
Joseph langsung memalingkan wajahnya ketika Shafa mengatakan hal terus terang seperti itu padanya.
Merasa di acuhkan Shafa pun merasa semakin kesal, tangannya yang sakit membuatnya tidak konsentrasi. Sambil mengusap-usap tangannya mencoba meredakan rasa sakitnya Shafa hendak berjalan menuruni jembatan dermaga dan kembali ke paviliun untuk mengambil krim pereda rasa sakit untuk kedua lengannya yang terasa ngilu. Tapi karena kesal, dia malah tidak memperhatikan joran miliknya yang dia letakkan di atas jembatan kayu dermaga.
"Aghkkkk!" Shafa terpeleset dan akhirnya terjebur ke laut.
Byurrr
Joseph yang mendengar teriakkan Shafa langsung berbalik, begitu melihatnya terjebur ke laut, Joseph tanpa pikir panjang, bahkan dengan setelan jas lengkap dan sepatunya langsung menceburkan dirinya ke laut untuk menolong Shafa.
Joseph meraih tangan Shafa lalu memeluknya, mereka berdua pun menyembulk4l kepala mereka ke atas air. Saat itulah mereka baru sadar kalau tinggi air itu hanya sebatas dada Shafa saja.
"Shafa, kamu baik-baik saja?" tanya Joseph cemas.
Shafa yang sudah mengusap wajahnya melihat Joseph begitu terlihat cemas, dalam hatinya sangat senang. Tapi Shafa yakin kalau dia mengatakan dirinya baik-baik saja, Joseph akan langsung melepaskan pelukannya dan membuatkan Shafa berjalan ke tepian sendiri.
"Pak tua, seluruh tubuhku rasanya remuk. Kedua tangan ku sulit bergerak... !" ucap Shafa dengan nada lemah. Sebenarnya dia hanya akting, tapi masalah tangannya yang sakit itu memang benar adanya.
Joseph yang sangat cemas dan merasa bersalah pada Shafa langsung menggendong tubuh nona nya itu ala bridal style. Joseph berjalan perlahan menuju ke tepian, karena sepatu dan juga setelan jas lengkap itu membuat beban Joseph semakin bertambah berat.
Shafa yang tadinya tidak berpegangan pun, mengangkat kedua tangannya lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Joseph.
"Katamu tangan mu tidak bisa bergerak?" tanya Joseph curiga.
"Aku tidak bohong tentang tanganku yang sakit, aku hanya berpegangan takut kamu terpeleset dan aku jatuh lagi. Jika kamu keberatan, maka akan aku lepaskan...!"
"Tidak apa-apa nona, aku tidak keberatan!" sela Joseph sebelum Shafa menyelesaikan kalimatnya.
Shafa tersenyum bahkan semakin mengeratkan kedua tangannya yang bertaut di belakang leher Joseph.
"Hari ini sudah dua kali kamu memanggil namaku, apa boleh kalau jangan panggil aku nona lagi?" tanya Shafa pada Joseph.
Joseph masih terdiam dan hanya fokus melihat ke arah depan. Mereka sudah sampai di tepi pantai, Shafa pikir Joseph akan menurunkannya tapi ternyata tidak. Bahkan Joseph sudah menggendongnya masuk ke dalam paviliun.
Joseph bahkan langsung membawa Shafa ke dalam kamarnya.
"Terimakasih pak tua, selanjutnya aku bisa sendiri. Kamu juga pasti lelah kan, beristirahatlah!" ujar Shafa yang sudah di turunkan Joseph di atas ranjangnya.
Joseph pun mengangguk paham dan dia pun berbalik akan meninggalkan Shafa menuju pintu kamar Shafa. Tapi ketika tiba di ambang pintu, Joseph berbalik dan menoleh ke arah Shafa.
"Setelah kamu resmi bercerai nanti, aku akan memanggilmu hanya dengan nama mu!" ucap Joseph sambil berlalu.
__ADS_1
Shafa sampai melongo mendengar apa yang baru saja Joseph katakan. Shafa bahkan mencubit lengannya sendiri karena mengira semua yang dia dengar tadi adalah mimpi.
"Aughhh!"
"Ini bukan mimpi!" seru Shafa sangat senang.
Shafa bahkan langsung turun dari tempat tidurnya dan melompat lompat kegirangan. Sampai ketika dia mengangkat tangannya ke atas, dia merasa sangat ng1lu.
"Aughkk, lenganku sakit sekali!" ucapnya lalu masuk ke kamar mandi.
