
Sila langsung panik melihat kakak iparnya pingsan. Dia langsung memanggil Oman dan Oman pun langsung datang dan mengangkat tubuh Niken ke atas sofa karena tadi Niken menulis di atas karpet karena lebih mudah menjadikan meja sebagai alas untuk dia menulis semua catatan barang-barang seserahan untuk Joseph.
"Oman tolong ke dapur. Ambilkan minyak angin. Minta pada bibi!" seru Sila yang langsung di turuti oleh Oman.
"Kakak, kak Niken. Ya ampun, kau bilang juga apa!" gumam Sila yang agak menyesal juga menyebutkan jumlah gaji Joseph.
Tak berapa lama Tini dan Prio yang sedang istirahat di kamar pun keluar dari kamar mereka karena mendengar Sila memanggil Oman dengan suara keras tadi.
Bersamaan dengan kedatangan mereka yang wajahnya panik, Oman sudah kembali dari dapur dengan minyak angin di tangan nya.
"Ini nyonya, minyak anginnya!" seru Oman sambil memberikan minyak angin pada Sila.
"Sila, ini Niken kenapa?" tanya Tini yang langsung mendekati Niken dan memeriksa menantunya itu.
"Kak Niken pingsan Bu!" jawab Sila sambil mengusapkan minyak angin ke tangannya lalu ke pelipis dan di antara bubur dan hidung Niken.
"Niken, nak bangun nak!" ucap Tini sambil menggoyang-goyangkan lengan Niken.
Tak lama kemudian, akhirnya Niken membuka matanya. Saat Niken membuka mata dan berusaha bangun lalu duduk di sofa, Sila pun menghela nafasnya lega.
"Huh, syukurlah kakak sudah siuman!" seru Sila merasa tenang.
"Niken kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Tini yang begitu cemas dan khawatir kalau menantu kesayangan nya itu kenapa-napa.
Niken langsung memegangi kepalanya.
"Aku gak apa-apa Bu, aku cuma syok denger gajinya Joseph!" seru Niken membuat Tini mengernyitkan dahinya.
Dia pikir menantunya kenapa, ternyata hanya syok mendengar gaji dari asisten suami Sila.
Tak berhenti sampai di situ, Niken juga langsung melihat ke arah Oman yang berdiri di belakang Sila.
"Nah Oman, kalau gajimu berapa?" tanya Niken yang langsung mendapatkan pukulan manis di lengannya oleh Tini.
"Hentikan Niken, nanti kamu pingsan lagi kalau dengar gajinya nak Oman!" ujar Tini membuat Sila dan Prio Utomo terkekeh.
Tapi mendengar dirinya di panggil dengan sapaan nak di depan namanya. Oman langsung menatap haru ke arah Tini.
__ADS_1
'Ya Tuhan, beruntungnya aku menjadi orang yang bisa menjaga dan melindungi keluarga yang hangat dan baik hati ini!' batin Oman yang sangat terharu pada kebesaran hati semua keluarga Sila dan Dave.
***
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Dave sudah sangat rapi. Sila yang baru membuka matanya sedikit terkejut melihat sang suami yang berpenampilan rapi namun bukan dengan pakaian kantornya.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Sila sambil menyibak selimutnya dan menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur.
Dave langsung menghampiri Sila dan berjongkok di depan Sila yang masih memakai piyama tidur yang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Sayang, kamu lupa ya? hari ini kita kan akan USG anak kita? aku sudah tidak sabar!" gelas Dave.
Dave bahkan memeluk Sila, dengan posisi itu wajah Dave menempel di perut Sila.
Dave mencium perut istrinya itu dengan ciuman bertubi-tubi.
"Selamat pagi kesayangan Daddy, hari ini kita akan tahu apakah kesayangan Daddy ini seorang pangeran atau seorang putri!" ucap Dave lembut berbicara pada anak yang masih berada dalam kandungan Sila.
