
Di restoran yang cukup mewah di kota ini, reservasi atas nama keluarga Hendrawan sudah di buat oleh Joseph. Tentu saja sang pemilik restoran bahkan turun langsung menyiapkan semuanya. Termasuk memastikan semua makanan terbaik sudah siap bahan-bahan nya dan tidak kurang suatu apapun.
Satu ruangan khusus di pesan dengan 9 kursi sesuai dengan permintaan Davina. Joseph juga masuk hitungan, karena memang biasanya akan seperti itu. Joseph bahkan akan duduk di samping Rizal, dia adalah orang kepercayaan Rizal setelah sekertaris pribadi Rizal.
Dengan tiga buah mobil, mereka semua telah tiba di restoran. Rizal bersama Davina. Shafa dengan Vincent dan di mobil ketiga adalah Joseph, Randy, serta Dave, Sila dan Karina di kursi penumpang bagian belakang.
Begitu sampai di restoran, mereka juga langsung di sambut oleh sang manajer langsung. Lalu di persilahkan menuju ke ruangan VVIP yang sudah di reservasi oleh Joseph sebelumnya.
Tentu saja, penyambutan seperti itu tak luput dari pandangan semua orang. Termasuk sepasang pria dan wanita yang memakai jas rapi dan juga gaun malam berwarna merah terang.
"Mas, sepertinya ada tamu VVIP restoran ini, coba kita lihat. Mungkin saja salah satu klien perusahaan!" ucap Susan.
Benar sekali, yang sedang duduk di salah satu meja di restoran bintang lima terbaik di kota itu adalah Susan. Dia bersama dengan Hadi.
"Untuk apa? mereka juga tidak akan mengajak kita bergabung dengan mereka. Sudah nikmati saja makan malam mu, aku sudah habiskan sepertiga gajiku untuk makan malam di sini menuruti ngidam mu itu!" ucap Hadi yang sebenarnya agak berat menuruti kemauan Susan yang katanya ngidam dan ingin makan di restoran mahal ini.
Selain makanan nya yang sangat mahal, seharusnya reservasi dari jauh-jauh hari dulu. Atau harus membayar makanan seharga 3 kali lipat dari harga normal. Dan itulah yang sedang di alami Hadi. Dia harus membayar makanan dengan harga 3 kali lipat lebih mahal dari biasanya untuk menuruti kemauan Susan. Dengan alasan Susan sedang ngidam.
"Tapi aku juga ingin bisa berfoto di ruang VVIP, seperti para selebgram teman-teman baru ku itu!" rengek Susan pada Hadi.
"Susan, tolonglah. Keadaan ekonomi kita sedang berusaha aku perbaiki. Jangan terus menghamburkan uang untuk hal tidak berguna. Dan berhenti berteman dengan mereka yang hanya akan membuat mu terus merengek meminta ini dan itu padaku, perusahaan sedang di awasi ketat oleh dewan direksi, mereka mulai curiga ada penggelapan dana. Tolong mengerti lah!" jelas Hadi panjang lebar pada Susan.
Susan hanya bisa mendengus kesal, dia langsung memalingkan pandangannya dari Hadi. Tapi setelah dia melakukan hal itu, matanya malah melotot melihat siapa rombongan yang lewat menuju ruangan VVIP restoran bintang lima ini.
"Sila!" gumam Susan tak percaya.
"Mas... mas, lihat itu mantan istrimu kan. Dan itu semua keluarga Hendrawan kan? bagaimana bisa Sila bersama mereka?" tanya Susan yang merasa sangat tidak percaya sekaligus tidak terima dalam hatinya Sila bisa berjalan beriringan dengan keluarga Hendrawan dan itu menuju ke ruang VVIP.
__ADS_1
Pandangan Hadi juga langsung menuju ke arah dimana Susan menunjuk. Hadi juga terkejut sama seperti Susan. Apalagi pandangan Hadi terarah pada tangan Dave yang memeluk pinggang Sila, bahkan mereka berjalan sambil bersenda gurau dengan Sila yang sesekali tersenyum ke arah Dave.
