Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 198


__ADS_3

Shafa dan Joseph sudah tiba di sebuah toko yang sangat besar yang memang menjual semua perlengkapan untuk camping dan olahraga outdoor. Bahkan peralatan snorkeling juga ada di toko itu.


"Jo, kita punya tenda tidak?" tanya Shafa santai pada Joseph sambil melihat-lihat produk yang si jual di toko itu.


Joseph yang memang selalu berada kurang dari satu meter di belakang Shafa pun segera menyahut.


"Ada nona!" jawab Joseph singkat.


"Berapa?" hanya Shafa.


"Berapapun anda butuhkan, aku pasti akan menyiapkan nya!" jawab Joseph.


Shafa langsung menghentikan langkahnya dan berbalik, Joseph yang memang sedang melihat barang-barang yang ada di sisi kanannya tidak menyadari kalau Shafa sudah berhenti. Tapi karena Joseph memang sigap, dia tidak sampai menabrak Shafa.


Shafa yang melihat Joseph berhenti tepat lima centimeter di depannya pun berdecak kesal.


"Ck... kenapa tidak menabrak ku sih, Jo? kan kalau kamu menabrak ku, pasti akan seperti drama-drama Korea yang so sweet itu. Kita bisa saling pandang, dengan wajah memerah...!"


"Jangan banyak nonton drama Korea nona, atau kamu akan semakin banyak berhalusinasi!" ucap Joseph menyela Shafa lalu melewatinya menuju ke tempat lain.


Shafa sampai menghentakkan kakinya karena kesal dengan sikap Joseph yang terus-menerus dingin padanya padahal sudah berkali-kali Shafa menyatakan perasaannya pada pria yang mungkin lebih cocok jadi om nya itu.


Setelah semua perlengkapan di beli untuk liburan ala camping mereka. Joseph memutuskan untuk mengantarkan Shafa pulang. Karena hari juga sudah mulai larut.


"Pak tua kita makan malam dulu ya!" ajak Shafa.


"Baiklah, nona mau makan malam di mana?" tanya Joseph.


"Di rumah mu saja!" celetuk Shafa.


"Tidak nona, tidak ada apa-apa di rumah ku!" ucap Joseph memberikan alasan untuk menolak permintaan Shafa.


"Kalau begitu kita ke supermarket dulu, aku akan masakan makanan untuk mu!" Shafa sangat bersemangat, dia ingin menunjukkan pada Joseph kalau dia juga bisa memasak seperti Karina.


"Nona, ini sudah malam. Tuan besar dan nyonya besar pasti akan khawatir kalau nona...!"


"Aku kan pergi bersama mu, mereka tidak akan khawatir. Ayolah Jo, aku ingin tunjukkan padamu kalau aku juga bisa memasak!" pinta Shafa yang bahkan menyatukan kesepuluh jarinya di depan Joseph.


Joseph jadi tidak tega juga melihat Shafa memohon seperti itu. Joseph hanya bisa menghela nafas berat lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat pada Shafa.


Shafa senang bukan main, dia bahkan langsung meraih ponselnya dan mencari di internet bahan masakan yang harus dia siapkan untuk membuat menu makan malamnya dengan Joseph.

__ADS_1


Di sebuah supermarket Shafa dan Joseph sudah berada saat ini. Joseph mendorong troli belanjaan sedangkan Shafa sibuk dengan ponsel dan bahan-bahan yang harus dia siapkan untuk membuat spaghetti bolognese untuk makan malamnya dengan Joseph. Mereka juga membeli makanan, minuman juga buah yang akan mereka bawa ke liburan mereka nanti.


Beberapa pasang mata mulai memperhatikan Joseph dan Shafa.


"Wah, mas nya baik bener ya. Istrinya belanja di temenin!" celetuk ibu-ibu yang tidak sengaja lewat dekat mereka.


Blush


Wajah Shafa merona, dia bahkan tersenyum senang lalu melihat ke arah belakang. Tapi sayang ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Joseph tidak seperti harapannya.


Niat jahil Shafa pun keluar, karena beberapa ibu-ibu juga membicarakan mereka di dekat mereka.


"Sayang, jangan cemberut gitu dong! nanti di kiranya kita lagi berantem loh!" ucap Shafa yang lalu menggandeng lengan Joseph.


Saat Joseph akan menepisnya, ibu-ibu tadi kembali berkata.


"Iya mas, kasihan istrinya kalau muka mas galak gitu nanti di kira orang kalian sedang bertengkar. Masalah dalam rumah tangga itu biasa mas, mbak. Tapi kalau bisa cukup di dalam rumah saja. Jangan sampai keluar pintu mas!" nasehat ibu-ibu itu pada Joseph.


