
Hari ini Joseph sudah masuk kerja, dia berjalan dengan gagah masuk ke Perusahaan. Namun ada yang berbeda sedikit, meski hanya sedikit tapi semua orang yang mengenal Joseph sejak awal masuk perusahaan ini merasa itu adalah hal yang sangat besar.
Perubahan itu adalah, Joseph tak lagi memakai kacamata hitam saat masuk ke perusahaan juga terpajang senyum di wajah pria yang biasanya hanya mampu menunjukkan ekspresi datar dan dingin seperti kulkas dua pintu.
Setelah Joseph masuk ke dalam pintu lift beberapa orang mulai berbisik-bisik.
"Itu beneran tuan Joseph ya?" tanya salah satu karyawan yang memakai dasi berwarna merah.
"Iyalah, siapa lagi?" sahut temanya yang sedang membawa map berwarna hijau.
"Ada yang aneh, tapi apa ya?" tanya pria berdasi merah itu sambil meletakkan tangan di pelipisnya. Dia berpikir dengan keras apa yang membuat Joseph terlihat berbeda.
"Sudahlah, kita kerja saja. Ada bagusnya juga tuan Joseph gak kelihatan garang kan!" ucap pria yang membawa map lalu berlaku dari pria berdasi merah yang masih berpikir.
"Oh itu dia yang beda, mukanya gak kayak banteng ngamuk lagi!" serunya setelah menemukan jawaban atas pertanyaan yang dia pikirkan sendiri.
Temannya hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan pria berdasi itu.
Joseph sudah tiba di ruangannya. Dia melihat Anita yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.
"Selamat pagi Anita!" sapa Joseph.
Anita pun langsung mengernyitkan keningnya.
'Eh, aku di sapa ya? tapi kok bisa?' tanya Anita dalam hati.
Biasanya Anita lah yang akan terlebih dahulu menyapa Joseph. Hal itu cukup membuat Anita terkejut.
"Selamat pagi tuan Joseph, kamu sudah sembuh?" tanya Anita.
"Iya, bagaimana jadwal tuan Dave. Sudah di kosongkan untuk hari ini dan dua hari ke depan kan?" tanya Joseph.
"Sudah tuan Joseph, tapi perusahaan M minta bertemu dengan anda jam sepuluh nanti. Ada hal penting, mengenai vendor baru yang akan di pakai design bajunya untuk brand ambassador parfum yang baru!" jelas Anita.
"Oke, jam sepuluh kan. Aku akan temui mereka. Buat janji temunya!" ucap Joseph kembali menjadi serius.
Seperti itulah Joseph, dia akan sangat serius pada pekerjaan nya.
Anita pun memandangi Joseph sebentar.
'Tuh kan, tadi itu pasti perasaan ku saja tuan Joseph agak aneh. Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula lagi. Syukurlah!' batin Anita yang lebih senang Joseph dengan mode datar.
Sementara itu di kediaman Hendrawan, semua orang sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Marlina dan kedua adik Karina yaitu Lili dan Putri.
Sila dan Shafa juga Karina sedang berada di taman yang berada di belakang kediaman Hendrawan tentu saja dengan Mika dan kelinci kecilnya yang di beri nama Si putih.
__ADS_1
Karina dan Sila melihat Shafa yang sedang murung pun bertanya padanya.
"Ada apa Shafa?" tanya Sila.
Shafa menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu tersenyum tipis.
"Tidak ada apa-apa kak, oh ya aku akan ambilkan makanan untuk kelinci Mika dulu ya!" ucap Shafa lalu pergi meninggalkan Sila dan Karina.
Karina pun mendekati Sila.
"Sepertinya ada yang menggangu pikirannya. Menurut mu kalau kita yang mengatakan tentang hubungan Shafa dan Joseph pada Randy atau Dave, bagaimana?" tanya Karina ragu dan meminta pendapat Sila.
"Bagaimana ya Karina? aku merasa kalau itu adalah hak dan privasi mereka!"
"Tapi sepertinya ada sesuatu yang membuat Shafa enggan mengakui hubungannya dengan Joseph!" jelas Karina.
"Kamu benar, tapi sebaiknya kita hanya perlu berdiri di belakang Shafa dan mendukungnya saja. Kalau untuk mengungkapkan hubungan mereka, aku rasa lebih baik biar mereka saja yang mengakuinya!" tutur Sila menyampaikan pendapatnya.
