
Sementara Sila tengah sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama putri kecilnya dan bahkan sudah sangat sangat bahagia lagi karena Mika akan menginap bersamanya, di sebuah rumah kontrakan sederhana seorang wanita tengah bingung mondar-mandir memegang ponselnya.
"Kirim, enggak, kirim, enggak?" tanya Karina terus bergumam setelah membuka aplikasi lokasi di ponselnya.
Benar sekali, wanita yang sejak sepuluh menit yang lalu mondar mandir di depan pintu kamarnya itu adalah Karina. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Dan dia sedang memakai kaos yang yang ukurannya kebesaran lalu celana jeans pendek setinggi lutut. Setelah pulang kerja tadi dia terus berpikir akan mengirimkan lokasinya pada Randy atau tidak.
Karina lalu duduk di meja makan dan menghela nafas panjang.
"Kalau gak di kirim, besok masalah apalagi yang bakalan di bikin sama kadal buntung itu. Tapi kalau di kirim, ih.. " Karina menggidikkan bahunya.
Dia tidak bisa membayangkan jika harus makan malam berdua dengan kadal buntung alias Randy Hendrawan itu. Jangankan membayangkan nya, memikirkan nya saja sudah membuat semua bulu kuduk di tubuhnya berdiri semua.
"Aduh, gimana nih? aku gak mau banget kalau harus makan malam sama kadal buntung itu. Iya kalau dia ajak aku makan di restoran, kalau di hutan? dia kan dendam banget sama aku bisa-bisa aku di kirim ke Amazon. Hih, ketemu anaconda, serem banget sih!" Karina terus saja bergumam memikirkan hal yang tidak-tidak kalau sampai dia pergi bersama Randy.
Tapi di sisi lain dia juga masih cemas pada nasib pekerjaan nya. Dia sangat menyesalkan kenapa bosnya begitu tidak percaya padanya. Karina hanya bisa menghela nafas ketika dia di demosi padahal semua itu ulah Randy.
Ketika sedang melamun memikirkan saat-saat menyedihkan ketika dia di demosi. Ponsel Karina berdering, sontak saja hal itu membuat Karina tersentak kaget.
"Ya ampun, ternyata suara ponsel!" ucapnya lalu melihat ke arah layar ponselnya.
Matanya melebar ketika tertera nama kadal buntung disana.
"Waaaaa, kadal buntung!" pekik Karina yang mulai cemas.
Karina lalu meletakkan ponselnya di atas meja makan. Tidak ada niatnya untuk mengangkat panggilan telepon dari Randy.
"Ih, biarin aja. Bo*dok amat. Kan dia juga gak tahu alamat rumah ini, gak bakalan kesini juga. Aku mau masak aja, urusan besok lihat besok deh!" ucap Karina yang langsung menyetel ponselnya dalam mode silent.
Setelah itu Karina pun memutuskan untuk memasak karena perutnya sudah lapar. Sambil menunggu nasi yang dia masak di dalam rice cooker matang. Karina mencuci beberapa sayuran, untuk dia tumis. Lauk yang sederhana, hanya telur dadar dan juga tumis sayur yang Karina siapkan karena dia juga hanya akan makan makanan itu sendiri. Sila sudah mengirim pesan kalau dia ada di rumah ayahnya karena ayahnya sedang sakit. Jadi dia tidak akan pulang ke kontrakan malam ini.
Ketika sedang asik memasak, dan itu sudah berlangsung hampir setengah jam yang artinya sudah jam 20.00. Ponsel Karina pun terlihat sudah berhenti bergetar.
Tapi tiba-tiba saja pintu rumah kontrakan Karina ada yang mengetuk. Dan ketukannya terdengar kencang sampai Karina berlari ke arah depan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Karina dari dalam.
Ketika Karina akan membuka kunci, dia menghentikan gerakan tangannya. Karena lagi-lagi orang yang di luar mengetuk dengan ketukan yang kencang dan cepat. Seperti orang yang terburu-buru atau bahkan orang yang sedang kesal.
Karina jadi gugup.
