Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 83


__ADS_3

Sementara itu di rumah Hadi, dia dan juga Susan masih ribut kecil karena masalah Hadi memperbolehkan Mika menemui Sila di rumah ayahnya. Susan masih tidak terima, Hadi membuat segala usahanya selama ini untuk menjauhkan Mika dari ibu kandungnya dan usahanya mengambil hati Mika gagal begitu saja.


"Jika kamu memintaku pulang hanya untuk bertengkar dengan ku, maka aku lebih baik kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan!" seru Hadi yang tidak ingin meladeni segala macam keluhan dari Susan.


Hadi meraih jasnya lalu berjalan ke arah pintu kamarnya. Karena mereka sejak tadi bicara berdua di dalam kamar Hadi. Namun sebelum Hadi sempat memegang handel pintu, Susan lebih dulu berlari dan menghadang Hadi. Wanita itu berdiri di depan pintu menghalangi Hadi yang akan keluar dan meninggalkan nya karena sejak tadi pembicaraan mereka tidak menemui titik temu.


"Mas, kamu mau pergi begitu saja? apa yang kita bicarakan belum selesai!" kesal Susan.


"Apalagi yang harus kita bicarakan? sejak tadi kamu terus protes aku membiarkan Mika bertemu dengan Sila. Sedangkan kamu sendiri tahu kalau tuan Dave yang meminta hal itu. Sila adalah orang kepercayaan tuan Dave, kalau aku tidak melakukan apa yang tuan Dave minta, apa kamu ingin dia membatalkan proyek kerja sama perusahaan dengannya. Apa kamu mau aku tidak jadi si promosikan?" tanya Hadi yang terlihat begitu tidak mengerti cara berpikir Susan.


"Aku tahu ini permintaan tuan Dave, tapi apa harus sampai menginap? mas! aku sudah susah payah menjauhkan Mika dari Sila, kamu sendiri kan yang meminta aku melakukan semua itu. Kamu ingin aku merawat Muka dan mengambil hatinya agar dia melupakan mantan istrimu itu, dan sekarang setelah aku bersusah payah membuatnya tidak ingat pada ibunya, kamu malah mengantarkan nya pada Sila. Sia-sia dong usahaku selama hampir dua bulan ini mas?" tanya Susan yang merasa apa yang dilakukan Hadi ini sangat merugikannya.


Susan sudah membuang banyak waktu untuk membuat Mika menerimanya sebagai pengganti Sila. Usahanya itu belum berhasil, tapi Hadi malah membiarkannya menemui mantan istri Hadi itu lagi. Susan tentu saja kesal, meskipun sebelum Mika pergi dia sudah bicara banyak pada anak itu, tapi dia masih saja tetap kesal. Karena Mika akan menginap bersama Sila. Dan Susan yakin kalau Sila pasti akan melakukan berbagai cara agar bisa membujuk Mika. Dan itu artinya, semua usaha Susan akan sia-sia.


Hadi yang melihat Susan begitu jauh berbeda setelah dia dan Susan tinggal bersama mulai merasa jengah.


"Susan, apa ini sifat asli mu?" tanya Hadi mulai menatap serius pada Susan.


Susan terkesiap.


"Apa maksud mu mas?" tanya Susan bingung sekaligus panik.


"Iya, apa sebenarnya kamu memang tidak selembut dan seperhatian saat kamu baru-baru merayuku dulu? kenapa aku merasa sekarang kamu sangat cerewet dan tidak sabaran, ini bukanlah Susan yang aku temui satu tahun yang lalu. Yang membuatku kembali merasakan cinta itu!" jelas Hadi.


Susan pun terdiam.


'Ya ampun, apa-apaan ini. Kenapa mas Hadi bicara begitu. Apa iya aku sudah keterlaluan, aduh tidak bisa begini. Aku harus bisa merayu mas Hadi lagi, aku tidak mau kehilangan pohon uang ku!' pikir Susan.


Susan pun akhirnya mengalah dan memeluk Hadi.


"Mas, aku sama sekali tidak bermaksud cerewet dan mengatur mu. Aku hanya tidak ingin kehilangan Mika. Aku sudah terlanjur menyayangi nya seperti putriku sendiri!" ucap manja Susan pada Hadi.


Mendengar penjelasan Susan dan sikapnya yang kembali lembut dan manja. Hadi pun kembali tersenyum.


Dia mencium mesra Susan.


"Sudahlah, sekarang lebih baik kamu coba untuk akrab dengan keluarga ku. Mumpung mereka masih ada di sini. Bulan depan mereka akan kembali ke rumah ayah!" ujar Hadi yang langsung membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Iya mas!" jawab Susan sambil tersenyum lebar pada Hadi.


