Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 251


__ADS_3

Di rumah duka dimana Catherine di semayamkan, sang kakak yang baru kembali dari luar negeri berjalan tertatih setelah dia berada di depan pintu ruang tengah dimana terdapat peti jenazah Catherine yang sudah di rias sebegitu rupa dengan gaun kesayangan nya.


Edgar Retz melepaskan kacamatanya nya, semua orang terdiam. Manager Catherine dan juga beberapa teman satu agensi nya. Ada juga beberapa pelayan di apartemen besar dan mewah milik Chaterine ini.


Sesungguhnya Catherine bukanlah seseorang yang kekurangan uang hingga harus bekerja menjadi seorang model. Itulah hobi dan impiannya sejak kecil, dia suka sekali melihat para pertunjukan fashion, dia bahkan selalu mengatakan pada kakak nya satu-satunya itu kalau dirinya saat besar nanti ingin menjadi seorang model.


Tentu saja keinginan adik kesayangannya itu adalah perintah bagi Edgar Retz. Dia juga yang sudah menjadikan Catherine seorang model terkenal dengan bayaran paling tinggi saat ini di negeri ini. Itu juga kenapa perusahaan parfum Hendrawan Grup menjadikan Catherine sebagai brand ambassador di perusahaan itu.


Begitu sampai di depan peti jenazah adiknya, air mata mengalir begitu saja di mata Edgar. Rasanya dia masih tidak percaya, padahal beberapa hari yang lalu adiknya itu masih menemaninya di luar negeri. Masih bersama dengannya menikmati liburan musim panas di luar negeri bersama. Bagaimana mungkin, adiknya yang hanya pamit pulang sebentar karena bilang ingin menandatangani kontrak lagi dengan salah satu perusahaan besar di kota ini menjadi seperti ini.


Terbujur kaku menutup matanya untuk selamanya.


"Catty...!" lirih Edgar yang langsung memeluk tubuh Catherine yang sudah tidak bernyawa.


"Kenapa kamu meninggalkan kakak, Catty? sekarang katakan bagaimana kakak bisa hidup tanpamu. Mana mungkin kakak bisa hidup tanpamu!" Isak tangis dan rintih4n kesedihan Edgar benar-benar membuat semua orang yang hadir meneteskan kembali air mata mereka.


Bahkan beberapa teman satu agensi Catherine yang tadinya tidak begitu akrab dengannya dan bahkan pernah terlibat konflik dengan Catherine yang memang notabene nya adalah orang yang sombong, angkuh dan tidak mau kalah dari siapapun. Melihat kakaknya dan caranya pergi yang seperti itu, membuat mereka juga menangis. Mereka bahkan begitu tersentuh setelah mendengar kalau Catherine hanya memilikinya kakaknya itu sebagai keluarganya di dunia ini.


Cukup lama Edgar memeluk dan menangisi kepergian adik kandungnya satu-satunya itu.


"Jika kamu masih bersama ku dan tidak kembali kesini. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Catty!" lirih Edgar.


Setelah beberapa orang yang merupakan pengawal Edgar datang dan menyampaikan kalau tempat pemakaman sudah siap. Edgar segera membawa adiknya itu ke tempat pemakaman sebagai peristirahatan terakhirnya. Karena sudah cukup lama juga jenazah Catherine di biarkan menunggu kedatangan Edgar dari luar negeri.

__ADS_1


***


Sementara itu, Dave masih bersama dengan Sila di rumah sakit karena Sila memang masih harus menunggu dua jam lagi hingga bisa pulang ke rumah. Dan itupun dia harus istirahat total atau bedrest.


Tapi Joseph juga terus memantau perkembangan yang terjadi di apartemen Catherine.


"Tuan, dia sudah datang. Edgar Retz sudah datang. Kemungkinan pemakaman nona Catherine akan dilaksanakan sebentar lagi!" ujar Joseph.


"Baiklah, Jo datang lah ke sana. Bagaimana pun Catherine adalah brand ambassador perusahaan kita. Kirimkan karangan bunga terbaik, lalu ucapkan bela sungkawa dengan baik pada Edgar Retz mewakili aku!" seru Dave.


