
Kondisi Prio Utomo pun sudah lebih baik. Masalah dengan Baron Cs juga sudah di selesaikan oleh Joseph. Tapi melihat kondisi Prio Utomo yang kata dokter tidak bisa menerima berita yang terlalu mengejutkan nya. Dave harus menunda untuk memberikan semua bukti kalau Hadi lah yang telah menjebak Sila.
Dave mengajak Sila keluar dari ruang rawat ayahnya untuk bicara. Bersama dengan Oman, Joseph hanya mengawasi dan menjaga tuannya itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Sila sayang, kondisi ayahmu belum sehat. Akan tidak baik kalau kita berikan semua bukti ini padanya sekarang. Bagaimana kalau nanti saja setelah dia pulang ke rumah?" tanya Dave pada Sila.
Meski Dave sudah memikirkan ini sebelumnya, tapi tetap saja Dave ingin tahu pendapat Sila.
Tapi Sila juga sebenarnya memikirkan hal yang sama dengan Dave. Dan Sila pun. menganggukkan kepalanya setuju.
"Baiklah tuan, lagipula ayah juga sudah memaafkan aku. Ku pikir...!"
Sila terkesan sudah bisa mengikhlaskan segalanya, tapi jujur saja Dave tidak bisa melakukan itu. Sebelum Sila selesai dengan kalimat nya, dia memegang lengan Sila cukup bertenaga, hingga Sila berhenti berkata dan langsung menoleh ke arah Dave.
"Sila dengar, aku bilang kita hanya akan menunda memberikan semua bukti ini pada ayahmu, bukan membatalkan nya. Meski Hadi Tama itu adalah ayah dari anak mu, tapi sikapnya padaku itu keterlaluan. Dan aku sebagai suami mu, tidak terima istriku pernah disakiti oleh orang seperti itu!" tegas Dave terlihat dari rahangnya yang mengeras seperti sangat kesal saat menyebut nama Hadi Tama.
Jujur saja tatapan Dave pada Sila saat ini cukup membuat Sila merinding. Tapi Sila menyadari kalau apa yang dilakukan dan di katakan Dave saat ini padanya benar-benar murni karena Dave tidak menyukai sikap pengecut Hadi.
Setelah melihat reaksi Sila yang sepertinya merasa agak takut padanya. Dave pun melepaskan tangannya dari lengan Sila.
"Sayang maaf, tapi aku minta padamu. Jangan terlalu lembut hati pada Hadi Tama itu. Dia sudah membuat kamu tidak bisa bertemu dengan anak mu selama hampir dua bulan! setidaknya kesal lah padanya meskipun hanya sedikit!" ucap Dave lagi.
Tapi kali ini nada suara Dave seperti pria dewasa yang tengah mencemburui pasangannya yang masih terlihat perduli pada sang mantan.
Tapi ngomong-ngomong soal Mika, Sila ingat kalau sore ini Hadi akan mengantarkan Mika ke rumah ayahnya. Tapi Sila sangat yakin setelah semua ini Hadi tidak berani menginjakkan kakinya di rumah ayahnya.
Sila lalu menyentuh tangan Dave meskipun sedikit ragu.
"Mas, aku minta maaf. Tadinya aku pikir hanya inginkan Mika saja dan tidak mau memperpanjang masalah yang sudah terjadi. Tapi setelah aku pikir lagi, apa yang mas katakan memang benar. Memberi pria yang sudah menjebak ku hingga bertemu dengan mu itu sedikit pelajaran juga tidak ada salahnya!" ucap Sila sedikit mengangkat dagunya.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Sila, dan mendengar apa yang Sila katakan Dave malah mengangkat sebelah alisnya.
'Dia ini sedang menyindir atau bagaimana, apa maksudnya kalau Hadi Tama itu tidak menjebaknya maka aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya?' pikir Dave.
Sementara Joseph dan Oman yang sedang menunggu bos mereka itu bicara malah terlihat salah tingkah sendiri.
"Ya ampun Jo, mimpi apa aku semalam melihat bos yang biasanya galak dan arogan jadi bucin begitu?" tanya Oman yang memang baru pertama kali melihat keromantisan Sila dan Dave di depan matanya.