Tapi setelah Hadi menjauh dari kamarnya, Susan yang tadinya tersenyum kembali menunjukkan ekspresi wajah tidak sukanya.


"Heh, enak saja. Akrab dengan keluarga mu mumpung masih disini. Aku malah berharap mereka secepatnya pergi dari sini!" gumam Susan lalu menutup pintu kamarnya lagi.


***


Sementara itu di taman bermain, sejak tadi Dave ikut tersenyum ketika melihat senyuman juga tak hilang sejak awal mereka tiba di taman bermain ini. Sila sangat senang karena Mika begitu menikmati acara jalan-jalan sore mereka ini.


Sudah dua wahana bermain yang Mika dan Sila naiki. Dave hanya menunggu di luar wahana bersama dengan Joseph. Hingga saat Mika mengajak Sila untuk naik kuncir ria.


Dan Sila pun tidak enak kalau harus meninggalkan Dave cukup lama. Karena naik kincir ria akan lebih lama di banding wahana lainnya.


Sila pun berjongkok di depan Mika dan memegang pipi tembem Mika dengan lembut.


"Sayang, apakah boleh kita ajak Om Dave juga!" tanya Sila pelan pada Mika.


Mika lalu melihat ke arah Dave. Dave yang di lihat sekilas oleh Mika pun tersenyum dan melambaikan tangannya.


Dan setelah Mika melihat sekilas ke arah Dave. Mika pun mengangguk kan kepalanya. Sila tersenyum karena Mika tidak keberatan kalau dia mengajak Dave.


"Mas, mau ikut kami tidak naik itu?" tanya Sila menunjuk ke arah kincir ria.


"Aku?" tanya Dave menunjuk dirinya sendiri.


Sila pun tersenyum dan mengangguk. Dave melihat ke arah kincir ria dan ke arah Sila.


"Satu box itu isinya berapa orang?" tanya Dave terlihat kurang suka dengan tawaran Sila.


"Mungkin 4 orang" jawab Sila.


Dave lalu melihat ke arah Joseph.


"Jo, belikan tiket untuk empat orang!" seru Dave.


"Baik tuan!" jawab Joseph lalu menuju ke tempat pembelian tiket wahana.

__ADS_1


Tapi saat mendengar Dave meminta Joseph membelikan 4 buah tiket. Mika langsung menarik ujung blouse yang dipakai Sila. Merasa anaknya merasa cemas, Sila kembali berjongkok di depan Mika.


"Sayang ada apa? Mika mau ke toilet?" tanya Sila yang menduga kalau mungkin saja Mika mau buang air kecil. Makanya dia menarik ujung baju Sila.


Tapi gadis kecil itu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak? lalu Mika mau apa sayang? mau minum? atau Mika lapar? Mika mau makan?" tanya Sila yang berusaha mengetahui sebenarnya apa yang di inginkan Mika hingga terlihat seperti sedang cemas.


Dan lagi-lagi setelah mendengar perkataan Sila, Mika menggelengkan kepalanya lagi. Dave yang merasa juga bingung langsung mendekati Mika dan bertanya.


"Mika sayang, Mika mau apa? atau Mika ingin bilang sesuatu pada mama Mika?" tanya Dave mencoba untuk lebih dekat pada Mika.


Dan mendengar apa yang dikatakan Dave, Mika malah mengangguk kan kepalanya.


Sila langsung sedikit melebarkan matanya, ternyata Dave mengerti maksud Mika.


"Mika mau bilang apa sama mama?" tanya Sila dengan lembut.


"Mama, Mika tidak mau paman berwajah galak itu ikut naik kincir ria bersama kita. Mika takut!" ucap jujur Mika yang polos sambil melirik sekilas ke arah Joseph yang sedang berjalan ke arah mereka karena sudah membelikan tiket wahana.


Dave langsung mengusap wajahnya. Sila malah terlihat tidak hati pada Dave.


"Sayang, paman Joseph tidak akan ikut kita. Om meminta dia membeli 4 tiket karena agar tidak ada orang lain yang satu box dengan kita. Agar Mika bisa sepuasnya mengobrol bersama mama!" jelas Dave dan langsung membuat wajah Mika kembali ceria.


"Tuan, ini tiketnya!" ucap Joseph sambil memberikan tiket wahana pada Dave.


Dave langsung meraih 4 tiket itu sambil berkata.


"Heh Paman bermuka galak. Kamu tunggu disini ya!" ucap Dave membuat Joseph mematung bingung.


Sila hanya bisa terkekeh sambil menggandeng Mika menuju wahana kincir ria. bersama Dave.


Sementara Joseph langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa sebenarnya salahku?" tanya Joseph bingung yang tidak mengerti apa kesalahannya hingga Dave memanggilnya paman bermuka galak.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2