
Keesokan harinya, di apartemen Dave. Seperti biasanya, Sila tengah sibuk mempersiapkan Mika berangkat sekolah. Karena Mika akan berangkat lebih dulu dari Dave. Selain arah sekolah Mika dan arah ke perusahaan Dave tidak sama, Mika juga harus tiba di sekolahnya pukul 07.00 tepat.
Meskipun ada Diah, tapi Sila lebih senang mengurus Mika sendiri. Dari mulai membantunya berpakaian sampai menata rambut Mika yang lurus, tebal, hitam dan panjang itu.
"Sayang mama, sudah selesai!" ucap Sila lalu mencium pipi tembem Mika.
"Sekarang kita ke rumah makan yuk, Mika sarapan dulu. Ayo Diah, kamu juga sarapan dulu!" ucap Sila.
Diah pun mengangguk cepat.
"Baik nyonya!" jawabnya.
Mereka bertiga pun ke ruang makan, setelah menyiapkan sarapan untuk Mika. Sila kembali ke kamarnya untuk membantu Dave bersiap juga.
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Dave malah belum bangun dan masih terlihat meringkuk di dalam selimut nya. Sila pun membuka tirai jendela kaca yang lebar di kamar mereka, setelah tirai terbuka Dave malah menarik selimut tebal itu dan menutup hingga kepalanya.
Sila hanya menghela nafas pelan. Lalu mendekati sang suami.
"Mas... mas bangun sudah hampir jam 7!" kata Sila sambil menepuk-nepuk lengan Dave yang tertutup selimut.
Tapi bukanya bangun, Dave malah menutup rapat selimut itu.
"Memangnya mas tidak ada pertemuan penting?" tanya Sila yang penasaran kenapa sepertinya Dave hari ini sangat malas berangkat ke perusahaan.
Padahal biasanya dia sangat rajin dan bersemangat.
"Sayang aku mau tidur seharian!" jawab Dave dari balik selimutnya.
Sila yang mendengar ucapan sang suami pun hanya bisa mengernyitkan keningnya.
'Ini mas Dave kenapa sih? gak biasanya?' tanya Sila dalam hati.
"Mas, kamu gak sehat? aku telepon dokter Jimmy ya?" tanya Sila yang mulai cemas pada tingkah Dave.
"Tidak usah sayang, telepon Joseph saja dan katakan padanya untuk mengurus perusahaan hari ini!" sahut Dave lagi tanpa membuka selimut yang sudah membungkus rapat dirinya.
__ADS_1
Meski masih cemas dan sangat heran, Sila pun berdiri dari samping suaminya.
"Baiklah!" sahut Sila pelan dan meninggalkan kamar Dave.
Seperti yang diperintahkan Dave tadi, Sila langsung menghubungi Joseph sambil duduk di meja makan memperhatikan Mika yang imut dan manis menghabiskan sereal kesukaannya. Sesekali tangan Sila mengelus kepala Mika yang tersenyum sangat lucu kalau Sila melakukan hal itu.
"Selamat pagi nyonya, sebentar lagi aku sampai di apartemen!" sahut Joseph dengan cepat ketika dia menerima telepon dari Sila.
"Selamat pagi Jo, mas Dave bilang dia tidak ingin ke perusahaan hari ini. Dia ingin tidur seharian, jadi dia minta padamu untuk mengurus perusahaan hari ini!" ucap Sila pada Joseph seperti apa yang tadi di katakan oleh Dave tadi padanya.
"Baik nyonya!" jawab Joseph
Sila lalu memutuskan panggilan telepon nya dengan Joseph dan meletakkan ponselnya di atas meja makan. Sila lalu kembali melihat ke arah Mika yang masih makan sarapan paginya dengan semangat.
Setelah Mika selesai sarapan, Sila mengantarkan Mika sampai ke mobil yang di kemudikan oleh salah Roy. Anak buah Oman.
"Selamat pagi nyonya!" sapa Roy.
"Pagi Roy, tolong antar Mika dengan hati-hati ya. Jangan ngebut!" seru Sila pada Roy yang langsung membungkukkan sedikit badannya ke arah Sila.