Mata Sila berkaca-kaca mendengar apa yang Dave katakan pada anak mereka yang masih berada dalam kandungan Sila. Rasanya Sila sangat terharu, sangat takjub dan rasanya begitu mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dia dapatkan.
Perlahan tangan Sila menyentuh kedua pipi Dave.
"Mas, terimakasih telah hadir dalam hidupku...!" lirih Sila dengan mata yang berkaca-kaca.
Dave yang melihat istri tercintanya akan menangis langsung bangun dan memeluk Sila.
"Sayang, apa yang kamu katakan. Aku lah yang berterima kasih karena kamu telah datang ke hidupku, kamu melengkapi hidupku sayang. Aku sangat beruntung memiliki mu!" ucap Dave lembut dan membuat Sila menjadi begitu terharu.
Sila merasa semua ucapan Dave itu terbalik, Dave lah yang menjadi pelengkap hidupnya. Dan Sila yang merasa sangat beruntung ada Dave di sisinya.
"Sekarang, aku akan memandikan istriku yang cantik ini!" ucap Dave berusaha menggendong Sila.
"Mas, kamu kan sudah mandi. Kamu sudah rapi, nanti kamu basah lagi...eh!"
Dave tak mau mendengarkan ucapan Sila dan langsung menggendong istrinya itu.
__ADS_1
"Aku kan bisa ganti baju lagi sayang, tapi aku tidak mau melewatkan memandikan istriku tercinta ini!" ucap Dave membuat Sila tersipu malu.
Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi. Dan tentu saja, di dalam kamar mandi Dave tidak hanya membantu Sila mandi. Tapi juga membantunya menimbulkan suara-suara yang tak boleh di dengar anak di bawah umur.
Hampir setengah jam mereka berada di dalam kamar mandi. Dave memang pengertian, kalau biasanya dia jam saja dia tidak puas. Tapi karena sang istri sedang hamil, dia pun hanya membuat Sila menjerit tak karuan selama setengah jam saja setiap kalinya.
Dave yang keluar terlebih dahulu dan memilihkan pakaian ganti untuk Sila. Sementara Sila masih membersihkan dirinya sambil menggerutu.
"Apanya yang membantu ku mandi? ini aku mandi sendiri!" gerutu Sila
"Sayang, kamu mengatakan sesuatu?" seru Dave dari arah luar kamar mandi.
Dengan wajah cemberut, Sila menjawab.
"Tidak mas, ada tikus lewat!" sahut Sila dari dalam kamar mandi.
Dave yang tadi merasa kalau istrinya mengatakan sesuatu langsung mengernyitkan keningnya di depan pintu kamar mandi.
"Ada tikus?" gumamnya.
Dave lalu membuka pintu kamar mandi.
"Mas, ngapain lagi? mas sudah ganti baju loh?" tanya Sila menutupi dadanya dengan dua tangannya.
Dave terkekeh mendengar Sila berkata begitu sambil menutupi dadanya.
"Sayang aku juga sudah lihat semuanya, untuk apa di tutupi?" tanya Dave dengan tatapan menggoda pada Sila.
"Ih mas!" pekik Sila.
"Sayang, katamu ada tikus lewat. Dimana?" tanya Dave.
Sila menepuk dahinya sendiri, padahal dia tadi itu hanya sembarangan bicara.
"Sayang, kenapa menepuk dahi. Kamu di gigit nyamuk, sepertinya aku harus panggil pembasmi serangga ini!" gumam Dave sambil keluar dari dalam kamar mandi.
***
__ADS_1
Bersambung...
Hai para readers yang budiman, yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng yang baik hati dan rajin menabung. Mohon maaf ya, author nya lagi gak sehat. Jadi gak bisa up banyak-banyak. Satu aja ngetiknya berjam-jam, sambung lagi, tidur lagi, sambung lagi, makan dulu (curcol). Harap maklum ya, terimakasih atas pengertiannya, stay healthy semuanya, karena tanpa kalian author ini hanya remahan rempeyek. Hidup readers.... wkwkwk....