudah sangat tinggi. Kamu harus menyewa pengacara paling mahal dan yang terbaik di kota ini. Sila itu cuma sekertaris kan? berapa sih gajinya sekertaris? paling yang dia sewa juga pengacara yang sudah lama gak dapet kasus yang kantor pengacaranya bahkan telat bayar iuran listrik dan telepon kan?" tanya Murti yang mengira Sila tidak punya uang dan pengacara yang dia sewa hanya pengacara amatiran.

__ADS_1


Hadi menghela nafas nya berat.


"Bu, itulah masalahnya. Pengacara yang membela Sila justru adalah pengacara terbaik di kota ini, bukan hanya di kota ini. Bahkan dari lima kantor firma hukum yang aku dan Susan datangi tadi, pengacara Sila yang bernama Jeremy Darrow itu adalah pengacara dengan track record terbaik di negara ini!" jelas Hadi yang kembali memegang kepalanya yang berdenyut.


Murti melotot tidak percaya.


"Mana mungkin?" tanya Murti.


"Benar Bu, bahkan aku dan mas Hadi sudah berusaha mencari pengacara dan menawarkan harga yang tidak masuk akal, tapi tetap saja tidak ada yang berani melawan pengacara Sila itu!" tambah Susan yang datang dengan membawa secangkir kopi dan meletakkan nya di atas meja di depan Hadi.


"Bagaimana mungkin?" tanya Murti tak percaya.


"Aku tidak akan sanggup kehilangan hak asuh Mika Bu!" Hadi sudah mulai terlihat putus asa. Masalahnya dia juga akan jadi emosional kalau menyangkut Mika. Hadi lalu berdiri dan berjalan menuju ke kamar Mika.


Murti yang tidak tega melihat anaknya sedih pun berdiri dan berkata.


"Ck... memangnya kenapa kalau tidak ada pengacara yang mau melawan Sila, masih ada ibu kan? enak saja, sudah selingkuh malah mau memisahkan anak dari ayahnya!" kesal Murti yang lalu berjalan masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian Murti keluar dengan membawa tasnya.


"Susan, antar ibu ke rumah Sila. Biar ibu yang menghadapi wanita tidak tahu malu itu!" kesal Murti yang mengajak Susan ke rumah Sila.


Susan langsung berdiri, dia juga begitu bersemangat. Dia sudah tidak sabar melihat Murti memaki dan memarahi Sila.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2