Setelah itu Sila kembali ke apartemen nya. Dan ternyata saat Sila ke kamarnya Dave benar-benar belum turun dari atas tempat tidur.
Sila jadi cemas, tidak biasanya Dave seperti ini.
Sila lalu mendekati Dave kemudian, duduk di sampingnya. Namun baru akan menyentuh lengan Dave, Sila terkejut karena dia langsung di peluk dari belakang dan Dave menariknya ke atas tubuhnya.
"Mas!" pekik Sila.
"Pintunya sudah di kunci belum?" tanya Dave yang bibirnya sudah jahil menggig1t bagian tepi daun telinga Sila.
Sila yang merasa gel1 pun sedikit menjauh, namun Dave malah terus menarik Sila semakin mendekat.
Dave bahkan langsung mengajak Sila masuk ke dalam selimut.
"Sayang, jam berapa Mika pulang?" tanya Dave.
__ADS_1
"Jam 11 siang!" ucap Sila.
"Yes, artinya masih ada 4 jam. Aku akan membuat mu kelelahan!" ucap Dave yang langsung menyer4ng Sila.
Mulai dari mencium bibir manis istrinya itu sampai tangannya yang nakal dan terus membuat Sila kepayahan untuk mengendalikan dirinya juga.
Sementara itu suasana hangat dan romantis yang terjadi di kamar Dave dan Sila di apartemen mereka. Berbanding terbalik dengan yang terjadi di kamar Shafa dan Vincent.
Semalam Shafa harus pulang ke rumah Vincent karena kedua orang tua Vincent menginap. Tapi seperti biasanya Shafa akan tidur di sofa dan Vincent akan tidur di tempat tidur mereka. Sebenarnya Vincent sudah menawarkan agar dia yang tidur di sofa tapi Shafa selalu menolak.
Sampai entah ada rencana darimana, tanpa Vincent meminta persetujuan Shafa. Vincent dan kedua orang tuanya mengajak Shafa untuk berlibur ke villa mereka. Saat sarapan pagi Shafa tidak bisa menolak keinginan ayah dan ibu mertuanya, tapi setelah mereka pulang dan mengatakan kalau mereka akan segera bersiap. Shafa baru marah pada Vincent.
"Shafa ini hanya liburan ke villa saja, paling hanya menginap semalam dan kita akan pulang lagi!" ucap Vincent coba menjelaskan pada Shafa.
"Tapi kenapa tidak bertanya dulu padaku, kenapa langsung memutuskan hal seperti itu? Kenapa kalau ingin liburan tidak di sekitar sini saja? kenapa harus ke villa mu?" tanya Shafa yang sama sekali tidak setuju dengan apa yang di rencanakan Vincent.
Masalahnya, villa Vincent itu berada di daerah pegunungan. Memang sangat bagus kalau untuk liburan, sangat menenangkan. Tapi masalahnya sangat jauh dari keramaian dan meski ada para penjaga dan asisten rumah tangga tapi tetap saja mereka akan pulang pada sore hari.
Shafa selalu tidak nyaman kalau berdua saja dengan Vincent. Apalagi di pegunungan, sepi dan suasananya, apapun bisa terjadi nanti.
"Vincent tolong, aku tidak ingin membuat keributan. Aku sama sekali tidak ingin pergi ke villa mu. Katakan pada ayah dan ibumu, kita bisa kan liburan di sini saja?" tanya Shafa yang memang malas untuk ribut ribut dengan Vincent.
"Apa kamu mau melihat mereka sedih, mereka sudah sangat senang tadi. Ayolah Shafa, tidak akan terjadi apa-apa. Aku kan sudah berjanji tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan mu!" jelas Vincent.
'Hah, entah kenapa aku tidak bisa percaya lagi pada ucapannya. Aku merasa akhir-akhir ini dia mulai mencuri-curi kesempatan!' batin Shafa masih tidak tenang.
"Ck... baiklah. Aku pegang janjimu, jangan macam-macam padaku!" ucap Shafa yang malas berdebat lagi.
Tapi ketika Shafa pergi keluar kamarnya, Vincent tersenyum masam.
"Kamu istriku Shafa, memangnya kenapa kalau aku macam-macam padamu!" gumam Vincent.
***
Bersambung...
__ADS_1