
Malam harinya Hadi belum juga kembali, hal itu membuat Susan makin kesal saja. Dia bahkan sudah menghubungi beberapa teman kantor Hadi dan mereka semua juga bilang kalau Hadi sedang tidak bersama Susan.
Di dalam kamarnya Susan terus mondar-mandir memikirkan kemungkinan kemana Hadi Tama pergi. Kepalanya bahkan terasa sakit karena dia bahkan tidak makan dengan baik hari ini karena terlanjur malas keluar dari kamar setelah pertengkaran nya dengan Murti tadi siang.
Setelah beberapa saat, Susan merasa kalau kesabaran nya benar-benar sudah di ambang batasnya. Dia memutuskan untuk menghubungi ibunya.
"Halo Susan, ada apa menghubungi ibu malam-malam begini?" tanya Mila di seberang sana.
"Halo Bu, seharian aku tidak melihat mas Hadi. Sejak bangun tidur sampai sekarang. Ibu tahu tidak kira-kira mas Hadi dimana ya? kepalaku sakit Bu, aku tidak bisa berpikir dengan baik!" ucap Susan mengadu pada sang ibu.
"Loh, dari pagi kamu tidak lihat dia, kenapa baru menghubungi ibu sekarang? bagaimana kalau calon suami mu menemui pelakor itu. Ya ampun Susan, kamu kok bisa sih kecolongan begini?" tanya Mila yang terdengar kesal pada sikap ceroboh Susan.
"Tidak mungkin Bu, mereka kan sudah bercerai. Mana mungkin mas Hadi menemui wanita itu. Aku juga sudah minta mas Hadi memecatnya dari kantor...!"
"Dasar bodoh, sekarang ibu yakin kalau Hadi sebenarnya telah membohongi mu. Sekarang kamu pikir deh Susan, bagaimana mungkin Hadi bisa memecat pelakor itu sementara dia kan di skorsing, dan besok dia baru bisa masuk kerja. Pikiran mu di mana sih Susan?" tanya Mila.
Susan jadi cemas mendengar semua yang ibunya katakan padanya. Susan beru sadar kalau semua yang ibunya katakan itu benar. Dia pun memegang kepalanya yang mulai semakin berdenyut.
"Aduh Bu, aku benar-benar tidak berpikir sampai begitu. Aku pikir mas Hadi akan menepati janjinya...!"
"Jangan naif Susan, Hadi itu pria yang pernah berselingkuh, apa kamu tahu apa artinya itu? dia sudah terlatih berbohong, dia yang pandai berbohong di depan mantan istrinya dulu bahkan selama satu tahun kalian berhubungan tidak ketahuan kan oleh mantan istrinya itu? sekarang apa susahnya dia berbohong padamu?" tanya Mila yang makin membuat Susan gemetaran.
Susan begitu kesal mendengar semua yang ibunya katakan. Dia sangat kesal bercampur panik dan takut kalau apa yang dikatakan Mila itu benar. Dia belum sadar kalau dulu Sila juga merasakan hal itu. Rasa sakit hati pada Hadi karena sudah selingkuh darinya.
__ADS_1
Susan saja yang belum menikah merasakan perasaan yang begitu sangat tidak suka dan sangat benci mendengar Hadi selingkuh. Dia sama sekali tidak berpikir bagaimana perasaan Sila dulu, saat dengan terang-terangan Susan mengakui mereka bahkan telah tidur bersama.
Susan mengepalkan tangannya di atas meja rias.
"Lalu aku harus bagaimana Bu, kepala ku sangat sakit. Aku sama sekali tidak bisa berpikir?" tanya Susan yang sudah sangat kacau pikiran dan juga hatinya.
Mila pun memberikan saran pada Susan untuk bertanya pada orang yang bisa dia percaya dan tidak mungkin berbohong tentang keberadaan Rosa di kantor Hadi. Dan setelah Susan menghubungi temannya itu, ternyata benar apa kata Mila. Rosa masih bekerja disana.
