Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 199


__ADS_3

Shafa pun jadi tidak tenang setelah melihat ekspresi Joseph yang terlihat seperti ingin makan orang itu. Hingga sepanjang perjalanan hingga ke apartemen Joseph, Shafa memilih diam dan tak bicara satu kata pun.


Bahkan saat tiba di basemen apartemen, Shafa memilih untuk membuka pintu mobil sendiri sebelum Joseph membukakan nya untuknya. Dia bahkan mengambil bahan makanan yang ada di bagasi mobilnya. Dia memilih kantong dari supermarket, itu pasti isinya bahan makanan.


Shafa bahkan langsung berlari menuju lift ketika melihat pintu lift terbuka karena ada seseorang yang baru saja menggunakan nya. Shafa menahan pintu lift dengan kakinya menunggu Joseph yang sedang berjalan ke arahnya.


"Lain kali jangan gunakan kaki, bahaya!" tegur Joseph lalu membiarkan pintu lift tertutup dan menekan tombol yang bertuliskan angka 10 dimana unit apartemen Joseph ada di lantai itu.


Selama di dalam lift Shafa juga hanya memilih menundukkan kepalanya. Shafa memang suka menjahili Joseph, tapi kalau pria itu sudah marah. Dia juga sangat takut, melihat wajahnya saja Shafa bahkan tidak akan berani.


Ting


Pintu lift terbuka, Joseph dan Shafa keluar dari sana. Joseph lalu meminta semua kantong belanja yang di bawa oleh Shafa.


"Berikan padaku!" seru Joseph.


Shafa bukan tidak tahu apa yang diminta oleh Joseph. Shafa tahu dia minta kantong belanjaan yang dia bawa. Tapi Shafa yang melihat Joseph mulai perduli padanya mencoba untuk nak4l lagi pada Joseph.


"Kan sudah ku berikan!" jawab Shafa.


Joseph mengernyitkan keningnya karena jawaban Shafa itu ambigu.


"Nona, kamu tahu tidak aku minta apa padamu?" tanya Joseph sedikit kesal.


Shafa pun mengangguk paham.


"Tahu, kamu minta hatiku kan! dan itu sudah kuberikan padamu sepuluh tahun yang lalu!" ucap Shafa membuat Joseph menghela nafas dan menarik kantong belanjaan dengan paksa dari tangan Shafa.


Joseph kemudian meninggalkan Shafa menuju unit apartemen nya. Shafa terkekeh pelan, dia memang tidak pernah sakit hati pada setiap penolakan Joseph. Karena dia tahu, cinta itu butuh usaha butuh perjuangan. Tidak sekedar memberi obat perangs4ng untuk bisa membuat seseorang menjadi milikmu seutuhnya.


Shafa mengikuti Joseph masuk ke dalam unit apartemen nya. Ini adalah kali pertama Shafa masuk ke apartemen Joseph. Dia menutup pintu yang terbuka, hingga pintu itu pun terkunci secara otomatis.


Shafa kemudian mengikuti Joseph yang sedang berada di dapur. Dengan cepat Shafa mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kantong belanjaan lalu membuka blazer yang dia pakai.


"Dimana Appron nya?" tanya Shafa.


"Di laci itu!" jawab Joseph sambil menunjuk sebuah laci.

__ADS_1


"Oh baiklah, kamu mandi saja dulu. Aku akan selesaikan yang ada di sini!" ucap Shafa begitu percaya diri.


Joseph pun menuruti apa yang di minta Shafa. Dia pergi ke kamarnya dan mandi. Sementara Shafa sedang menyiapkan air di sebuah panci kecil kemudian meletakkannya di atas kompor. Dia mengikuti tutorial yang ada di ponselnya.


Sesekali tangan cantik dan mulu5 Shafa menyentuh pinggiran panci yang membuatnya sampai loncat loncat kepanasan.


"Aduh, ya ampun ini ketiga kalinya. Kenapa susah sekali sih cuma masak pasta saja!" keluh Shafa yang mengguyur pinggir telapak tangannya dengan air dingin karena terkena pinggir panci yang panas.


