
Sementara itu setelah pulang kerja, Karina juga di minta oleh Joseph untuk bersiap. Karena tepat jam 7 malam juga, Joseph akan menjemput nya di rumah kontrakan nya dan mengantarkannya ke rumah sakit.
Dengan gaya berpakaian biasa yang di pakai Karina, celana panjang dan juga blouse yang cukup sederhana tapi juga cukup pantas untuk acara yang semi formal. Dengan riasan tipis dan juga rambut yang di jepit setengah dari semua rambutnya ke arah belakang. Sangat simpel tapi tetap membuat Karina terlihat cantik dan manis.
Karina membuka pintu rumah kontrakannya ketika mendengar Joseph memanggilnya dari luar dan mengetuk pintu.
"Selamat malam nona!" sapa Joseph.
"Malam tuan Joseph, ayo!" ucap Karina yang langsung mengunci pintu lalu berjalan menuju ke arah mobil.
Joseph juga langsung membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang. Tapi Karina malah membuka sendiri pintu penumpang di bagian depan.
Joseph sedikit terkejut tapi langsung menutup kembali pintu mobil itu dan berlari ke arah pintu mobil bagian pengemudi. Tanpa banyak bicara Joseph langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sudah beberapa belas menit berlalu, namun di antara keduanya hanya ada kesunyian. Joseph fokus mengemudi sedangkan Karina hanya melihat ke arah samping, ke kaca mobil. Tapi sebenarnya dia melihat ke arah bayangan Joseph yang dapat di lihat dari kaca mobil di sebelahnya.
Sedangkan di rumah sakit. Davina, Rizal dan Shafa juga Vincent sudah tiba di kamar rawat Randy. Bersama dengan Adi Praja, Aline dan juga Luna.
Semua tampak senang, kecuali Shafa yang terus berusaha menjauhkan diri dari obrolan semua orang yang ada di ruangan yang memang cukup luas tersebut.
'Ih, mana sih kak Dave. Awas saja kalau dia datang sendiri. Aku sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibu kandung ku itu, masa iya sih bikin pertemuan keluarga di rumah sakit!' batin Shafa yang sejak tadi terus menatap tak senang pada Davina.
Sebenarnya bukan karena Davina mengadakan pertemuan dua keluarga di rumah sakit, di ruang rawat Randy saja. Tapi Shafa juga tidak suka dengan rencana Davina mengenalkan Karina dan Luna. Dia kan sangat tidak setuju jika Dave menikah dengan Luna. Terlebih dia tidak ingin Luna bertemu Karina, karena Shafa tidak ingin Karina terpapar viru5 lebay dan ratu drama Luna.
Shafa masih terus melihat ke arah pintu, berharap Dave datang membawa Anita atau siapa saja yang bisa membuat acara pertunangan ini batal.
Vincent yang melihat istrinya gelisah dan terus menghindar dari yang lain pun segera menghampiri Shafa.
"Kenapa malah menjauh, aku lihat kamu juga tidak senang dengan rencana pertunangan kedua kakak mu ini?" tanya Vincent.
"Bukan urusan mu!" jawab Shafa ketus pada Vincent.
__ADS_1
Vincent menelan salivanya dengan susah payah. Sangat sulit mendekati Shafa baginya, seperti menyebrang dari satu pulau ke pulau yang lain yang jaraknya puluhan ribu mil dengan berenang tanpa alat bantu apapun. Vincent akan kelelahan dan kehabisan nafas jika terus berusaha melakukan nya.
"Shafa aku tahu pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan, tapi bisakah di depan kedua orang tuamu, kamu memberikan muka padaku?" tanya Vincent berusaha membujuk Shafa agar terkesan kalau pernikahan mereka ini baik-baik saja.
