
Semua mata memandang ke arah pintu mobil Alphard hitam yang terbuka. Dengan seorang pengawal yang sudah menunggu di dekat pintu mobil bagian belakang.
Dari sana keluar seorang pria tampan yang memakai setelan pakaian batik sangat rapi. Mata para wanita yang melihatnya langsung berbinar. Tak terkecuali wanita yang bernama Halimah yang sejak tadi mengatai dan mengejek Marlina.
"Ganteng banget... artis bukan?" tanya Susi yang mulutnya masih penuh dengan kurma.
Lalu pria tampan itu mengulurkan tangannya ke arah dalam mobil, yang di sambut dengan senyum dan tangan seorang gadis yang meraih tangannya itu dan turun dari dalam mobil.
Wajah Marlina tersenyum, karena yang turun itu adalah Karina, putrinya. Dengan pakaian yang sama dengan Randy. Bahasa kerennya pakaian mereka itu couple-an gitu.
Bu RT juga ikut tersenyum saat Randy dan Karina tersenyum melihat ke arah mereka. Di susul seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Davina. Dengan satu set perhiasan berlian di leher dan kedua telinganya langsung membuat Halimah yang notabene nya terlihat seperti toko mas berjalan lalu minder.
Dari mobil mereka saja perbandingan harganya jelas terlihat. Sedan yang hanya senilai ratusan juta mana bisa di bandingkan dengan Alphard yang harganya milyaran rupiah. Lalu perhiasan emas yang harga satu gramnya hanya ratusan ribu mana bisa di bandingkan dengan berlian yang dipakai Davina yang bahkan harganya bisa membeli semua sawah, rumah dan mobil yang di miliki Halimah.
Merasa tak bisa menyaingi, Halimah pun langsung berbisik pada Bu RT.
"Bu RT, saya tunggu nanti sore di rumah ya!" bisik nya pelan dan langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya dan cepat menyuruh supirnya untuk mengemudikan mobilnya dan langsung pergi dari sana secepatnya.
Marlina dan Bu RT serta warga lain maju untuk menyambut kedatangan calon besannya. Mata semua warga tak bisa tidak menunjukkan rasa kagum mereka melihat semua seserahan yang di bawa oleh Davina dan keluarga.
Set perhiasan emas, set pakaian mewah, lalu tas dan sepatu branded, lalu skincare dan make up dengan merek yang bahkan hanya bisa mereka lihat di iklan televisi, bahkan banyak sekali makanan, kue dan buah-buahan yang harganya mahal.
"Selamat datang tuan dan nyonya...!"
"Ibu Marlina kan?" tanya Davina sambil meraih tangan Marlina sambil tersenyum juga.
Marlina yang gemetaran dan sangat canggung pun hanya menganggukkan kepalanya. Davina bisa merasakan Marlina sangat gugup, apalagi setelah melihat rumah yang ada di belakang mereka tadi. Davina tahu kalau mungkin Marlina akan merasa rendah diri. Jadi Davina langsung memeluk Marlina dengan tulus.
"Jangan panggil nyonya atau tuan, kita akan menjadi keluarga. Cukup panggil kami besan saja!" ucap Davina membuat mata Marlina berkaca-kaca.
Semua yang mendengar hal itu nampak terkejut. Bu RT meski terkejut tapi dia juga merasa sangat lega. Karena calon mertua Karina sangat baik meskipun mereka sangat kaya.
__ADS_1
Davina lalu menarik dirinya agar bisa melihat Marlina.
"Namaku Davina, dan ini suami ku Rizal!" ucap Davina yang menarik lengan suaminya ke dekatnya.
Rizal lalu mengulurkan tangannya dan tersenyum pada Marlina.
"Senang bertemu dengan mu besan!" ucap Rizal membuat Marlina mengangguk perlahan.
Karina yang memang sudah sangat merindukan ibunya juga langsung memeluk Marlina.
"Ibu!"
Marlina tak mampu menahan air matanya lagi. Dia benar-benar sangat bersyukur karena meskipun awalnya dia sangat berat melepaskan Karina untuk bekerja di kota. Tapi anaknya itu mampu menjaga kehormatan dan juga nama baiknya dengan baik. Bahkan bisa mendapatkan pria dan keluarga yang sangat baik seperti keluarga Hendrawan.
Randy pun ikut mendekat dan memanggil Marlina dengan sebutan yang sama dengan Karina.
