Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 164


__ADS_3

Sementara itu para dewan direksi yang telah kembali dengan tangan kosong pun marah kembali pada Hadi Tama. Di ruangan CEO, Kamal yang sedang pusing karena harus mendengar semua ocehan pada pemegang saham dan dewan direksi langsung minta sekertaris pribadi nya memanggil Hadi Tama.


"Untuk apa lagi memanggil dia, dia tidak akan mengaku apa yang sudah dia lakukan hingga membuat tuan Dave Hendrawan marah!" kesal Irsya.


"Benar pak Kamal, sanksi yang kau berikan pada Hadi Tama itu terlalu ringan! lihat, kita bahkan harus kembali lagi jam satu siang karena tuan Dave tidak ada di perusahaan. Parahnya dia tidak mau menerima panggilan telepon dari kita, mereka para sekertaris pribadi nya bahkan tidak tahu apa jam satu siang nanti itu tuan Dave akan datang atau tidak! pak Kamal seharusnya kamu pecat saja itu Hadi Tama!" kesal Zaenal.


Kamal yang masih mengingat kontribusi besar Hadi pada perusahaan pun semakin di buat gusar. Tidak sulit memecatnya, tapi dia ingat betul selama tiga bulan dia berobat di luar negeri. Hadi Tama lah yang mengurus perusahaan hingga bisa bekerja sama dengan perusahaan raksas4 seperti Hendrawan grup.


"Tunggu dulu, mana mungkin bisa main pecat begitu saja. Puluhan proyek yang sudah di buat sukses oleh Hadi Tama, apa kalian tidak ingat tentang hal itu, berapa milyar juga keuntungan untuk perusahaan, setidaknya pikirkan hal itu!" ucap Kamal yang masih membela Hadi Tama.


Irsya yang kesal karena dari tadi Kamal terkesan membela Hadi hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Heh, sudahlah. Kalau jam satu siang nanti kita tidak bisa juga bicara pada tuan Dave Hendrawan, aku rasa pak Kamal harus lebih tegas pada Hadi. Hanya menskors nya saja itu tidak cukup, seharusnya dia di demosi!" ucap Irsya.


Kamal kembali harus memijit pelipisnya mendengar ucapan Irsya.


"Kita tunggu saja dulu, aku akan tanya apa alasan sebenarnya, agar kita bisa bicara baik-baik pada tuan Dave Hendrawan...!"


Tapi sebelum pak Kamal selesai bicara, Zaenal malah menepis sebuah dokumen yang ada di atas meja Kamal.

__ADS_1


"Omong kosong, mau bicara seperti apa juga orang seperti Hadi Tama itu tidak akan mengakui kesalahannya. Menyebalkan!" kesal Zaenal yang langsung keluar begitu saja dari ruangan Kamal.


Semua yang ada di ruangan itu juga terlihat kesal dan menatap tidak senang pada Jamal. Dan pada akhirnya, mereka pun pergi meninggalkan Kamal yang hanya bisa memijit kepalanya yang terasa mau pecah saja.


Sementara itu Hadi Tama yang sejak tadi dipanggil ke ruangan Kamal oleh sekertaris pribadi Kamal. Masih berada di ruangannya. Dia sudah mendengar kalau saat Kamal dan yang lain pergi ke perusahaan Dave Hendrawan. Dave tidak ada di perusahaan bahkan tidak tahu kapan waktu pasti Dave akan bertemu dengan Kamal dan juga yang lain.


Hadi sudah tahu, kalau di panggilnya dia ke ruangan Kamal pasti hanya untuk di marahi dan di maki-maki. Hadi sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi lagi padanya. Dia sudah cukup stress memikirkan kalau gajinya akan segera dengan wakil manager pemula. Itu sudah membuatnya sangat kesal pada Susan.


Rosa yang datang membawakan minuman untuk Hadi pun bisa mengerti masalah dan kesulitan yang sedang di hadapi bosnya.