Ternyata Joseph masih berdiri di belakang dinding kamar Shafa. Dahi pria berwajah datar itu berkerut.
'Tangannya pasti masih sangat sakit!' sesalnya dalam hati.
Joseph bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Secepatnya dia mandi dan berganti pakaian lalu dia mencari krim perasa rasa sakit untuk mengobati tangan Shafa.
Setelah mendapatkan krim itu Joseph bergegas ke kamar Shafa yang pintunya masih terbuka.
Joseph tidak melihat Shafa di sekitar ruangan, Joseph berpikir mungkin Shafa ada di dalam kamar mandi. Dengan cepat Joseph berjalan ke arah pintu kamar mandi, tapi baru akan mengetuk pintunya.
Ceklek
"Ya ampun, jantungku!" gumam Shafa sambil memegang dadanya. Ini bukan akting, Shafa memang benar-benar terkejut bukan main.
"Nona, aku membawakan krim ini untuk tangan mu. Ini akan meredakan rasa sakitnya!" jelas Joseph.
Shafa pun mencoba meraih krim itu, namun saat dia mengangkat tangannya, jubah mandi bagian bawahnya sedikit terangkat. Membuat Joseph yang refleks melihat ke arah itu langsung berbalik badan.
Shafa yang nyaris mengambil krim itu dari tangan Joseph pun bingung, kenapa malah dia berbalik.
"Pak tua, kalau kamu berbalik mana bisa aku ambil krimnya dari tanganmu!" keluh Shafa.
"Sebaiknya nona berpakaian dulu!" ujar Joseph.
Shafa pun menghela nafas panjang, dia lalu meraih pakaian yang ada di atas ranjang dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Joseph pun duduk di tepi ranjang Shafa, dia melihat ke arah krim perasa rasa sakit yang dia pegang.
'Kenapa aku menunggunya, bukankah aku bisa hanya meletakkan krim ini di atas meja dan pergi dari sini, kenapa aku menunggunya?' tanya Joseph dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, Shafa keluar dan langsung duduk di samping Joseph.
__ADS_1
"Oleskan!" seru Shafa mengarahkan kedua tangannya ke depan Joseph.
Tanpa protes Joseph membuka penutup krim itu, lalu mengoleskannya perlahan ke tangan kanan Shafa, sangat perlahan. Setelah itu dia juga mengoleskannya ke tangan kiri Shafa, bahkan sambil memijatnya perlahan.
"Apa lebih baik?" tanya Joseph.
Shafa mengangguk dengan cepat.
"Iya, sangat lebih baik. Apalagi di oleskan oleh mu, pasti akan cepat sembuh!" ucap Shafa sambil tersenyum.
Melihat Shafa tersenyum, Joseph pun ikut tersenyum dan meneruskan apa yang dia lakukan. Joseph bahkan terus memijat lengan Shafa bergantian kanan dan kiri.
"Pak tua, apa kamu sudah menyukai ku sekarang?" tanya Shafa begitu terus terang.
Joseph menghentikan gerakan tangannya.
"Aku memang menyukai mu... !"
Shafa tersenyum sangat senang.
"Aku juga menyukai tuan Randy, tuan Dave.. nyonya dan tuan besar...!"
Shafa langsung berdecak kesal. Dia bahkan langsung berdiri dan menarik tangan Joseph lalu mendorongnya keluar dari kamarnya dan kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras.
Blam
"Dasar pak tua, apa dia itu bod0h? apa dia tidak tahu kemana arah perkataan ku?" omel Shafa yang sangat kesal pada Joseph.
Joseph yang masih berdiri di depan pintu dan masih bisa mendengar omelan Shafa itu hanya terkekeh pelan.
'Aku mengerti Shafa, aku mengerti. Tapi status mu masihlah nyonya Oberen sampai saat ini!' gumam Joseph dalam hatinya.
Sementara itu di dalam kamar Karina, Randy sampai tertidur sambil duduk di sebuah sofa single di depan tempat tidur Karina, yang tengah tertidur. Sejak dari Randy keluar dari kamar untuk membuatkan teh tadi, begitu Randy kembali, Karina ternyata sudah tidur.
Karina perlahan membuka matanya, dia melihat Randi yang tertidur sambil duduk dengan segelas teh yang ada di atas meja di depan sofa yang dia duduki.
'Dia bahkan menungguku yang sedang tidur, segitu perhatiannya dia padaku, apakah dia benar-benar mencintai ku?' tanya Karina dalam hati.
***
Bersambung...
__ADS_1