"Selamat siang Bu, aku Randy!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Marlina sampai tercengang, Randy memang sangat tampan. Kalau artis wajahnya hampir sama dengan wajah Nicholas Saputra siapa yang akan menolak ketampanan seperti itu.
Membuat semua wanita yang ada di tempat itu benar-benar meleleh, bahkan Susi nyaris pingsan melihat wajah dan sikap Randy itu.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah, Rumah kecil itu jadi sangat penuh. Rizal langsung saja pada tujuannya datang ke rumah Marlina. Dan tujuan Rizal itu di sambut baik oleh Marlina dan Bu RT selaku perwakilan keluarga. Karena memang Karina dan Marlina tak ada lagi keluarga yang lain.
Acara lamaran pun selesai, hari pernikahan juga sudah di tentukan. Rizal pun mengajak Marlina dan kedua adik Karina ikut bersama mereka. Namun mereka dan Bu RT bilang akan datang satu hari sebelum hari H. Mereka akan menyiapkan segala sesuatunya dulu dari sini. Rizal juga tidak memaksa, dia akan mengirimkan mobil untuk menjemput Marlina dan kedua adik, serta Bu RT nanti ke kota.
Karena memang rumah Karina kecil dan hanya ada dua kamar. Setelah lamaran selesai, Davina pun memutuskan untuk langsung pulang saja. Dia juga harus menyiapkan banyak hal di rumahnya sebagai tempat di laksanakan nya pernikahan Randy dan Karina.
"Mohon maaf, karena keadaan rumah kami. Kalian jadi tidak bisa istirahat dengan baik...!"
"Tidak apa-apa besan. Kami bahkan salut padamu, di rumah yang sangat sederhana ini, tapi kamu bisa mendidik seorang putri dengan kepribadian yang sangat baik seperti Karina. Kamu tidak tahu kan betapa anakku ini bersusah payah mengejarnya, dengan berbagai cara...!"
__ADS_1
"Ibu!" ucap Randy menyela ucapan Davina sambil menggaruk tengkuknya.
Semua orang di buat terkekeh. Marlina melihat sekilas ke arah Karina. Dan rasa bangganya pada putrinya itu bertambah. Karena ternyata memang Randy yang mengejarnya. Bukan sebaliknya.
Setelah makan bersama, dan foto bersama. Keluarga Randy meninggalkan rumah Marlina. Karina juga ikut mereka. Karena mereka akan mampir ke makam ayah Karina sebelum pulang ke kota. Semuanya terlihat masih memandangi dia mobil yang menjauh dari tempat itu.
Bu RT menepuk bahu Marlina yang matanya berkaca-kaca.
"Sudah ku bilang kan teh! hidup kalian akan berubah di tangan Karina. Dia sangat mandiri, dia adalah pekerja keras. Jika kang Lihin masih ada saat ini. Dia juga pasti sangat bangga pada Karina!" ujar Bu RT.
Marlina hanya bisa mengangguk dan menangis. Dia benar-benar bangga pada Karina.
Cukup jauh dari rumah Marlina, sekitar setengah jam, mereka pun berhenti di sebuah pemakaman umum.
"Kenapa makamnya jauh sekali dari rumah mu, sayang?" tanya Randy.
Karina terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Saat ayah meninggal, kami tidak punya uang. Dan hanya di sini lah tempat pemakaman umum yang tidak di pungut biaya!" jelas Karina dengan suara pelan.
Davina yang mendengar itu, matanya langsung berkaca-kaca lalu memeluk Karina.
"Sayang, jangan sedih ya. Nanti ibu akan belikan tanah di dekat rumah mu. Makam ayah mu bisa di pindahkan di sana. Agar ibu dan adik-adik mu tidak perlu jauh-jauh kalau mau ziarah!" ucap Davina yang mendapatkan anggukan setuju dari Rizal.
"Terimakasih Tante!" ucap Karina.
"Hei, kenapa masih panggil Tante, panggil ibu!" seru Davina.
"Terima kasih ibu!" ralat Karina yang langsung kembali memeluk Davina.
Randy tampak tersenyum senang, dia tidak menyangka kalau sikap ibunya juga sudah jauh berubah jadi lebih baik lagi semenjak peristiwa demi peristiwa yang sudah terjadi pada keluarga mereka.
__ADS_1
***
Bersambung...