Tanpa sadar tangan Hadi terkepal.
'Bagaimana mungkin!' batin Hadi.
Susan juga sama terkejutnya, dia juga melihat ke arah tangan Dave yang memeluk pinggang Sila.
"Sudah ku duga, tidak mungkin Sila bisa menyewa pengacara semahal tuan Darrow. Dia sudah menggoda putra kedua keluarga Hendrawan itu rupanya!" gumam Susan yang masih bisa di dengar oleh Hadi.
"Susan sudahlah, kita punya kerja sama penting dengan tuan Dave dan perusahaan nya. Jangan membuat keributan dan masalah dengan mereka!" tegur Hadi pada Susan.
'Hah, kenapa terkesan mas Hadi membela Sila ya. Tidak bisa, tidak boleh dibiarkan!' batin Susan.
"Mas, pasti mantan istri mu itu menggoda tuan Dave Hendrawan! coba kamu pikir kalau dia sampai mengadukan semua perbuatan mu pada tuan Dave, kerja sama perusahaan kita juga akan terancam kan mas!" ucap Susan mencoba untuk mempengaruhi Hadi.
"Sudahlah Susan, habiskan makanan mu. Lalu kita pulang!" balas Hadi.
Tentu saja Susan tidak puas, dia sama sekali tidak ingin Sila terlihat sebagai wanita yang baik di mata semua orang. Apalagi menjadi menantu keluarga Hendrawan. Susan tidak terima itu. Dia memang bisa menggoda Hadi, dan dia berhasil mengalahkan Sila. Tapi sayangnya dia tidak bisa menggoda Dave, karena penyakit Dave yang langka. Tapi dia juga tidak rela Sila mendapatkan suami pengganti Hadi yang lebih kaya dan lebih segala-galanya dari Hadi.
Susan sama sekali tidak mau kalah dari Sila. Lagipula Susan berpikir kalau dia masih punya kartu truff yang bisa dia pakai untuk menjatuhkan Sila di depan semua keluarga Hendrawan.
"Em, mas... sebentar ya. Aku mau ke toilet!" ucap Susan pada Hadi.
Hadi pun mengangguk. Dan Susan bergegas meninggalkan Hadi, tapi dia berjalan bukan ke arah toilet. Melainkan ke arah ruangan VVIP.
Sementara itu di dalam ruangan VVIP sudah ada meja besar dengan sembilan kursi dan meja yang bisa di putar.
__ADS_1
"Sila, makan yang banyak sayang. Ini makan ikan salmon ini sangat baik untuk ibu hamil!" ucap Davina yang memberikan lauk ke atas piring yang ada di depan Sila.
"Terimakasih Bu!" jawab Sila sopan.
"Dave, kamu juga makan yang banyak ya. Kamu juga harus sehat agar bisa menjaga Sila dan calon cucu Ibu!" ucap Davina lagi.
Semua makan dengan tenang, Shafa yang sesekali mencuri pandang ke arah Joseph tak luput dari perhatian Randy.
'Ada apa dengan Shafa?' tanya Randy dalam hati.
Tapi saat semua sedang asik makan, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang wanita sedang berdebat dengan dua orang pelayan yang menjaga pintu ruangan VVIP.
"Nyonya ini ruangan khusus, anda tidak boleh masuk!" seru pelayan itu dengan tegas.
Mata semua orang langsung tertuju ke arah pintu. Sila dan Dave yang melihat Susan pun hanya bisa menghela nafas berat.
'Ck... perempuan ini. Mau buat masalah apa lagi dia!' batin Dave kesal.
"Maaf semuanya, tapi aku pikir tadi ini ruangan teman-teman ku!" ucap Susan seolah salah masuk ruangan dan langsung hendak berbalik.
Tapi sebelum dia benar-benar berbalik, dia kembali menoleh ke arah meja besar itu.
"Sila, kan? mantan istri mas Hadi?" tanya Susan membuat semua orang jadi memperhatikan nya lebih serius.
'Wanita ini benar-benar sedang mencari masalah!' batin Dave kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...