Shafa terkekeh menahan tawanya mendengar Joseph di nasehati seperti itu oleh ibu-ibu yang bahkan mereka tidak kenal. Sementara Joseph baru akan menjelaskan kalau dia bukan suami Shafa, Shafa langsung mencium pipi kiri Joseph sekilas.


Cup


"Sayang maaf ya, lain kali aku tidak akan keluar rumah tanpa ijin lagi!" ucap Shafa.


"Ya ampun, kalian ini pasti masih pengantin baru ya. Ya sudah, yang akur-akur ya!" ucap si ibu lalu pergi meninggalkan mereka.


Setelah ibu itu pergi Joseph langsung menepis tangan Shafa.


"Nona, kenapa nona membuat ibu itu salah paham?" tanya Joseph dengan nada suara tidak suka.


"Ck... benar-benar kekanak-kanakan!" ketus Joseph lalu meninggalkan Shafa dan mendorong troli belanjaan mereka menuju kasir.


Shafa yang melihat Joseph marah seperti itu memilih untuk langsung keluar dari supermarket dan menunggunya di dekat mobil. Karena Shafa juga tidak bisa masuk ke dalam mobil sebab kuncinya masih ada pada Joseph.


Saat sedang menunggu Joseph, ibu-ibu tadi yang bertemu di dalam supermarket ternyata mobilnya terparkir di sebelah mobil Shafa.


"Loh, kenapa sendirian di sini. Suami mu sepertinya masih di dalam?" tanya ibu itu.


Shafa pun mengangguk.


"Iya Bu, dia sedang membayar!" jawab Shafa dengan ekspresi wajah yang sedih. Memang dia sedang sedih karena Joseph marah lagi padanya.

__ADS_1


Ibu itu mengerti sepertinya Joseph masih marah pada Shafa. Ibu itu lalu menepuk bahu Shafa perlahan.


"Jangan sedih, suami marah karena kita keluar tanpa ijin itu biasa. Artinya dia sayang pada kita!" jelas si ibu.


Shafa mengernyitkan keningnya karena si ibu ternyata memperhatikan apa saja yang dia katakan pada Joseph di dalam supermarket tadi.


"Yang penting setelah kalian pulang ke rumah nanti, kamu harus minta maaf dengan tulus pada suami mu. Suami itu bisa di rayu dengan tiga hal, pertama telinganya, perutnya, dan yang ada di bawah perut." ucap ibu itu sambil terkekeh pelan.


"Mengerti kan?" tanya ibu itu pada Shafa.


Shafa yang memang masih awam dengan masalah kehidupan rumah tangga pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Si ibu malah terkekeh melihat Shafa menggelengkan kepalanya dengan cepat seperti itu.


"Memangnya kamu sudah berapa lama menikah nak?" tanya ibu itu.


Shafa hanya nyengir, lalu ibu itu pun menebak.


"Masih baru ya? belum ada setahun?" tanya ibu itu dan Shafa pun menggelengkan kepalanya lagi.


"Oh pengantin baru ya, padahal suami mu itu seharusnya sudah punya empat atau lima anak loh!" sindir si ibu dan Shafa pun kembali tersenyum getir.


"Maksud ibu, kamu harus bisa memu4skan pendengaran nya, sesekali puji suami itu tidak masalah, jangan hanya mengharapkan pujian darinya. Lalu puask4n juga perutnya. Masak yang enak, kalau belum bisa memasak maka harus lebih banyak berlatih, jangan sampai suami lebih suka makan di luar, kalau bisa buat suami selalu merindukan masakan rumah. Yang terakhir kamu tahulah ya... !" ucap ibu itu sambil mencol3k lengan Shafa.


"Ayo!" ucap dingin Joseph yang muncul tiba-tiba di depan pintu pengemudi dan langsung membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.


"Bu, aku duluan ya. Terimakasih banyak nasehatnya!" ucap Shafa.


"Iya, jangan lupa praktek kan ya!" sahut ibu itu.


Di dalam perjalanan Shafa yang canggung takut-takut kalau Joseph mendengar percakapan nya dengan ibu tadi pun mulai bertanya pada Joseph.


"Jo, sejak kapan kamu ada disana tadi?" tanya Shafa.


"Sejak wanita tua itu bilang seharusnya aku sudah punya lima anak!"


glek


Shafa menelan salivanya bulat-bulat.


'Ya ampun, dia pasti tambah kesal sekarang!' batin Shafa.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2