'Kalau aku bisa membuat pak Hadi lepas dari masalah ini, aku pasti akan sangat berharga di matanya. Tidak akan ku lewatkan!' batin Rosa yang berjalan ke arah meja Hadi lalu meletakkan minuman yang dia bawa ke atas meja.


Hadi yang awalnya memegangi kepalanya langsung melihat ke arah Rosa.


"Em... pak Hadi tidak usah menemui mereka. Saya akan katakan pak Hadi kurang sehat dan sedang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Kalau masalah besok, pak Hadi kan akan di skors dan tidak akan masuk kerja. Otomatis mereka akan melupakan masalah ini sementara waktu, tidak mungkin kan mereka yang adalah para pekerja yang super sibuk akan mendatangi rumah pak Hadi! Bagaimana?" tanya Rosa pada Hadi.


Hadi tidak menyangka kalau Rosa bisa memikirkan hal seperti itu. Karena Hadi tak punya pilihan lain untuk menghindari amukan para pemegang saham yang sedang kesal saat ini. Dia pun mengangguk setuju.


"Baiklah, tapi kenapa kamu mau membantuku?" tanya Hadi.

__ADS_1


Rosa yang mulai melancarkan jurus jurus merayunya lantas memainkan jari telunjuknya di dada Hadi. Hadi yang bukan pria yang polos, tahu apa maksud Rosa.


"Mungkin satu kali makan malam hanya berdua saja...!"


Hadi langsung memegang tangan Rosa. Melihat wajah cantik Rosa yang sejak tadi menggodanya membuat Hadi merasa kalau Rosa sudah memberi lampu hijau padanya. Tanpa ragu, Hadi langsung mengecup bibir merah merona Rosa.


Rosa sangat senang dalam hatinya. Ternyata seperti dugaannya kalau Hadi memang mudah di rayu. Apalagi dia sedang frustasi dengan calon istrinya dan pekerjaannya. Sangat mudah bagi seorang pria yang sedang mengalami kegusaran semacam itu untuk di rayu, di beri perhatian lebih sedikit. Dia pasti akan mabuk kepayang.


Setelah puas dengan bibir tebal Rosa, Hadi pun melepaskan wanita yang pakaian nya bahkan sudah terbuka dua bu4h kancing bagian atas kemejanya itu. Entah bagaimana itu bisa terbuka, tapi itu malah membuat Hadi semakin terpana melihat dua tonjolan di depan matanya.


"Nanti malam, aku jemput kamu jam 8 malam. Kirimkan saja alamat mu ke nomerku!" bisik Hadi yang langsung meninggalkan ruangannya.


Rosa tersenyum puas setelah Hadi keluar dari pintu ruangannya.


"Hah, ternyata memang mudah merayu pria ini. Susan Delia, ups... mantan istri dari mantan kakak ipar ku, kamu akan tahu rasanya di tinggalkan. Dulu kamu merebut suami kakak ku, bahkan dia lebih tua dan lebih pantas kamu panggil paman, tapi karena harta kamu merayunya, Hingga kakak ku di ceraikan ketika hamil, dan hal itu membuatnya depresi dan bunuhh diri. Sekarang giliran ku, membalas semua rasa sakit kakak ku itu, meskipun mantan kakak ipar ku itu sudah menceraikan mu. Tapi kakak ku juga pasti belum akan puas dengan hal itu, kamu harus merasakan sakit dan depresi yang sama seperti yang telah kakak ku rasakan! kamu juga harus menderita Susan!" gumam Rosa.


Ternyata Rosa adalah adik dari wanita yang telah dicampakkan mantan suami Susan karena rayuan Susan. Saat itu Rosa masih remaja, dia tidak mengerti dengan penderitaan kakaknya yang sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi setelah dia lulus kuliah, dia yang diceritakan semua hal yang terjadi pada kakaknya oleh sang ibu bertekad untuk membalas Susan, wanita yang sudah membuatnya kehilangan kakak kandungnya satu-satunya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2