Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 263


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana, yang bahkan dinding rumah itu juga masih dalam tahap penyempurnaan alias masih tembok kasar dan belum di cat. Di dalamnya hanya memiliki dua kamar saja, dengan satu kamar mandi saja di luar kamar.


Dapurnya kecil, sederhana namun tampak rapi. Tidak ada pagar, hanya teras yang lumayan lebar sedikit yang memang di buat sedemikian rupa untuk tempat menjemur kerupuk. Karena ibu Karina yang bernama Marlina itu memang pekerjaan sehari-hari nya membuat kerupuk. Dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP juga SMA lah yang menjualnya keliling kampung. Atau di sekolah mereka. Itulah mata pencaharian mereka selain menunggu kiriman uang dari Karina yang memang di fokuskan untuk sekolah kedua adiknya.


Lalu di sana tertata beberapa kursi plastik dan beberapa orang juga hadir dengan pakaian yang rapi.


Ada juga banyak makanan dan minuman yang terhidang di sebuah meja yang berukuran satu kali dua meter yang ada di dekat pintu rumah.


Marlina dan kedua anaknya Lili dan Putri juga tampak sudah tidak sabar dan selalu melihat ke arah jalan besar. Mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan Karina dan juga calon suaminya.


"Teh Marlina, selamat ya. Akhirnya Karina di lamar sama orang!" ucap Bu RT yang ikut menghadiri acara tersebut.


"Iya, selamat ya teh. Bentar lagi bakalan jadi besannya orang kaya ya?" tanya salah satu tetangga yang agak julid, terlihat dari wajah dan cara bicaranya.


"Alhamdulillah!" jawab Marlina dengan senyuman ikhlas.


Marlina sadar kalau mungkin para tetangga akan berkata macam-macam nantinya. Karena Karina bilang kemarin di telepon untuk mengundang Bu RT dan beberapa tetangga karena keluarga Randy akan datang dan langsung melamarnya. Karina juga mengirimkan uang untuk menyiapkan perjamuan yang lumayan baik. Semua itu juga atas permintaan keluarga Randy, karena mereka ingin tetangga ibunya Karina bisa ikut merayakan kebahagiaan mereka.


Dan pada hari ini, memang Marlina memasak banyak sekali masakan yang bahkan dia bukan hanya memasak saja sendiri tapi juga memesan pada katering yang ada di desa itu. Membuat para tetangga jadi takjub, karena makanan yang di pesan biasanya hanya di acara hajatan orang kaya saja bisa makan yang seperti itu. Bahkan Marlina memesan kue dan minuman segala. Jadi semua tetangga mengira Karina pasti dapat orang kaya. Dan itu memang benar, bukan hanya kaya tapi juga keluarga terpandang di kotanya.


"Di lamar berapa juta si Karina, teh Lina?" tanya satu lagi tetangga yang di tangannya memegang beberapa kue sekaligus.


Bahkan wanita yang usianya sekitar 30 tahunan itu masih mengunyah saat bertanya pada Marlina.


Marlina hanya tersenyum menanggapinya.


"Belum tahu mbak Susi!" jawab Marlina canggung.


Wanita yang bernama Susi itu hanya mengangguk-angguk sambil terus memasukkan kue bolu ke dalam mulutnya.


"Belum tahu ya, tapi pasti jutaan dong. Masak udah modal banyak gini lamarannya dikit. Rugi dong!" kata si Susi itu dengan santainya.

__ADS_1


Bu RT yang ada di sana dan mendengar perkataan Susi pun menggelengkan kepalanya.


"Heh, mbak Susi. Di kunyah lalu di telan dulu makanan nya baru ngomong. Nanti keselek loh!" tegur nya.


Mungkin dari sekian banyak ibu-ibu di sini, memang hanya beberapa saja yang tulus dan mendoakan kebaikan untuk Karina. Salah satunya Bu RT. Yang lain juga sedang keheranan, sebenarnya seperti apasih calon suami Karina, sampai acara lamarannya saja makanannya sebanyak dan semewah ini. Bahkan ada cenderamata juga buat yang hadir, satu paket sembako. Bukankah itu sangat wah di kalangan warga desa seperti ini. Makanya mereka bertanya-tanya.


"Tapi umurnya sebaya Karina kan Bu? bukan duda tua penyakitan dan bau tanah kan?" tanya Susi makin pedas saja.


