
Setelah menyelesaikan laporan untuk meeting nanti malam di rumah Hadi. Anita segera menyerahkannya pada Dave. Sebenarnya dia ingin sekali bisa ikut dalam meeting itu, tapi karena Joseph mengatakan dirinya dan Sila yang akan ikut pergi, meski kecewa Anita menerima keputusan itu dan tetap mengerjakan laporan itu dengan baik.
"Tuan, ini dokumen untuk meeting dengan perusahaan T. Semua sudah aku rubah sesuai dengan instruksi tuan!" ucap Anita dengan yakin sambil meletakkan sebuah map di atas meja kerja Dave tepat di depan dokumen yang sedang Dave periksa.
"Berikan itu pada Sila agar bisa dia pelajari!" seru Dave tanpa melihat ke arah Anita.
Anita pun meraih kembali dokumen itu dan memberikannya pada Sila.
"Sila, ini!" ucap Anita malas.
Sebenarnya dia ingin Dave yang memeriksa hasil kerjanya. Jadi dia kecewa ketika Dave tidak melihatnya dan malah menyuruhnya memberikannya pada Sila.
"Terimakasih Anita!" ucap Sila lalu meraih dokumen itu mendekat padanya.
Saat melihat Sila meraih dokumen itu, Anita melihat tangan Sila yang tidak memakai sarung tangan. Anita pun segera mendekati Sila, setelah berdiri di samping Sila. Anita langsung berkata.
"Sila, apa kamu kehabisan sarung tangan?" tanya Anita sambil berbisik.
Sila langsung melihat ke arah kedua tangannya. Dia baru sadar kalau sejak tadi dia tidak pakai sarung tangan seperti biasanya.
"Ya ampun, aku lupa. Tadi aku dari toilet!" ucap Sila beralasan pada Anita.
"Cepat pakai, atau tuan Dave bisa marah padamu!" bisik Anita lagi sambil melirik sekilas ke arah Dave.
Sila tersenyum dan langsung mengangguk.
__ADS_1
"Iya, terimakasih Anita kamu sudah mengingatkanku!" jawab Sila yang langsung meraih sarung tangan dari laci meja kerjanya.
"Ya sudah aku keluar dulu, baca dokumen itu dengan baik!" ujar Anita dan langsung di balas anggukan kepala mantap oleh Sila.
Setelah Anita keluar ruangan, Sila masih tersenyum ke arah pintu. Dave yang melihat hal itu pun bertanya pada istrinya itu.
"Kenapa? kamu terlihat begitu senang?" tanya Dave pada Sila.
"Iya tuan, ternyata Anita sangat baik dan perhatian!" jawab Sila senang. Dia merasa kalau dia mendapatkan teman kerja yang baik seperti Karina dan Prita.
Dave hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan kembali pekerjaan nya.
***
Sementara itu di tempat lain, orang yang sedang di pikirkan oleh Sila sedang menghadapi suasana yang cukup sulit. Karina sedang di tegur oleh Riyanti, CEO baru perusahaan nya hanya karena salah membuatkan minuman untuk kekasih Riyanti yang memang sengaja melakukan itu karena Karina menolak untuk memberikan nomer nya pada pria itu.
'Nona Riyanti ini buta atau bagaimana sih, jelas-jelas dia melihat kekasihnya itu tadi menyentuh tanganku, kenapa dia malah diam saja! lagipula aku ini staf dari divisi keuangan, bagaimana cara pandangnya sampai kinerjaku di nilai dari secangkir kopi. Ya Tuhan, buka mata bos ku ini, dia benar-benar di butakan oleh cinta!' batin Karina yang hanya berani membatin saja dan tak berani mengatakan nya secara langsung pada Riyanti.
"Maaf nona, saya akan buatkan yang baru!" ucap Karina yang ingin secepatnya pergi dari ruangan ini karena sejak tadi mata kekasih Riyanti itu membuatnya merinding ketika melihat ke arah Karina.
"Sudah sayang, bagaimana kalau kita keluar saja. Sudah waktunya makan siang bukan?" tanya kekasih Riyanti yang langsung memeluk pinggang Riyanti dengan mesra.
