
Dave mengajak Sila ke dalam ruangannya, saat baru keluar dari pintu lift kebetulan Oman sedang menunggu Dave di dekat pintu lift khusus yang memang hanya Dave saja yang bisa menggunakan nya. Pintu lift itu hanya terbuka dengan password khusus yang hanya Dave dan Joseph saja yang tahu.
"Selamat sore tuan, semuanya sudah siap. Tapi ada yang harus saya laporkan pada tuan!" ucap Oman sedikit melirik ke arah Joseph.
Joseph yang mengerti akan hal itu pun segera mengajak Sila untuk lebih dahulu masuk ke dalam ruangan Dave.
"Nona Sila, silahkan... ada yang perlu saya jelaskan pada anda!" ucap Joseph pada Sila sambil mengulurkan tangannya menuju ke arah ruangan Dave.
Sila melihat ke arah Dave dengan maksud meminta persetujuannya, setelah Dave mengangguk sekali Sila pun langsung melangkah meninggalkan Dave dan juga Oman.
Dave dan Oman pun berjalan menuju ke sebuah balkon yang letaknya tak jauh dari lift.
"Ada apa?" tanya Dave sambil melihat ke arah pemandangan kota yang begitu ramai di luar kantornya.
"Begini tuan, tuan Prio Utomo ayah nona Sila telah menjaminkan sertifikat rumahnya pada Baron Cs untuk membangun kembali usahanya yang bangkrut karena peristiwa kebakaran di pasar beberapa Minggu lalu tuan, dan sepertinya Baron Cs sengaja membuat usaha tuan Prio Utomo tidak bisa berkembang, jika dalam lima hari lagi tuan Prio Utomo tidak bisa mengembalikan pinjaman yang dia dapatkan dari Baron Cs maka rumah orang tua nona Sila itu akan mereka sita tuan!" jelas Oman panjang lebar yang mengetahui berita tersebut dari salah seorang anak buahnya.
"Ck... kenapa aku malah melupakan mereka. Seharusnya aku juga memintamu mengawasi kedua orang tua Sila. Bukan hanya mengawasi Mika!" ucap Dave terdengar menyesal karena tidak tahu masalah ini sampai sudah sejauh ini.
"Berapa hutang ayah Sila pada Baron?" tanya Dave.
"750 juta tuan, tapi anda sendiri tahu bagaimana sifat Baron bukan, dia pasti tidak mau mengembalikan sertifikat itu dengan harga yang sama!" jawab Oman.
Dave terdiam, saat ini yang dia pikirkan bukan masalah uang tapi sebuah cara agar Sila bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Dengan begitu dia pasti akan bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah, dan bukan dirinya yang mengkhianati mantan suaminya itu, tapi justru mantan suaminya itulah yang menjebak Sila.
"Baiklah Oman, kamu bisa kembali bekerja. Aku akan urus masalah itu!" ucap Dave yang langsung di balas anggukan kepala oleh Oman.
Dave pun kembali ke ruangan nya, dan saat dia kembali dia melihat Luna sedang mendorong Sila hingga hampir terjatuh. Untung saja Dave bisa menangkap Sila, Dave memegang kedua lengan Sila.
Menyadari hal itu Sila langsung cepat menjauh dari Dave.
"Ma... maaf tuan!" ucap Sila yang langsung berdiri sedikit menjauh dari Dave.
Luna yang melihat itu pun tersenyum menyeringai.
'Rasakan itu, setelah ini Dave pasti akan marah padamu!' pikir Luna yang mengira Dave akan marah karena Sila secara tidak sengaja telah membuatnya menyentuhnya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Dave dengan wajah tidak bersahabat.
Luna langsung menghampiri Dave dan berdiri di sebelah nya.
"Dave, lihat kelakuan sekertaris mu yang ini. Dia meletakkan tasnya di atas meja kerjaku!" ucap Luna dengan nada manja.
Luna menunjuk ke arah meja kerja yang tadi di siapkan Oman di ruangannya.
"Maaf tuan, tapi tadi Joseph bilang...!"
"Heh, berani sekali kamu!" bentak Luna menyela apa yang ingin Sila katakan.
