Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 74


__ADS_3

Sila kini telah berada di depan pintu apartemen Dave. Joseph hanya mengantarnya sampai di depan pintu apartemen Dave lalu Joseph pun pergi.


Dengan perlahan Sila mengarahkan tangannya ke tombol password, Dave telah memberitahu password nya pada Sila.


Setelah pintu terbuka, Sila masuk perlahan ke dalam apartemen Dave. Begitu pintu tertutup, secara otomatis maka pintu akan kembali terkunci.


Sila melihat ke sekeliling, dan suasana di ruangan itu sangat gelap. Dave tidak menyalakan satu lampu pun baik itu di ruang tamu, ataupun di ruang tengah. Sila berjalan perlahan ke arah kamar Dave, dia sengaja melepas sandalnya agar suaranya tidak membangunkan Dave, karena Sila mengira mungkin saja Dave sudah tidur karena itu lampu tidak ada yang menyala dan suasana juga sangat sepi.


Tapi saat Sila masuk ke dalam kamar Dave, pria itu juga tidak ada disana. Mata Sila sudah berkaca-kaca, dia merasa sangat bersalah pada Dave. Sila bahkan sudah memeriksa kamar mandi dan tetap tidak menemukan Dave. Sila lalu keluar dari kamar Dave. Kakinya kemudian menuntunnya melangkah ke ruang tengah. Dan benar saja, ketika dia berada di ruang tengah dia melihat pintu yang menghubungkan ke arah balkon, terbuka lebar.


Sila terdiam ketika melihat seorang pria dengan kemeja yang berantakan, beberapa sisi terselip rapi di celananya, tapi beberapa sisi sudah keluar dan tampak berantakan sedang berdiri membelakangi nya dan memegang kuat pagar besi pembatas yang ada di balkon.


Sila menghela nafasnya panjang. Dave bahkan belum tidur, seperti dirinya pasti Dave tidak bisa tidur.


Sila kemudian berjalan perlahan mendekati pintu keluar dari ruang tengah menuju ke balkon. Dengan langkah kaki perlahan, Sila mendekati Dave dan memeluk pria itu dari belakang.


Dave yang terkejut ada yang memeluknya lantas refleks menyentuh tangan Sila. Merasa kalau dia tidak jijik dengan sentuhan itu, dia pun tahu siapa yang menyentuhnya.


Jangan tanyakan apa yang Dave rasakan saat ini, kegalauan nya berubah menjadi rasa lega. Sila sudah memeluknya, dan ini adalah pertama kalinya istrinya itu mengambil inisiatif untuk melakukan hal itu.


"Tuan, maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengatakan semua itu padamu, maafkan aku!" lirih Sila dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Anggap saja Sila cengeng atau perempuan lemah yang dengan mudah bisa menangis. Tapi beberapa wanita justru akan lebih kuat ketika mereka bisa menumpahkan air mata yang merupakan kekuatan mereka yang sebenarnya. Menangis tidak menjadi tolak ukur seorang wanita lemah atau kuat. Terkadang menangis adalah media bagi seseorang untuk lebih bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka.


Dave yang mendengarkan pernyataan maaf dari Sila, lantas memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Sila. Dave langsung menangkap wajah Sila, dan menyeka air matanya.


"Apa ini artinya kamu sudah memaafkan aku?" tanya Dave dengan mata yang berbinar dan berkaca-kaca.


Sila mengangguk sekali. Meskipun dirinya belum berani menatap wajah Dave. Masih ada rasa bersalah di hatinya karena sudah bicara kasar pada Dave di klub malam tadi.

__ADS_1


Dave tersenyum bahagia. Dia merasa sangat lega. Dia memang tidak salah menilai Sila, wanita di depannya itu memang sangat baik dan pengertian.


Dave mengangkat dagu Sila membuat Sila bisa menatap mata Dave yang tengah memandang nya dengan penuh perasaan yang mendalam.


"Apa ini artinya kamu juga akan membuka hatimu untuk ku?" tanya Dave dengan keinginan yang lebih menuntut.


