
Sila benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat Mika. Meskipun dia sedang tidur, tidak apalah kalau hanya bisa melihatnya dan memeluknya sebentar. Mata Sila sudah berbinar sejak Hadi mengatakan akan mengantarnya menemui Mika.
Dave yang melihat kebahagiaan terpancar dari mata Sila juga ikut merasakan apa yang istrinya itu rasakan.
"Ayo Sila!" ajak Hadi dan Sila langsung menoleh ke arah Dave.
Begitu Dave mengangguk sekali, Sila langsung berjalan mengikuti arah tangan Hadi. Hadi pun melangkah naik ke anak tangga yang menuju lantai dua.
'Jadi kamar Mika ada di lantai dua, bukankah sangat berbahaya. Usianya baru empat tahun, bagaimana kalau dia berlari dan terjatuh!' batin Sila yang melihat tangga yang menjadi penghubung antara lantai satu dan dua ini lumayan tinggi sekali.
Hadi yang melihat Sila terus melihat ke atas dan ke bawah jadi heran, dan dia pun bertanya.
"Ada apa Sila, kamu tidak sedang menghitung jumlah anak tangganya kan?" tanya Hadi yang coba untuk kembali akrab dengan Sila. Dia mencoba untuk bercanda dengan mantan istrinya itu.
Tapi sayangnya Sila malah tidak merubah ekspresi nya, padahal Hadi berharap dia mendapatkan sebuah senyuman dari Sila.
"Tuan Hadi, apa tidak sebaiknya kalau kamar Mika di lantai satu saja. Dia baru empat tahun, dan dia sangat suka berlari kesana-kemari, kalau dia jatuh...!" Sila menghentikan kalimatnya dan menutup mulutnya. Tanpa dia sadari dia mengatakan hal yang tidak baik.
"Astagfirullah!" Ucap Sila mencoba mengurangi kecemasan nya karena tadi dia sudah mengatakan hal yang tidak baik untuk putrinya.
Hadi tersenyum karena Sila masihlah Sila yang sama, yang begitu khawatir pada Mika. Hadi tidak bicara, sampai dia berada di depan sebuah kamar yang ada di lantai dua.
Hadi membuka kamar itu dan mempersilahkan Sila untuk masuk. Tentu saja Sila tanpa ragu masuk ke dalam kamar yang dia pikir itu pastilah kamar Mika. Tapi dugaannya salah, ketika Sila masuk ke kamar itu, Hadi malah menutup pintu dan menguncinya.
Saat lampunya di nyalakan, ternyata itu sebuah kamar yang besar dengan tempat tidur yang begitu besar dan tidak ada Mika di atas tempat tidur itu.
Dengan ekspresi wajah kebingungan, Sila pun menghadap ke arah Hadi.
__ADS_1
"Tuan Hadi dimana Mika?" tanya Sila yang mulai kesal pada mantan suaminya itu.
"Aku tidak bilang ini adalah kamar Mika kan?" tanya Hadi membantah.
"Tapi tuan Hadi tadi bilang akan mengantarkan aku menemui Mika kan?" tanya Sila bertambah kesal.
"Iya, benar! tapi bukankah kita masih punya banyak waktu?" tanya Hadi lagi yang membuat Sila memundurkan langkah dari mantan suaminya itu.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku Sila?" tanya Hadi lagi membuat Sila semakin jengah dengan kelakuan mantan suaminya itu.
"Tuan Hadi, aku akan katakan untuk terakhir kalinya. Aku hanya ingin menemui Mika, hubungan di antara kita sudah berakhir, dan aku akan mengingatkan padamu kalau kamu lah yang telah yang memutuskan untuk mengakhiri nya! kamu yang menjebak ku dan menceraikan aku! jadi tolong jangan ungkit masa lalu lagi dan antar aku pada Mika!" tegas Sila tanpa keraguan sedikitpun.
Hadi merasa sangat kecewa karena Sila bicara seolah sudah tidak ada lagi perasaan padanya, dan itu memang benar. Sila memang sudah tidak ada perasaan apapun padanya, baik itu rasa dendam atau pun rasa simpati. Sila sudah mengikhlaskan segala perasaan untuk Hadi, jangankan rasa sayang yang dulu begitu dalam, bahkan dia tidak memberikan sedikit pun ruang untuk menyimpan dendam atas nama Hadi. Rasa sakit yang mendalam itu sudah hilang seiring banyaknya air mata Sila yang sudah tumpah selama hampir dua bulan belakangan ini.
