
Hadi pun kembali ke kamarnya, dia sudah sangat lelah di luar rumah, niatnya ingin makan malam dengan tenang bersama Susan juga malah tidak bisa di lakukan karena Susan belum pulang.
Di tambah lagi masalah yang baru saja ibunya katakan. Hadi langsung merebahkan dirinya di sofa, dia memijit kepalanya yang rasanya mulai pusing. Selera makannya sudah hilang, dia hanya ingin tidur sekarang.
Hadi memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Namun tiba-tiba saja bayangan Mika tersenyum bersama dengan Sila melintas begitu saja. Mantan istrinya itu sedang bermain bersama Mika di taman tempat biasa Hadi mengajak Mika dan Sila jalan-jalan sore saat Sila atau Hadi libur kerja. Sila memakai dress hijau dan tampak begitu cantik di mata Hadi. Hadi memang selalu ingin Sila memakai dress, tapi karena Sila harus bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskan dia bekerja dengan gesit dan cekatan. Maka dia selalu saja memakai setelah celana panjang kerja dan blezer.
Melihat dua orang yang sedang menari nari di depannya, senyum Hadi mengembang. Apalagi ketika Hadi mendengar suara Sila yang memanggilnya sambil tersenyum ke arahnya.
"Mas Hadi...!"
Hadi tersenyum, sudah lama dia tidak mendengar panggilan lembut Sila itu padanya.
"Mas Hadi, mas... bangun!"
Hadi terkesiap, dia langsung membuka matanya. Dan ternyata yang memanggilnya sejak tadi adalah Susan yang sedang berdiri di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Hadi.
"Susan!" ucap Hadi pelan.
Hadi pun mengusap wajahnya kasar, ternyata dia tadi hanya bermimpi. Hadi menghela nafas panjang dan langsung melihat ke arah Susan lagi.
"Darimana saja kamu? kenapa baru pulang?" tanya Hadi dengan nada tegas pada Susan.
"Aku dari salon mas. Kamu sendiri kenapa sampai tidur di sofa. Tidurlah di tempat tidur. Ya sudah, aku keluar dulu ya. Aku ke kamarku dulu istirahat!" ucap Susan sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Hadi hanya mendengus kesal, masalahnya Susan memang bukan Susan yang dulu, yang satu tahun lalu datang dan merayu dirinya. Kala itu jika Susan menemui Hadi dalam keadaan lelah seperti tadi, Susan pasti akan langsung menunjukkan perhatiannya. Memijit kepala Hadi, memijit bahunya. Membuatkan minuman herbal yang bisa menenangkan pikiran nya yang lelah. Bahkan ketika Hadi lembur sampai tengah malam, tak jarang Susan juga terus bersama Hadi meski hanya sekedar menemaninya makan saja.
Susan tidak akan meninggalkan Hadi meskipun sampai tertidur karena menunggu Hadi yang sedang lembur bekerja. Tapi sekarang, melihat Hadi kelelahan hingga bisa tertidur di sofa. Susan malah hanya membangunkan Hadi dan memintanya untuk pindah ke tempat tidur.
Kalau dulu Susan akan selalu bertanya apa saja yang di lakukan Hadi setelah pulang kerja, juga terus mengurusnya hingga melepaskan kaos kakinya. Setelah Hadi mengajaknya ke rumah baru ini, hal itu hanya terjadi selama satu minggu saja. Setelah Hadi menyerahkan semua kartu ATM nya pada Susan. Wanita itu menjadi berubah dan suka seenaknya sendiri.
__ADS_1
Hadi lantas berdiri dan menghentikan Susan yang akan pergi meninggalkan kamarnya dengan menyerukan nama Susan dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tunggu Susan!"
Susan yang lumayan terkejut karena Hadi berkata dengan nada meninggi pun segera menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Hadi.
"Iya mas, ada apa lagi?" tanya Susan santai.
Dia belum menyadari kesalahannya. Dia juga tidak tahu kalau karena ulahnya Zain dan Ayu sudah meninggalkan rumah Hadi.
"Apa yang kamu katakan pada Ayu perang tadi?" tanya Hadi sambil berjalan mendekati Susan.
