Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 179


__ADS_3

Shafa meraih gelas yang di berikan Joseph padanya tanpa ragu. Dia langsung meminum setengah jus yang tersisa sampai habis. Dan langsung membanting gelas itu di lantai tepat di sebelah Joseph.


Prang


Shafa menangis terisak, dan matanya langsung menatap tajam ke arah Joseph.


"Kenapa Jo, kenapa aku harus menyukai mu. Kenapa kamu harus jadi orang yang selalu pertama hadir saat aku dalam masalah sejak kecil, kenapa kamu harus jadi orang kepercayaan ayah ku, kenapa Jo?" tanya Shafa sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa aku tidak jatuh cinta saja pada orang lain, menikah dan bahagia dengan pria itu dan pergi sejauh-jauhnya darimu!" lanjut Shafa dengan suara lirih.


Shafa menarik kedua lututnya, memeluknya dan memeluknya dengan kedua tangannya. Lalu dia menyandarkan kepalanya ke arah lututnya.


Shafa terisak, seluruh badannya bergetar. Dia sangat merasa sedih, kecewa, dan tidak pu4s terhadap dirinya sendiri saat ini. Dia merasa kalau dirinya begitu bodoh dan tidak berguna. Hatinya bahkan tidak mengerti keadaan kalau dirinya dan Joseph itu memang tidak sepadan. Tidak akan mudah bagi Joseph.


Joseph yang melihat Shafa begitu frustasi hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan pada Shafa ini hanya kasihan, perasaan bersalah karena gagal menjaga Shafa atau memang ada rasa suka di hatinya pada Shafa.


Sebenarnya Joseph mulai terganggu pada keputusan hatinya sejak kejadian di mobil waktu itu. Sebelumnya dia benar-benar hanya menganggap Shafa itu nona kecilnya, nona yang akan selalu dia jaga dan lindungi. Tapi Joseph lupa, kalau nona kecil itu sekarang sudah berusia 27 tahun. Sudah menjadi wanita yang cantik, dan keras kepala. Sudah menjadi wanita yang lebih nekat dari anak SMP yang hanya sekedar menulis surat cinta lalu memberikannya pada Joseph. Lebih nekat dari gadis remaja yang mengutarakan keinginannya ingin membina rumah tangga dan bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik untuk Joseph dan anak-anaknya.


Joseph mengangkat tangannya perlahan ke arah kepala Shafa, dia berjalan mendekat karena tangannya belum menjangkau kepala Shafa.


Perlahan Joseph mengusap kepala Shafa. Merasa ada yang menyentuh kepalanya dan tidak ada orang lain dalam ruangan itu selain Joseph. Shafa mengangkat kepalanya dan menyeka air matanya, lalu menoleh ke arah Joseph yang raut wajahnya masih tetap datar.


Joseph mengusap dua kali kepala Shafa dengan lembut lalu menarik kembali tangannya. Joseph lalu meraih kursi rias yang ada di belakangnya dan menariknya ke dekat tempat tidur Shafa dan duduk disana.

__ADS_1


Jarak mereka sekarang tidak terlalu jauh, bahkan kurang dari satu meter.


Joseph menghela nafasnya panjang sebelum bicara.


"Aku mulai bekerja dengan tuan besar sejak usiaku 18 tahun. Kamu juga pasti tahu kalau aku di besarkan di panti asuhan. Tuan besar adalah donatur tetap di panti asuhan tempat aku tinggal dan bertahan hidup, dimana aku mendapatkan pendidikan, dan kehidupan yang layak!" cerita Joseph pada Shafa.


Shafa pun mendengarkan dengan serius apa yang di katakan Joseph padanya. Sebab saat inilah pertama kalinya, Joseph berkata dengan kalimat yang panjang pada Shafa. Bahkan dengan sukarela duduk di dekat Shafa tanpa Shafa yang memaksanya.


Joseph kembali melanjutkan ceritanya.