"Kamu itu seharusnya panggil Joseph itu dengan tuan, sama seperti Anita. Lihat Dave, dia semakin lancang saja, kenapa juga sih perempuan seperti ini kamu terima sebagai sekertaris?" tanya Luna pada Dave.
"Apa hak mu berkata seperti itu?" tanya Dave dengan nada kesal pada Luna.
"Lagi pula siapa yang mengatakan kalau meja kerja itu adalah meja kerja mu?" tanya Dave lagi dan langsung membuat wajah Luna berubah menjadi sangat bingung.
"Tapi Dave, bukankah itu memang untuk ku...!"
Luna semakin kesal saja, Dave terlihat tidak marah pada Sila, tapi malah seperti marah padanya.
"Joseph bilang itu adalah meja kerjaku, karena itu aku meletakkan tas dan buku catatan ku disana!" jelas Sila.
"Sudah dengar kan Luna, sekarang keluar dari ruangan ku dan banyak belajar lah pada Anita, ingat jika dalam satu bulan kamu tidak kompeten maka silahkan keluar dari perusahaan ku!" ucap Dave yang langsung membuat Luna semakin kesal dan melotot pada Sila.
Sila yang awalnya melihat ke arah Luna memilih memalingkan wajahnya. Dia sama sekali tidak suka dengan perdebatan di tempat kerja, karena itu tadi dia juga memilih untuk mengalah saja. Tapi ternyata Luna malah mendorongnya ketika Dave membuka pintu. Sila tahu kalau Luna sengaja, kalau itu orang lain, Dave tidak akan menolongnya dan akan langsung marah karena sudah menyentuhnya.
Melihat Luna masih diam, Dave kemudian bicara lagi dengan tegas.
"Keluar atau aku tidak akan menunggu satu bulan untuk bilang pada ibuku kalau kamu memang tidak bisa bekerja?" tanya Dave menggertak Luna.
Luna sangat kesal mendengar Dave terkesan tidak perduli padanya dan membela Sila. Luna menghentakkan kakinya kuat lalu keluar dari ruangan Dave dengan cepat.
Setelah Luna pergi, Dave mendekati Sila dan menyentuh lembut pipinya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dave.
Dengan cepat Sila menggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan!" jawabnya cepat.
Dave menghela nafasnya.
"Kenapa tidak melawannya?" tanya Dave.
Sila yang mendengar pertanyaan Dave itu langsung mendongak, dan menatap suaminya itu.
"Tuan bilang Luna adalah calon istri yang dipilih oleh ibu tuan, dan dia bekerja disini juga karena ibu tuan yang menginginkan nya. Aku hanya tidak ingin membuat masalah untuk tuan...!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sila, hati Dave sangat tersentuh. Senyuman mengembang di bibir pria tampan dengan tinggi badan 180 cm itu. Dave senang Sila sangat pengertian. Dave menarik Sila dan memeluknya.
"Tidak akan lama lagi, setelah kamu mendapatkan hak asuh Mika. Maka kita tidak perlu lagi menyembunyikan pernikahan kita dari semua orang!" ucap Dave membuat Sila terdiam.
Sila masih belum percaya pada semua yang telah terjadi ini, dalam sekejap hidup nya yang bahagia hancur berantakan. Tapi dalam sekejap pula semua rasa sakitnya perlahan menghilang karena pria yang sedang memeluknya itu.
Dave lalu melepaskan pelukannya dari Sila, tangannya beralih ke dagu Sila dan matanya melihat ke bibir merah istrinya itu.
Dave mendekatkan wajahnya ke arah Sila, dan Sila tahu apa yang ingin dilakukan oleh suaminya itu. Sila memejamkan matanya perlahan.
Tok tok tok
"Tuan, boleh saya masuk?" tanya seseorang dari luar dan Dave tahu kalau itu adalah Joseph.
"Ck... kenapa selalu ada saja pengganggu!" Dave berdecak kesal lalu melepaskan Sila yang langsung bergegas menuju ke meja kerjanya.
"Masuk!" seru Dave dengan nada kesal.
***
Bersambung...
__ADS_1