Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 295


__ADS_3

Randy pun segera berlari ke arah dapur, Randy memegang kepalanya dengan kedua tangannya ketika melihat wajah yang ada di atas kompor sudah mengepul asap hitam yang lumayan banyak.


"Astaga!" keluh Randy.


Randy melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari benda yang dapat dia pakai untuk di basahi dan di lemparkan ke atas wajan itu sebelum menimbulkan kobaran api.


Randy melihat taplak meja dan meraih taplak meja itu lalu meletakkan di wastafel cuci piring, lalu menghidupkan keran air. Setelah basah sempurna Randy langsung melemparkan taplak meja basah itu ke atas wajan.


Karina yang juga sudah tiba di situ langsung berseru agar Randy mematikan kompor nya terlebih dahulu.


"Randy, matikan kompornya!" seru Karina.


Randy langsung mendekat ke arah kompor dan mematikan kompor itu. Hingga asap hitam yang mengepul itu pun mengenai wajah Randy. Membuat wajah pria tampan, setampan Nicholas Saputra itu menjadi hitam.


"Uhukk... uhukk!"


Randy terbatuk-batuk karena asap yang dia hirup. Setelah asap itu menghilang perlahan, Karina baru mendekati Randy.


"Kamu tidak apa-apa?... ha ha ha!" Karina tertawa saat melihat Randy.


Randy pun terdiam, dia heran kenapa Karina bisa tertawa seperti itu saat melihat wajahnya.


"Randy wajahmu hitam, ya ampun... ha ha ha kamu terlihat seperti... seperti ****4* panci!" ujar Karina yang tidak tahu lagi harus mengibaratkan wajah hitam Randy itu seperti apa. Hanya kata itu yang ada di pikirannya.


Randy pun berjalan menuju ke kamarnya, dan masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata benar wajahnya hitam, terlihat sangat menyeramkan.


'Ini kan seram, kenapa Karina malah tertawa. Benar-benar ya wanita itu!' keluh Randy dalam hatinya.


Randy pun mencuci wajahnya yang hitam seperti arang. Setelah bersih dia menyeka wajahnya dengan handuk. Saat keluar dari dalam kamar mandi, Randy melihat Karina sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang masih menahan tawa saat melihatnya.


Karina memegang satu pack tissue basah, dia lalu berdiri dan menghampiri suaminya itu, setelah melihat Randy yang keluar dari kamar mandi. Perlahan Karina mengusap wajah suaminya dengan lembut menggunakan tissue basah.


"Jangan cemberut begitu!" ucap Karina.


"Kamu senang sekali menertawakan ku tadi!" keluh Randy.


"Karena wajahmu memang sangat lucu, baiklah aku minta maaf!" ucap Karina sambil terus mengusap beberapa bagian wajah Randy yang masih hitam dan tak terjangkau saat dia mencucinya sendiri tadi di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Randy langsung meraih pinggang Karina dan memeluknya.


"Apa ini sudah bisa membuatmu tidak marah lagi padaku?" tanya Randy dengan suara pelan.


Karina pun mengangguk.


"Aku memang tidak marah padamu, kamu sendiri yang mau memasak dan menyuruhku istirahat tadi. Kamu suamiku Randy, saat aku menerima lamaran mu, aku sudah putuskan untuk melupakan dan tidak mempermasalahkan semua masa lalu mu, aku menerima mu apa adanya dirimu. Yah... meski aku tahu itu tidak mudah, tapi bukan berarti aku tidak bisa kan?" tanya Karina yang membuat mata Randy berbinar mendengar semua ucapan Karina padanya.


"Maafkan aku, seharusnya saat itu aku tidak melampiaskan kesedihan ku dengan hal-hal negatif seperti itu!" sesal Randy yang tak berani menatap Karina.


Karina tahu Randy benar-benar tulus menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Karina menghela nafas panjang lalu memeluk Randy. Karina meletakkan kepalanya di dada Randy.


"Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan Randy. Asalkan ada niat dalam hatimu untuk memperbaiki segalanya, Tuhan juga pasti membantumu!" ucap Karina membuat hati Randy benar-benar seperti di siram air dingin yang menyejukkan.