Hadi yang tidak puas dengan jawaban Sila pun melangkah maju mendekati Sila, dan itu membuat Sila langsung mundur. Sayang sekali setiap ruangan pasti ada dinding yang menjadi pembatas, dan punggung Sila pun sudah menyentuh dinginnya dinding kamar itu, membuat Sila tidak bisa melangkahkan kakinya untuk mundur lagi.
"Kamu, apa yang kamu lakukan?" tanya Sila panik dan menahan dada Hadi agar tidak maju lagi dengan kedua tangannya.
Dengan tatapan yang begitu dalam pada Sila, Hadi berkata.
"Bagaimana kalau aku katakan aku sangat menyesal Sila?" tanya Hadi membuat Sila merasa sangat jijik pada pria di depannya itu.
Dengan mudahnya dia mengatakan dia menyesal, setelah menghancurkan Sila sehancur-hancurnya. Kehilangan suami dan anak, kehilangan pekerjaan, di usir oleh sang ayah. Tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak karena di pecat secara tidak hormat. Dan setelah semua itu, dengan mudah dia katakan dia menyesal.
Sila terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Hadi.
"Jangan bercanda denganku tuan Hadi, karena aku sama sekali tidak perduli!" tegas Sila yang berusaha mendorong Hadi menjauh.
__ADS_1
Hadi tidak percaya kalau Sila yang dulu sangat mencintai nya sudah melupakan begitu cepat. Dia belum menyerah, Hadi bahkan menyentuh pipi Sila, dan membuat Sila langsung menepis tangannya itu.
"Jaga sikap mu tuan Hadi!" pekik Sila lalu mendorong Hadi dengan sangat kuat.
Sila merasa kalau Hadi memang tidak punya niat untuk mempertemukan dirinya dengan Mika. Sila langsung bergegas ke arah pintu, namun sayang pintu itu terkunci dan kuncinya ada pada Hadi.
"Buka pintunya atau aku akan berteriak, dan tuan Dave pasti juga tidak akan tinggal diam kalau sampai aku belum kembali juga!" gertak Sila pada Hadi.
Hadi yang awalnya ingin berusaha membujuk Sila karena merasa sekarang Sila jauh lebih menarik dan cantik. Harus mendengus kesal karena ternyata Sila benar-benar sudah hilang rasa sama sekali padanya. Dulu kalau Hadi menyentuh wajah Sila, mantan istrinya itu pasti akan langsung memeluknya. Tapi sekarang dia bahkan ingin cepat-cepat menjauh darinya.
"Tuan Hadi, aku peringatkan untuk terakhir kalinya, buka pintunya atau aku akan teriak!" ucap Sila dengan mata yang melotot pada Hadi.
Sila bisa saja langsung berteriak, tapi dia masih memikirkan tentang pak Haris. Jika dia berteriak Dave dan Joseph pasti akan membantunya tapi pasti akan membuat keributan yang besar. Dan keluarga ini sudah pasti akan berakhir di tangan Dave. Sila masih berusaha memberi kesempatan pada Hadi agar pak Haris dan Zain tidak kena dampaknya, karena sebenarnya masalah Sila hanya dengan Hadi saja bukan dengan ayah ataupun keluarga Hadi.
Dengan berat hati Hadi akhirnya membukakan pintu untuk Sila.
"Dimana kamar Mika?" tanya Sila dengan nada kesal.
"Di lantai satu, di dekat ruang tengah. Kamar dengan pintu yang bercat putih!" ucap Hadi lemah.
Sila mendengus kesal, dia tidak percaya kalau Hadi memang sejak awal tidak mengarahkan nya ke kamar Mika. Sila menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan Hadi yang masih berdiri mematung karena merasa sangat kecewa tidak berhasil membujuk Sila.
Sambil melihat punggung Sila yang berjalan menjauh. Hadi bergumam.
"Aku tidak percaya kamu begitu mudah melupakan aku, masih banyak waktu Sila, masih banyak waktu!" gumam Hadi begitu percaya diri kalau dia bisa merubah pendirian Sila.
***
__ADS_1
Bersambung...