'Bagaimana kalau orang jahat? kenapa dia tidak menjawab saat aku tanya dia siapa?' tanya Karina dalam hati.
Karina menghirup nafas dalam-dalam sebelum kembali bertanya.
"Iya sebentar, tapi siapa di luar?" tanya Karina dengan suara agak keras.
"Buka pintunya macan betina!" teriak seseorang dari luar pintu.
Karina langsung melongo, dia tak percaya kalau yang ada diluar rumahnya adalah Randy, si kadal buntung itu. Karina langsung panik, dia malah bingung dan beberapa kali menggaruk kepalanya yang mendadak menjadi terasa gatal padahal tadi dia sudah mencuci rambutnya.
"Aku hitung sampai tiga, kalau tidak kamu buka juga pintunya. Aku akan mendobraknya! satu... !" gertak Randy membuat otak Karina sulit berpikir.
"Dua..!" Randy masih terus menghitung.
Karina yang sudah tidak bisa memikirkan cara lain, akhirnya membuka kunci pintunya. Setidaknya masih jam delapan malam, dan ini di rumahnya, sebentar lagi juga akan ada hansip yang keliling komplek. Karina merasa tidak masalah, karena para tetangga juga pasti belum tidur. Kalau Randy macam-macam maka Karina tinggal teriak saja. Itulah yang ada dipikiran Karina.
Begitu Karina membuka pintu, dia di buat terkejut karena ada sebuah buket bunga besar yang di ulurkan Randy padanya.
"Untuk mu!" ucap Randy dengan wajah datar.
Karina malah mengangkat kedua alisnya heran. Dia masih bingung bagaimana Randy bisa menemuka rumah kontrakan nya padahal dia belum memberi alamatnya pada pria itu.
Karena Karina tak kunjung menerima buket bunga yang dia berikan. Randy pun meraih tangan kanan Karina dan meletakkan buket bunga itu di tangannya lalu berjalan melewati pintu.
"Eh..!" Karina lalu memegang dengan tangan satunya lagi karena buket bunga itu nyaris saja terjatuh.
Karina lalu berbalik, dia baru sadar kalau ternyata Randy sudah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Heh, kadal buntung siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Karina sambil meletakkan buket bunga pemberian Randy di atas meja di ruang tamu.
Dengan santainya Randy pun berjalan masuk tanpa memperdulikan Karina. Langkahnya tertuju ke arah dapur.
"Bagus sekali ya, aku sudah reservasi restoran dan kamu malah akan makan sendirian disini?" tanya Randy dengan mata menunjukkan ekspresi kesal.
Ekspresi wajah Randy saat bicara itu seperti seseorang yang tidak terima akan suatu hal.
'Ih, kenapa dia melihatku seolah aku sudah berbuat salah padanya?' tanya Karina dalam hati merasa aneh.
Tanpa bertanya lagi, Randy langsung menarik salah satu kursi di meja makan lalu dia duduk dengan begitu santainya.
"Baiklah karena mau mu makan malam berdua di rumah saja, maka akan ku kabulkan!" ucap Randy yang lagi-lagi membuat Karina menaikkan kedua alisnya.
"Memangnya siapa yang mau makan malam denganmu?" tanya Karina.
"Macan betina, orang itu yang di pegang omongannya. Kamu sudah bilang iya dan setuju untuk makan malam denganku, kamu tidak boleh ingkar janji, atau tidak akan ada orang yang percaya padamu lagi!" ucap Randy dengan wajah serius.
Deg
'Bicaranya seperti orang benar saja! ck...!' batin Karina yang memang merasa bersalah karena ucapan Randy barusan.
Sambil menghela nafas panjang Karina berjalan mengambil dua piring dan meletakkan nya di atas meja makan. Satu di depan Randy dan satu lagi untuknya.
Karina juga membuat telur dadar satu lagi untuk Randy. Juga menyiapkan nasi dan minuman untuk pria itu.
Sementara Karina sedang serius menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Randy hanya melihat Karina sambil tersenyum.
'Bisa lari dariku, itu tidak mungkin!' pikirnya.
***
Bersambung...
__ADS_1