Randy memeluk istrinya itu erat. Randy merasa sangat bersyukur, terharu dan senang karena Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan Karina. Wanita yang awalnya sangat sulit di dekati, tapi akhirnya kini menjadi satu-satunya wanita yang akan selalu dekat dengan nya.


***


Di rumah Prio Utomo, Sila sudah memberitahukan pada sang ayah maksud kedatangannya untuk meminta ayahnya menjadi wakil keluarga Joseph. Dan ayah Prio Utomo sangat antusias mendengar hal itu.


Sila pun tersenyum senang karena ayahnya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Joseph memang baik, siapapun juga tidak akan menolak hal itu.


"Wah, artinya akan ada pernikahan lagi di kediaman Hendrawan? itu luar biasa!" seru Niken yang baru datang dari arah kamar Tasya.


"Iya kak, masa Iddah Shafa juga sudah berakhir. Jadi ayah dan ibu memutuskan untuk tidak menunda lagi pernikahan Shafa dan Joseph!" jelas Sila senang.


Sila sangat senang, sebab Joseph adalah pilihan yang sangat tepat. Kedua menantu lain keluarga Hendrawan benar-benar adalah orang-orang yang begitu dekat dengan Sila. Karina yang adalah sahabat baiknya, juga Joseph yang merupakan orang kepercayaan suaminya dan juga sahabat baik suaminya. Sila merasa keluarga Hendrawan akan benar-benar sangat damai sentosa ke depannya.


"Oh ya Sila, bagaimana dengan kehamilan mu. Sudah masuk lima bulan kan?" tanya Tini yang juga baru datang dari dapur lalu duduk di sebelah Sila.


"Iya Bu, sudah masuk lima bulan. Alhamdulillah, pemeriksaan bulan kemarin sangat baik, bayinya sangat sehat. Aku juga sama sekali tidak ada keluhan, benar-benar seperti Mika dulu. Tidak ada pusing-pusing, tidak ada mual dan semacamnya!" jelas Sila.


"Wah jangan-jangan anakmu perempuan lagi, sama seperti Mika!" celetuk Niken.


"Iya nak, sudah di USG?" tanya Tini lagi.


"Belum Bu, ibu mertua ingin melihatnya USG untuk pertama kali, jadi besok kamu baru akan USG, ibu ikut ya!" ajak Sila pada Tini.

__ADS_1


"Wah, aku juga ikut dong!" sahut Niken yang begitu antusias.


"Iya, ibu akan ikut. Ibu juga penasaran sekali!" kata Tini.


Mereka pun lanjut mengobrol dan mencatat apa saja yang perlu di bawa saat melamar Shafa untuk Joseph nanti. Sebab sudah sangat lama sekali mereka tidak ada acara seperti itu, sudah semenjak Bima dulu. Jadi mereka harus menyiapkan segalanya agar tidak kurang suatu apapun.


"Ya ampun Sila, ini semua barang-barang branded. Wah, emang gajinya si Joseph itu berapa sih?" tanya Niken yang begitu penasaran pada semua barang yang dicatat Sila untuk di beli.


"Yah segitulah!" jawab Sila tak mau menyebutkan angka fantastis itu.


Mendengar jawaban tak pasti dari Sila, Niken jadi gemas.


"Ck... Sila, segitu itu berapa. Lebih berapa nol nya di banding gaji kakak mu?" tanya Niken yang ingin membandingkan gaji Joseph dengan gaji Bima.


"Kakak kenapa harus di bandingkan begitu?" tanya Sila yang tidak ingin kakak iparnya itu syok.


"Aku hanya penasaran saja, ayolah Sila. Nanti aku tidak bisa tidur kalau tidak kamu beri tahu!" desak Niken yang benar-benar penasaran dengan gaji Joseph.


Masalahnya barang-barang yang dijadikan seserahan saja sampai ratusan juta totalnya.


"Tidak usah lah!" ujar Sila lagi.


"Ayolah Sila, berapa tambah nol satu, atau dua?" tanya Niken lagi.


"Gaji kak Bima berapa?" tanya Sila yang akhirnya menyerah.


"Tujuh juta" jawab Niken cepat dan memperhatikan Sila karena tak sabar mendengar berapa gaji Joseph satu bulan.


"Em, setahuku gaji Joseph sekitar lima belas kali lipatnya...!"


Brukkkk


Niken jatuh pingsan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2