Joseph masih diam, sebab yang dia lihat bukan seperti yang di pikirkan Oman. Joseph malah melihat dua orang di depannya itu sedang saling selisih pendapat. Karena pegangan Dave pada Sila tidak selembut biasanya. Meskipun Sila masih tetap bersikap tenang.
Melihat Joseph tidak menanggapinya Oman berkata lagi.
"Heh, apa kamu sudah sering melihat bos menyentuh wanita seperti itu. Ini pertama kalinya loh, aku melihatnya!" ucap Oman lagi.
Dan Joseph masih diam. Dia sedang mengawasi keadaan sekeliling.
Karena Joseph masih diam, Oman kembali bersuara.
Tapi ketika Oman melihat ke arah Joseph untuk mendengarkan jawaban rekan kerjanya itu. Oman malah terkejut karena Joseph sudah melotot padanya dan dengan tatapan yang begitu tajam.
"Eit, Jo!" pekik Oman yang terkejut dengan sebuah bogem tangan yang sudah ada di depan wajahnya. Sepuluh sentimeter lagi pasti bogem tangan itu akan mendarat di wajah Oman.
Oman spontan mengangkat tangannya menghalangi tangan Joseph yang sudah mengepal di depan wajahnya.
"Tahan Jo, astaga! aku hanya bercanda!" ucap Oman lalu mundur dan sedikit menjauh dari Joseph.
'Ya ampun, bos saja sudah lunak setelah bertemu nona Sila. Kenapa Joseph masih saja kaku seperti kanebo habis di jemur!' keluh Oman dalam hatinya.
***
__ADS_1
Sementara sahabat Sila, Karina. Dia kembali berada dalam masalah lagi. Karena file yang harusnya dia input terhapus dan tidak selesai sesuai deadline. Dia pun akhirnya di pindahkan dari divisi keuangan ke divisi kerja lapangan.
Karina sebenarnya sedikit kurang terbiasa. Karena biasanya dia bekerja sambil duduk manis di depan komputer dan juga di dalam ruangan yang ada pendingin udaranya. Kini kondisi tempatnya bekerja benar-benar jauh berbeda.
Dia di tugaskan oleh kepala divisinya untuk mengatur pembelian minuman dan makanan untuk para kru yang bertugas di lapangan. Meskipun sesekali dia bisa duduk, tapi tetap saja di luar ruangan tanpa atap. Apalagi beberapa hari ini cuaca sulit di tebak, sebentar panas sebentar hujan. Memuat para kru harus bolak balik menyusun set untuk pemotretan iklan dari klien mereka.
"Huh, akhirnya selesai juga!" gumam Karina yang sudah selesai menyiapkan makanan dan juga minuman untuk para kru. Bahasa kerennya itu seksi konsumsi.
Karina pun duduk di kursi lipat yang memang dia bawa. Dia baru akan menghitung berapa pengeluaran yang tadi sudah dia belanjakan karena dia harus melaporkannya pada kepala divisinya.
Tapi baru saja Karina akan mengeluarkan semua nota dari restoran dan juga minimarket. Seseorang datang dan tiba-tiba merebut beberapa nota yang dia pegang.
"Eh!" pekik Karina terkejut lalu berdiri dan melihat ke arah si pembuat onar.
Mata Karina melotot dan tangannya langsung berkacak pinggang melihat siapa biang kerok yang sedang mengganggunya.
"Heh, kadal buntung. Kamu lagi... kamu lagi!" pekik Karina kesal.
Tapi orang yang sedang di maki oleh Karina malah tersenyum santai.
"Macan betina, siapa yang kamu panggil kadal buntung. Mana ada orang setampan aku ini di panggil begitu?" tanya Randy dengan wajah tonjokable yang artinya wajahnya itu seperti memanggil tangan Karina untuk menonjoknya.
Tapi Karina tidak bisa melakukan itu meskipun dia ingin segera menampar wajah pria yang sudah menyebabkan dirinya di demosi. Karina hanya menghela nafasnya, dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaan nya.
Melihat Karina tidak terpancing emosi, sepertinya hal itu membuat Randy kurang puas. Saat Randy melihat Karina akan duduk, Randy dengan gesit meraih kursinya hingga Karina pun terjatuh.
Brukk
"Augh... kadal buntung!!!" teriak Karina kesal.
__ADS_1
***
Bersambung...