Pada percobaan pertama, pasta yang dia masak terlalu matang, membuatnya tidak bisa di sendok dengan garpu.


"Oh tidak, ini bahkan seperti bubur!" gumamnya.


Tapi Shafa tidak menyerah, dia mengulangi lagi merebus pasta. Shafa menyesuaikan waktunya kalau dan mengurangi lima menit dari waktu perebusan pertama tadi.


Shafa cukup puas dengan hasil pastanya yang kedua. Senyuman lebar terpancar dari wajahnya, dia begitu sibuk sampai tidak sadar kalau Joseph yang sudah mandi dan berganti pakaian dengan kaos berkerah dan celana jeans pendek sedang memperhatikan nya. Joseph bahkan ikut tersenyum saat Shafa tersenyum melihat hasil masakannya.


Selanjutnya Shafa membuat saus untuk pastanya, dia membuka daging kaleng dan menuangkannya di atas pan.


"Ya ampun, aku lupa. Seharusnya tumis bawang bombai nya dulu!" gumamnya.


Tapi saat bawang bombai dengan ukuran besar itu akan di potong, bawang itu malah lari-lari dari talenan.


"Ya ampun, tolong pengertian nya ya bawang. Aku sudah sangat lapar!" keluh Shafa mengomeli bawang bombai yang ada di depannya.


Joseph terkekeh tanpa suara, karena tingkah Shafa itu.


"Aughhh!" pekik Shafa tiba-tiba.


Joseph langsung bergegas menghampiri Shafa.


"Ada apa nona?" tanya Joseph panik.


"Hiks... tangan ku sakit, perih!" Shafa menangis dan menunjukkan jari telunjuk kirinya yang sudah berlumur4n darah karena tidak sengaja teris1s pis4u saat akan memotong bawang bombai.


Melihat Shafa menangis dan jarinya terluka, Joseph tanpa pikir panjang langsung meletakkan jari telunjuk kiri Shafa itu ke mulutnya. Dan menghis4p darah yang keluar.


"Jo, jangan..!"

__ADS_1


Tapi Joseph tidak mendengarkan Shafa, Setalah dar4hnya tidak sebanyak tadi, Joseph langsung mengajak Shafa ke meja makan. Dia minta Shafa duduk dan Joseph mengambil sebuah salep dan plester dari laci meja di ruang televisi.


Joseph mengobati dan memplester luka di jari tangan Shafa dengan hati-hati. Joseph lalu menyeka air mata Shafa di wajahnya.


"Masih perih?" tanya Joseph.


Shafa yang memang masih merasakan perih di jarinya pun mengangguk.


Entah muncul pikiran darimana, Joseph langsung mengarahkan jari Shafa yang masih dia pegang ke bibirnya.


Cup


Deg


Joseph mengecup jari Shafa yang terbalut plester luka. Membuat jantung Shafa serasa mau loncat dari tempatnya berada. Getaran aneh juga membuat wajah Shafa memerah seketika. Nafasnya terasa tercekat di leher. Shafa sampai melongo melihat apa yang Joseph lakukan untuk meredakan perih di jarinya.


Joseph bahkan mengelus kepala Shafa dengan lembut.


"Biar aku yang lanjutkan, kamu lapar kan?" tanya Joseph.


Shafa benar-benar seperti terhipnotis, Shafa bahkan tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun sangking terkejutnya melihat sikap Joseph seperti itu padanya.


Joseph langsung beranjak ke dapur dan melanjutkan masakan Shafa tadi.


Shafa yang duduk membelakangi dapur masih terdiam. Ini pertama kalinya Joseph bicara dengan begitu lembut seperti itu padanya, Shafa bahkan terus memandangi jarinya yang terbalut plester.


'Ini bukan mimpi kan, kalau aku tahu terluka bisa membuatnya perhatian padaku, maka aku akan...!' baru saja Shafa membatin.


Tapi langsung terdengar suara dari arah belakangnya.


"Jangan pernah berpikir untuk sengaja melukai dirimu!" pekik Joseph membuat Shafa langsung menggaruk kepalanya sendiri.


'Ya ampun, bagaimana mungkin dia bisa tahu apa yang aku pikirkan!' batin Shafa heran.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2