"Saat aku masuk ke rumah ini untuk pertama kali, seorang gadis kecil yang baru berusia 7 tahun selalu berlari menghindari ku karena takut. Dia bilang wajahku ini seram. Seperti guru matematika di sekolahnya, aku ingat saat dia terus menangis dan meminta agar aku tidak masuk ke dalam rumah ini lagi. Hingga satu tahun dia baru tidak lagi takut padaku!" Joseph menjeda kalimatnya dan matanya terlihat mulai berkaca-kaca.


"Di rumah ini aku mendapatkan kepercayaan, kasih sayang dari tuan besar dan juga nyonya. Aku memang hanya pelay4n, tapi tuan besar, nyonya juga kedua tuan muda tidak pernah memperlakukan aku seperti seorang pelay4n. Aku di beri pakaian dengan merek yang sama dengan yang mereka pakai, aku juga makan, makanan yang sama dengan yang mereka makan. Bahkan aku di perbolehkan makan satu meja makan dengan mereka!" Joseph kembali menjeda kalimatnya.


"Apa jadinya kalau mereka yang sudah sangat percaya padaku, memberi kepercayaan padaku untuk melindungi gadis kecil itu...!"


"Cukup Jo!" pekik Shafa menyela apa yang ingin Joseph katakan padanya.


"Lihat aku Jo, aku bukan lagi gadis kecil itu. Aku sudah dewas4 Jo!" ucap Shafa dengan mata merah, dia sangat kesal karena Joseph selalu menganggap nya gadis kecil yang harus selalu dia lindungi dan jaga.


Shafa ingin di jaga oleh Joseph, tapi bukan sebagai gadis kecil yang dia kenal 20 tahun yang lalu. Shafa ingin Joseph menjaganya seperti seorang pria yang menjaga seorang wanita, bukan seperti seorang bodyguard yang menjaga anak majikannya.


"Nona, sekarang pikiran mu sedang kalut. Aku yakin saat kamu sudah kembali seperti semula kamu juga akan melupakan perasaan sesaat ini nona...!"

__ADS_1


"Kamu menolak ku lagi kan?" tanya Shafa kembali menyela apa yang di katakan Joseph.


Joseph memandang Shafa yang begitu rapuh dan sedih. Entah kenapa Joseph juga merasa hatinya sakit, tapi ini sangat sulit baginya. Seperti sejak awal dia merasa kalau Shafa dan dirinya itu bagaikan langit dan bumi, meski selalu bersama tapi sama sekali tak akan bisa terjangkau. Joseph merasa kalau dia memang harus menolak Shafa sekali lagi.


"Nona, jika menurut mu begitu. Maka anggap saja begitu!" ujar Joseph yang tidak berani menatap wajah Shafa.


Shafa kembali harus menghela nafas berat. Ternyata pria di sampingnya itu memang sangat sangat tidak mengerti akan perasaanya.


"Keluar!" pekik Shafa.


"Nona, harus ada yang menemani mu...!"


"Keluar!" teriak Shafa lagi dan kali ini tangannya mengarahkan Joseph ke pintu keluar.


Joseph yang tidak ingin membuat keributan pun berdiri dan langsung keluar dari kamar Shafa. Joseph menutup pintu, dan berdiri di depan pintu kamar Shafa.


Shafa pun kembali menangis sejadi-jadinya. Dia hanya mengungkapkan perasaannya. Kenapa Joseph selalu menganggap nya anak kecil, dia sangat benci hal itu.


Sementara Joseph, dia juga tidak mau sampai merusak kepercayaan keluarga Hendrawan padanya. Keluarga yang telah memberinya kehidupan jauh di atas kata layak.


Kedua orang itu sedang sama-sama merasakan kesedihan yang mendalam dalam hati mereka. Bedanya, Joseph sangat pandai menutupi perasaannya, sedangkan Shafa dia terus menangis meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2