Karina langsung memalingkan pandangannya dari kedua orang itu karena merasa matanya akan terno*da kalau melihat pemandangan seperti itu.
"Randy sayang, maaf ya. Lain kali aku tidak akan menyuruhnya membuatkan mu minuman!" ucap Riyanti lalu beralih ke arah Karina lagi.
__ADS_1
"OB saja masih lebih pintar membuatkan minuman, aku rasa tidak akan ada pria yang menyukaimu. Dasar tidak bisa apa-apa, pergi sana!" ketua Riyanti.
Karina langsung menundukkan sedikit badannya memberi hormat.
"Baik nona!" ucap Karina tetap sopan.
Karina pun berjalan keluar dari ruangan CEO. Setelah berada di luar pintu Karina langsung mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya .
"Uh, menyebalkan. Dasar pria mesum, kadal buntung! aku kesal sekali padanya. Aku memang sengaja membuatkannya kopi yang pahitnya lebih dari hidupku, biar pria playboy cap kadal itu tahu rasa. Enak saja dia main perintah-perintah seenaknya, aku ini staf keuangan kenapa malah di suruh jadi OB kalau dia datang kesini. Menyebalkan!" omel Karina sambil sesekali melirik ke arah pintu ruangan Riyanti.
Dan benar sekali, kalau pria yang merupakan kekasih Riyanti itu memang adalah Randy. Randy Hendrawan, kakak kandung Dave. Dia sengaja menjalin hubungan dengan Riyanti bukan karena dia menyukai wanita itu. Awal pertemuan mereka adalah di sebuah klub malam, ketika itu Riyanti begitu frustasi karena harus mengemban tanggung jawab mengurus perusahaan karena sang ayah sakit parah. Saat itulah Randy menghiburnya, dan beberapa saat kemudian menjadi kekasihnya hingga sekarang ayah Riyanti meninggal dunia dan perusahaan menjadi miliknya. Randy juga bekerja sama dengan Riyanti. Untuk Randy, hubungan ini memang sangat menguntungkan.
Tapi sayangnya Randy tidak memiliki perasaan yang sama dengan Riyanti. Kalau Riyanti tulus mencintainya bahkan rela memberikan apapun yang Randy mau. Sedangkan Randy hanya menganggap Riyanti sebagai mainannya saja, sama seperti wanita-wanita lain yang ia miliki sebelumnya. Dia menjadi kekasih Riyanti juga demi kerja sama bisnisnya. Benar-benar bukan simbiosis mutualisme sama sekali, hanya saja setiap orang yang tengah di landa asmara mana ada yang memikirkan tentang keuntungan atau kerugian. Asal yang kita cintai bahagia dan menunjukkan kasih sayangnya pada kita, maka itu sudah terasa lebih dari cukup.
"Sayang, sebenarnya aku ada pertemuan penting sekarang, tapi aku tidak ingin meninggalkan mu sendirian disini. Bagaimana kalau kamu ikut saja dengan ku ke rumah meeting!" ucap manja Riyanti sambil bicara di pangkuan Randy dengan tangan yang terus mengusap bibir tebal sang kekasihnya itu.
"Pergilah, meskipun tidak masalah. Tapi tetap saja klien mu tidak akan senang kalau aku ikut meeting bersama mu. Aku akan menunggumu disini!" sahut Randy.
Riyanti lantas bangkit dan berdiri.
"Baiklah, tapi janji ya tunggu aku disini. Aku janji tidak akan lama, hanya lima belas menit. Setelah itu kita akan makan siang bersama!" ucap Riyanti yang di balas anggukan serta senyum yang begitu memikat dari Randy.
Tapi setelah Riyanti keluar dari ruangannya. Randy pun berdiri dan merapikan jas nya.
"Menunggu disini, yang benar saja. Lebih baik aku mengganggu macan betina itu saja!" gumam Randy lalu berjalan keluar dari ruangan CEO menuju divisi keuangan.
__ADS_1
***
Bersambung...