Susan semakin geram, dia bahkan menangis saat mengadu lagi pada Mila. Karena khawatir Mila pun mendatangi rumah Hadi Tama. Saat Mila tiba di rumah itu, Haris dan Murti sedang makan malam bersama.
Ketukan pintu yang tidak beraturan dan pekikan Mila memanggil nama anaknya membuat Murti yang sedang makan malam merasa sangat terganggu. Awalnya ketika tahu itu yang datang itu adalah Mila, Murti meminta para asisten rumah tangga nya untuk tidak membuka pintu. Karena Murti yakin kalau calon besannya itu akan membuat keributan. Dan calon menantunya itu pasti sudah banyak mengadu pada Mila.
Tapi karena tindakannya itu, Murti malah harus mendengar Mila terus berteriak di depan pintu. Susan yang tengah mandi tidak mendengar sang ibu yang sedang berteriak di luar.
"Biarin saja yah, lagian ngapain wanita manja itu gak keluar dan buka pintu sendiri. Dia itu tadi siang sombong banget loh yah, dia bahkan mau pecat asisten rumah tangga di sini. Dia pikir dia sudah jadi nyonya apa?" tanya Murti yang curhat colongan pada Haris mengenai pertengkaran nya dan juga Susan tadi siang.
Haris hanya menghela nafasnya panjang, dia bahkan meletakkan sendok dan garpunya karena sudah tidak berselera makan lagi.
"Mau bagaimana pun juga, dia itu calon istri Hadi. Dan yang di luar itu calon menantunya. Aku kan sudah mengajak ibu pergi dari sini dan ikut Zain saja di kampung, ibu yang tidak mau. Kalau kita mau tinggal di sini, hal-hal seperti ini pasti akan terus terjadi Bu. Ayah sungguh rindu kehidupan damai ketika Sila masih menjadi menantu kita!" ucap Haris dengan mata sayu lalu memilih pergi dari ruang makan menuju ke kamarnya.
Murti langsung terdiam, sesungguhnya dia juga merindukan masa itu. Dimana dia tidak perlu turun tangan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga karena Sila pasti akan mengerjakan semuanya. Padahal dulu tidak ada asisten rumah tangga di rumah. Tapi semua itu sudah tidak mungkin kembali, setidaknya Murti masih punya harapan pada Rosa. Karena itu dia sama sekali tidak mau berdamai dengan Susan.
Selesai mandi, Susan baru mendengar suara teriakan ibunya memanggil dirinya. Dengan masih memakai jubah mandi. Susan keluar dari kamarnya dan melihat Murti yang masih tenang di meja makan. Karena kesal, Susan pun menghampiri Murti.
__ADS_1
"Ibu!" teriak Susan.
Murti pun pura-pura tidak mendengar panggilan Susan itu.
"Ibu apa-apaan sih, kenapa pintunya tidak di buka? ibu tidak dengar ibuku berteriak-teriak memanggilku?" tanya Susan kesal.
"Kamu kan dengar dia memanggilmu, yang di panggil itu kamu. Jadi kenapa aku yang harus buka pintu?" tanya Murti menyepelekan Susan.
Susan mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Ibu benar-benar ya. Kemana juga semua asisten rumah tangga di sini?" tanya Susan geram.
"Bukannya kamu mau pecat semuanya, jadi mereka juga menganggap kamu itu bukan nyonya mereka lagi. Jangan salahkan mereka kalau mereka hanya mendengarkan perintahku, dan tidak menganggap mu!" jawab Murti dengan santai.
Susan sudah berada pada batas kesabaran nya, namun dia memilih pergi dari ruang makan menuju ke arah pintu. Susan membukakan pintu untuk Mila.
"Susan! apa-apaan ini? sudah hampir sepuluh menit ibu berteriak di luar. Ulah siapa ini?" tanya Mila yang melihat Susan masih memakai jubah mandi.
"Calon ibu mertua menyebalkan itu!" jawab Susan.
"Apa?" pekik Mila tak percaya.
***
__ADS_1
Bersambung...