Sila terdiam, kenapa Dave malah menanyakan hal itu. Padahal dia kan hanya ingin minta maaf saja. Sila juga bingung harus menjawabnya bagaimana.


"Tuan... tapi..!" Sila berhenti bicara karena Dave meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di depan bibir Sila.


"Dan jangan panggil aku seperti itu lagi!" ucap Dave yang membuat Sila merasa Dave sedang memanfaatkan rasa bersalahnya itu untuk menuntut lebih.


Mau bagaimana lagi, Dave adalah CEO sebuah perusahaan multinasional. Tentu saja sebagai pebisnis dia tidak akan melewatkan kesempatan yang begitu berharganya saat ini.


Dave lalu mengajak Sila untuk masuk ke dalam apartemen karena udara semakin malam pun menjadi semakin dingin. Setelah menutup pintu ke arah balkon, Dave baru memperhatikan pakaian yang dipakai oleh Sila.


"Pakaian mu ini?" tanya Dave yang tidak suka dengan baju yang dipakai Sila.


"Tuan...!" Sila langsung berhenti bicara saat melihat Dave memicingkan matanya pada Sila.


'Aih, harus panggil apa? aku sudah biasa memanggilnya tuan?' tanya Sila dalam hati yang merasa agak bingung mau panggil apa pada Dave.


Sila lalu memberanikan diri untuk mengangkat tangannya dan menyentuh dada Dave.


"Aku tidak tahu panggilan apa yang tu.. maksudku..!" Sila malah jadi bingung sendiri.


Dave yang melihat Sila salah tingkah pun menjadi semakin gemas pada istrinya itu. Dave langsung menggendong Sila membuat Sila refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Dave.


Dave semakin tersenyum ketika Sila mengalungkan tangannya di leher Dave. Tanpa basa-basi lagi, Dave langsung menyambar bibir merah muda yang meski tidak menggunakan lipstik tapi tetap membuatnya tampak merona.

__ADS_1


Dave melangkah menuju kamarnya sambil menggendong Sila tanpa melepaskan ciumannya pada istrinya yang menggemaskan itu.


Saat tiba di depan pintu, Dave melepaskan ciumannya tapi tetap tidak mau menurunkan Sila dari gendongan nya.


"Buka pintunya!" seru Dave dengan suara yang sudah serak.


Sila yang menatap manik mata coklat Dave pun dibuat terhipnotis dan langsung menurunkan satu tangannya memegang handel pintu lalu membukanya. Begitu pintu terbuka Dave langsung menendang pintu itu dengan kakinya hingga bisa terbuka lebar.


Setelah masuk ke dalam kamar, Dave juga menggunakan kakinya untuk menutup pintu, Dave menendang pintu itu dengan kuat. Sila yang melihat itu pun sedikit merinding, apalagi di tambah tatapan mata Dave yang sudah di penuhi kabut gai*rah yang begitu jelas terlihat. Dave kembali melu*mat bibir Sila dengan sangat rakus.


Setelah berada di dekat tempat tidur, Dave lantas membaringkan tubuh Sila perlahan. Dave juga langsung naik ke atas tempat tidur, dan mengungkung Sila di bawahnya.


Dave dengan matanya yang sudah merah lantas menyentuh wajah Sila dengan lembut.


"Sila, aku mencintaimu!" ucapnya dengan begitu lembut meski suara seraknya tetap terdengar.


Deg deg deg


Wajah Sila merona, jangan di tanya bagaimana kencangnya debaran jantungnya saat ini. Benar-benar serasa bisa mencelos keluar.


Dave mulai mencumbu istrinya itu, perlahan tangannya juga merayap ke arah piyama Sila dan membuka kancing piyama itu satu persatu.


"Sebut namaku Sila!" perintah Dave sambil menjelajahi setiap inci tubuh Sila yang sudah tidak memakai sehelai benang pun.


Sila benar-benar seperti terhipnotis. Sambil memejamkan matanya dan menjambak pelan rambut Dave yang makin nakal saja menyentuhnya di tempat-tempat yang sensitif, Sila bersuara...


"Dave!"


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2