"Mas, kamu tidak mau datang sendiri ke sana. Aku akan baik-baik saja di sini. Ini adalah penghormatan terakhir bagi Catherine, sebaiknya mas pergi ke pemakaman!" ucap Sila.


Saat Sila berkata seperti itu, Dave langsung menghampiri istrinya dan duduk di sebelah Sila. Dia merangkul istrinya itu dan mengusap lengan Sila perlahan dengan lembut.


"Aku tidak akan tenang jika meninggalkan mu di sini sayang. Biar Joseph saja yang pergi!" ucap Dave.


Mata Sila hanya terus melihat ke mana arah Joseph pergi. Bahkan ketika Joseph sudah tidak terlihat. Sila hanya memandang ke arah pintu yang terbuka itu. Entah kenapa perasaannya sangat tidak tenang, sangat resah. Seperti akan ada hal yang tidak baik yang akan segera datang menghampiri dirinya dan keluarganya.


***


Di tempat terpisah, namun di waktu yang sama. Randy langsung pulang ke rumahnya setelah dari makam Alisha.


Davina memang sedang menunggu putra sulungnya itu untuk pulang. Dia sangat mencemaskan Randy, bagaimana pun dia juga tahu bagaimana Randy dulu begitu depresi atas kehilangan Alisha. Dan sekarang justru dia mengetahui kenyataan dan kebenaran kalau pelaku atau otak di balik kecelakaan yang menimpa istri tercinta itu adalah Aline, wanita yang adalah sahabat dari ibunya. Orang yang selalu akan Davina bela, dan percayai semua perkataannya. Davina benar-benar merasa bersalah pada Randy.

__ADS_1


Begitu melihat Randy yang masuk ke dalam rumah, Davina langsung berlari dan memeluk Randy.


"Maafkan ibu nak, maafkan ibu. Ibu tidak menyangka kalau yang mencelakai Alisha adalah Aline, maafkan ibu nak!" ucap Davina sambil menangis dan memeluk erat Randy yang juga sepertinya menahan tangis karena tubuhnya sedikit gemetaran.


"Alisha Bu, dia meninggal karena di celakai orang. Dan aku baru tahu hal itu setelah lima tahun, dia pasti sangat kecewa padaku Bu!" ungkap Randy mencurahkan apa yang ada di dalam perasaan nya.


Cukup lama Randy memeluk Davina. Hingga dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat. Randy bahkan meminta agar jangan ada yang mengganggu nya. Davina tentu saja merasa cemas, karena itu dia memutuskan untuk menghubungi Shafa dan memintanya membawa Karina ke rumah.


Maka Shafa yang tadinya enggan menceritakan masalah yang sebenarnya pada Karina pun, terpaksa menceritakannya. Karena dia tidak ingin Karina datang dan tidak tahu apa-apa, bisa saja dia salah bersikap atau salah mengerti sikap Randy yang pastinya masih sangat sedih dan berduka.


Setelah menerima telepon dari ibunya, Shafa pun duduk di depan Karina yang masih diam saja karena mau bekerja pun dia masih belum bisa konsentrasi.


"Kak, em... ada yang ingin aku sampaikan padamu!" ucap Shafa ragu.


"Kenapa wajah mu tegang begitu Shafa, katakan saja!" ucap Karina sambil tersenyum.


"Saat ini kak Randy, em... aku tahu mungkin kak Karina masih kesal karena kejadian barusan. Tentang kak Riyanti, tapi... sebenarnya ada hal yang lebih penting dari itu. Saat ini kak Randy sedang sangat... bagaimana ya menjelaskan nya!" Shafa jadi bingung sendiri.


"Ada apa?" tanya Karina dengan suara lembut.


"Ternyata kematian kak Alisha bukanlah sebuah kecelakaan, dia di celakai... dan yang mencelakai nya adalah Tante Aline!" jelas Shafa yang matanya juga sudah berkaca-kaca.


Karina langsung terdiam, dia memang sangat kesal pada Randy saat ini. Tapi sepertinya dia harus mengesampingkan semua itu karena saat ini Randy pasti sangat membutuhkan dukungannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2