Karina pun mengangguk paham, dia rasa apa yang dikatakan Sila itu ada benarnya.
***
Beberapa jam kemudian, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Mobil Davina berhenti tepat di depan teras pintu utama keluarga Hendrawan.
Karina dan Sila berdiri paling depan karena memang Sila juga merindukan ibu sahabatnya itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah dua tahun lalu ketika Sila dan Hadi mengajak Mika ke rumah Marlina saat momen lebaran.
"Kakak!" seru keduanya senang.
Setelah melepaskan pelukannya dari Karina, mata Lili langsung mengarah pada besarnya rumah calon mertua kakaknya itu. Sedangkan Putri yang melihat Sila langsung menghampiri sahabat dari kakaknya itu dan menyapa Sila sambil menyalami tangannya dan mencium punggung tangan Sila.
"Kak Sila, apa kabar? mana Kak Hadi dan Mika?" tanya Putri dengan polosnya.
Sila langsung terdiam. Karina yang mendengar itu langsung menghampiri Putri dan Sila.
Karina langsung meraih lengan Putri.
"Sila, aku minta maaf. Aku belum menceritakan tentang kamu dan Hadi pada ibu dan kedua adikku" ucap Karina dengan raut wajah penuh dengan penyesalan.
Sebenarnya Karina memang merasa hal itu bukan hal yang pantas untuk di ceritakan pada Lili dan Putri yang masih sekolah. Tapi dia tidak tahu kalau sikap Putri yang memang ramah malah akan bertanya seperti itu pada Sila.
Sila menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa!" Ucap Sila melihat ke arah Karina.
Lalu Sila pun beralih pada Putri.
__ADS_1
"Putri, aku dan mas Hadi sudah bercerai!"
Putri lantas melihat ke arah perut Sila yang agak buncit. Sila mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Putri. Dia pun lanjut berkata.
"Dan sekarang aku sudah menikah lagi, suamiku adalah adik dari calon kakak iparmu!" jelas Sila dengan senyum ramah pada Putri.
Wajah Putri pun langsung terlihat sangat antusias mendengar hal itu.
"Wah, jadi kalian akan jadi saudara ipar. Itu luar biasa, kakak dan kak Karina adalah sahabat baik dan akan menjadi saudara ipar. Itu benar-benar luar biasa!" seru Putri tak dapat menutupi rasa senangnya.
Tak lama kemudian Marlina turun dari dalam mobil bersama dengan Bu RT dan anak perempuan nya yang usianya sebaya dengan Karina.
"Selamat datang besan, Bu RT... dan siapa gadis cantik ini?" tanya Davina yang menyambut Marlina.
"Dia Isnara besan, anak sulungnya Bu RT!" jawab Marlina.
"Oh begitu, selamat datang selamat datang. Ayo masuk, kita berbincang di dalam, kalian juga pasti lelah kan. Mari!" ajak Davina dengan ramah.
Sementara semua orang sudah masuk, Lili masih berada di luar karena dia masih melihat-lihat banyaknya mobil yang terparkir di garasi keluarga Hendrawan.
Karina yang melihat Lili masih diluar, segera memanggilnya.
"Lili, ayo masuk!" ajak Karina.
Lili pun segera menghampiri Karina lalu merangkul lengan kakaknya itu.
"Wah, kak. Kakak akan jadi menantunya orang kaya, lihat semua ini. Lihat rumah ini, semua mobil yang disana itu. Wah...!" seru Lili takjub.
Karina mengernyitkan keningnya.
"Kamu kenapa sih Li? sejak kapan kamu jadi materialis begini?" tanya Karina heran.
"Ck... kakak aku hanya takjub. Kalau begini sejak dulu aku ikut kakak ke kota saja, siapa tahu aku bisa kenal dengan pria kaya juga seperti kakak!"
Ucapan Lili membuat Karina menghentikan langkahnya.
"Buang jauh-jauh pikiranmu yang seperti itu, sekolah saja yang benar. Masih kecil sudah memikirkan pria kaya!" kesal Karina.
Lili lalu memasang wajah cemberut.
"Iya iya!" ucapnya tidak iklhas.
Mereka lalu masuk ke dalam lagi. Tapi Lili masih terus menggerutu dalam hatinya.
'Kakak ipar kan pasti punya teman yang tampan dan kaya juga seperti dia, pasti ada kan satu yang akan tertarik padaku nanti!' harap Lili dalam hatinya.
__ADS_1
***
Bersambung...