Marlina hanya menghela nafas. Sedangkan Bu RT sudah geram mendengar ucapan Susi.


"Mbak Susi, tahu gak. Di sana ada kurma loh, udah ambil belom? Kalau belom cepetan ambil, nanti kehabisan. Manis banget loh!" ujar Bu RT.


Si Susi mendengar itu langsung melihat ke arah pandangan Bu RT yang tertuju pada meja satu lagi, meja prasmanan yang menyajikan aneka kue dan camilan.


"Wah, belum loh. Aku gak lihat tadi Bu RT. Aku ambil dulu lah!" ujarnya lalu langsung pergi dari sana.


Bu RT menepuk bahu Marlina pelan.


Marlina pun mengangguk paham.


"Iya Bu RT!" sahutnya sambil tersenyum.


Tapi baru saja satu masalah pergi, satu masalah lagi datang. Salah satu dari tuan tanah di desa itu datang dengan mobil sedannya. Lalu bergegas mencari Marlina dan Bu RT.


"Teh Marlina, Bu RT!" panggil wanita yang sudah seperti toko mas berjalan.


Di lehernya kalung emas berlapis-lapis, di tangannya gelang emas nyaris sampai ke siku. Belum lagi anting yang dia pakai, sudah seperti biduan jaman dulu.


Mendengar suara orang yang sangat familiar. Marlina dan Bu RT pun menuju ke arah orang itu.


"Selamat datang Bu Halimah!" sapa Marlina sopan.

__ADS_1


"Gak nyangka Bu Halimah mau datang juga!" sambung Bu RT.


"Eh eh... emang siapa yang mau datang kondangan kemari. Saya tuh kesini mau jemput bu RT. Bu RT lupa apa? kalau hari ini tuh, anak saya mau selamatan kenaikan jabatan jadi camat di kampung ini. Gimana sih?" tanya ibu-ibu toko mas berjalan yang bernama Halimah itu.


"Loh bukannya nanti sore ya Bu, saya ingat kok!" bantah Bu RT.


"Tapi kan situ RT, situ harus standby dong di rumah saya, bantu-bantu saya masak gitu kek, kan saya rekam tuh kegiatan masak-masak dari pagi. Lah ini Bu RT nya malah gak ada!" ungkap Halimah dengan tidak menaruh rasa hormat sama sekali pada Marlina dan Bu RT.


"Gak usah di rekam saya gak apa-apa Bu Halimah. Karena memang saya di minta teh Marlina jadi perwakilan keluarga juga untuk menyambut calon besannya teh Marlina...!"


Belum selesai Bu RT menjelaskan, Wanita bernama Halimah itu kembali menyela bahkan dengan mengangkat tangannya seolah memperlihatkan semua gelang dan cincin yang dia pakai. Setiap bicara dia selalu mengangkat tangannya dan mencondongkan tubuhnya memperlihatkan semua perhiasan yang dia pakai.


"Halah... ngapain juga di sambut sambut. Palingan juga besannya teh Marlina ini datang pakai mobil travel kan? palingan juga cuma karyawan biasa kayak Karina yang ke ke sana sini naik motor. Udahlah ke rumah saya aja Bu RT!" ucap Bu Halimah dengan sombongnya.


"Bu Halimah, calonnya Karina orang kaya loh!" seru salah seorang tetangga yang sudah gemas dari tadi pengen ikut nimbrung.


"Tuh lihat, acara lamaran aja cenderamata nya sembako. Pasti kaya lah calon suaminya si Karina!" tambah wanita muda bernama Imas.


"Heh Imas, bisa aja cuma pengen kelihatan wah... doang. Padahal abis nikah ntar banyak hutang!" Bu Halimah masih tidak mau kalah.


Sampai mata semua orang di kejutkan dengan kedatangan dua buah mobil di belakang mobil sedan Bu Halimah. Salah satunya adalah Alphard berwarna hitam dan di belakang nya sebuah Jeep Rubicon yang tentu saja di dalamnya ada para pengawal dan barang-barang seserahan untuk Karina.


Mata semua orang langsung di buat tak berkedip. Rahang mereka bahkan nyaris jatuh.


Jika di lihat sekilas saja, perbedaan sangatlah mencolok antara sedan Bu Halimah dan Alphard milik Davina.


Imas langsung mendekati Bu Halimah.


"Emang ada ya Bu, mobil travel macam itu?" tanya Imas membuat Halimah menelan salivanya dengan susah payah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2