Susan pun langsung mengernyitkan keningnya.
'Heh, dasar tukang ngadu. Tapi tidak masalah, mas Hadi tidak akan pernah marah padaku. Aku kan paling tahu cara menaklukkan hati mas Hadi!' batin Susan.
"Mas, aku tidak mengatakan apapun. Memangnya apa sih yang sudah di adukan adik ipar mu itu padamu?" tanya Susan sambil memainkan kerah kemeja yang Hadi pakai.
Hadi langsung menangkap tangan Susan yang sudah mau bergerak ke wajahnya.
"Ck... hentikan ini Susan. Aku sedang bicara serius padamu!" tegas Hadi.
Susan terkejut, dia tidak menyangka kalau Hadi menolak sentuhannya.
'Kenapa begini? biasanya cara ini selalu berhasil?' tanya Susan dalam hati.
Susan masih tidak menyerah, dia tidak mau kalau sampai Hadi marah padanya. Bisa gawat kalau itu sampai terjadi.
Susan lalu memeluk lengan Hadi, dan menempelkan tubuhnya ke lengan Hadi.
__ADS_1
"Mas, aku juga serius. Aku tidak mengatakan apapun pada adik ipar mu, memangnya dia bilang apa?" tanya Susan sambil menatap Hadi dengan tatapan manja.
"Ayu tidak bilang apa-apa. Tapi ibu bilang Zain dan Ayu meninggalkan rumah ini setelah terjadi keributan antara kamu dan Ayu. Dengar Susan, aku sedang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Kamu tahu itu kan? kamu sendiri minta untuk cuti, jadi pekerjaan ku sangat menumpuk. Bisa tidak jangan tambah beban pikiran ku dengan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi?" tanya Hadi yang seperti sangat menyalahkan Susan.
Susan pun langsung cemberut. Dia langsung melepaskan dirinya dari Hadi.
"Mas, kamu tidak percaya padaku? aku benar-benar tidak mengatakan apapun padanya. Dia menjatuhkan gelas dan pecahan kacanya mengenai kaki ku. Aku hanya menegurnya, kenapa malah seperti aku yang menyakiti dia?" tanya Susan tak terima dirinya di salahkan.
'Ck... orang-orang kampung itu benar-benar merepotkan ya. Awas saja nanti kalau aku sudah menikah dengan mas Hadi. Jangan harap mereka bisa datang kemari lagi!' batin Susan sangat kesal pada Zain dan juga Ayu.
"Susan mengertilah, kamu tahu kan aku sangat percaya padamu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Zain dan Ayu pergi. Mereka adik dan adik ipar ku, aku tidak mau kalau sampai karena masalah kecil, hubungan persaudaraan menjadi renggang. Aku mengenal Zain sejak kecil, dia tidak akan pergi kalau kamu tidak keterlaluan!" seru Hadi yang semakin memojokkan Susan.
"Apa sih mas, kamu bilang kamu percaya padaku. Tapi dari apa yang kamu katakan, kamu seolah menyalahkan aku atas kepergian Zain dan istrinya dari rumah ini. Mungkin ibu mu salah paham, mungkin saja Zain dan istrinya ada keperluan penting hingga mereka pulang ..!"
Mendengar Susan terus menerus membantah. Hadi sudah tidak tahan lagi. Dia sangat lelah hingga tak mau membicarakan hal ini lebih panjang dan jauh lagi.
"Cukup Susan, aku sangat lelah. Dan besok aku masih ada banyak pekerjaan penting. Sekarang kamu hubungi Zain dan Ayu, lalu minta maaf pada mereka. Bujuk mereka sampai mereka mau kembali ke rumah ini!" perintah Hadi yang sepertinya sudah tidak bisa di bantah lagi.
Susan langsung cemberut. Dia mendengus kesal.
"Tapi mas...!"
"Minta maaf pada mereka, atau kembalikan semua kartu ATM yang aku berikan padamu!" gertak Hadi yang sudah malas bertele-tele karena sudah sangat larut dan dia sangat lelah.
Susan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan berat hati dia meraih ponsel yang ada di dalam tasnya dan berusaha menghubungi Zain untuk minta maaf.
***
Bersambung...
__ADS_1