Shafa langsung melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mau mu banyak sekali ya? pertama kamu minta aku bersikap naik padamu di depan nenek mu, aku sudah melakukan nya. Kedua, kamu minta aku bersikap manis padamu di depan kedua orang tuamu aku juga sudah melakukan nya. Sekarang kamu minta aku berikan muka padamu di depan orang tuaku, lalu kamu bisa memelukku seperti tempo hari? Bermimpi saja kamu!" ketus Shafa kesal.
Vincent hanya bisa kembali menghela nafas berat. Memang salahnya, tempo hari dia pernah memeluk Shafa tanpa ijin di depan Davina. Saat itu Shafa hanya diam, tapi setelah mereka pulang ke rumah Vincent. Shafa sangat marah dan mengamuk. Itulah yang membuatnya memilih tinggal di rumah ayahnya dengan alasan Vincent selalu kerja lembur dan dia tidak berani tidur sendiri di rumah.
Meninggalkan Shafa yang masih kesal pada Vincent, Luna terlihat sudah tidak sabar menunggu kedatangan Dave. Tadi Davina sudah menjelaskan kalau setelah pertemuan ini, mereka akan segera bertunangan. Dan itu membuat Luna dan Aline sangat senang.
Sementara itu Randy juga sudah tidak sabar menunggu kedatangan Karina. Karena saat Randy menghubungi Joseph tadi, Joseph bilang Karina bersedia datang, artinya Karina tidak menolaknya, dan itu membuat Randy sangat senang.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamar rawat Randy membuat semua orang menoleh ke arah pintu, tak terkecuali Shafa dan Vincent.
Benar sekali, Dave masuk bersama dengan Sila. Dan Dave menggandeng tangan Sila, karena mereka memang sudah bergandengan sejak turun dari mobil.
Semua orang yang belum pernah melihat Sila, tampak terkejut, apalagi ketika melihat ke arah tangan Dave.
Randy dan Luna juga sama terkejutnya.
"Sila" ucap Luna tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Dave mengajak Sila berjalan lebih mendekat lagi ke arah keluarganya.
"Dave, apa apaan ini?" tanya Davina dengan pandangan tajam pada Dave dan Sila secara bergantian.
Sementara Shafa yang seharusnya senang juga terkejut. Masalahnya dia tidak menyangka kalau apa yang dikatakan Dave di telepon padanya itu bukan sebuah candaan.
__ADS_1
'Jadi, apa mungkin kata kak Dave tadi benar? dia benar-benar sudah menikah dengan perempuan itu?' tanya Shafa dalam hati.
"Ibu!" lirih Luna yang langsung memeluk Aline.
Melihat reaksi Luna dan Aline yang langsung menatap tajam pada Davina. Membuat Davina langsung maju ke arah Dave dan Sila lalu berkata.
"Siapa perempuan ini?" tanya Davina dengan tidak senang.
Shafa berjalan mendekati Randy, karena sepertinya Randy mengenal siapa wanita yang di gandeng oleh Dave.
"Kak, siapa wanita itu?" tanya Shafa berbisik pada Randy.
"Dia sekertaris pribadi Dave!" jawab Randy.
"Kakak lihat kan, kak Dave menyentuh tangan wanita itu, mungkinkah...!"
Tapi sebelum Shafa menyelesaikan pertanyaannya pada Randy, dia berhenti bicara karena terkejut mendengar Davina membentak Dave.
"Katakan Dave!" bentak Davina.
Rizal yang tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit langsung mendekati Davina, menarik lengan istrinya itu dan berkata.
"Bu, tenang dulu. Ini rumah sakit. Bisa kan kamu bertanya pada Dave dengan tenang!" ujar Rizal.
"Dave, katakan siapa wanita ini?" tanya Rizal.
"Ayah, ini Sila. Dia istriku!" jawab Dave dengan tenang.
Membuat Davina nyaris terkena serangan jantung, membuat yang lain tampak sangat terkejut, dan Luna nyaris pingsan.
***
__ADS_1
Bersambung...