Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 282


__ADS_3

Karena Shafa terus menangis, setelah Joseph mendapatkan kembali kesadarannya seutuhnya. Dia pun membelai lembut pipi Shafa, menyeka air mata yang menetes di pipi kekasihnya itu.


"Berhentilah menangis, sayang sekali make up yang kamu pakai. Itu pasti sangat mahal...!"


Brukkk


Shafa langsung menubruk Joseph dan memeluknya dengan sangat erat. Tangis Shafa malah tambah tersedu-sedu lagi. Mbok Darmi yang awalnya sudah sangat terkejut dengan pertengkaran tuan mudanya dan pengawal kepercayaan nya. Kini makin di buat terkejut lagi, karena nona mudanya juga memeluk Joseph sambil terisak.


Perlahan mbok Darmi pun mundur, dan menjauh bahkan meninggalkan kamar Shafa karena memang beberapa luka Joseph sudah di bersihkan dan di oles dengan salep.


"Kalau kamu memelukku seperti ini, lima menit lagi aku pasti sudah tidak bisa bernafas!" ucap Joseph pelan.


Shafa menyadari yang dia lakukan, dan langsung menarik dirinya, melepaskan pelukannya dari Joseph.


"Maafkan aku, seharusnya aku mendengarkan mu dan mengatakan yang sebenarnya pada ayah dan ibu. Apapun resikonya. Ini salahku, sampai kamu jadi babak belur begini. Maafkan aku...!" lirih Shafa sambil terus mengalirkan air mata karena dia merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.


Karena kebimbangannya dan ketakutannya akan banyak hal mengenai keluarganya akhir-akhir ini. Dia membuat Joseph mengambil jalan jalan yang begitu menyiksa dirinya sendiri demi mengungkapkan kebenaran tentang hubungannya dengan pria yang sangat dia cintai itu.


Joseph menarik senyum tipis di bibirnya, Joseph melakukan itu untuk menghibur Shafa. Meskipun untuk melakukan hal itu Joseph merasakan perih yang lumayan di sana.


"Jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salah mu Shafa!"


"Lalu salah siapa???" teriak sebuah suara yang begitu lantang terdengar di telinga Joseph dan shafa.


Keduanya lantas berbalik dan melihat ke arah pintu. Rizal Hendrawan sudah berdiri tegak di sana, dengan mata dan wajah yang memerah dia pun berjalan menghampiri Shafa dan Joseph yang berada di sofa.


Setiap langkah kaki Rizal Hendrawan yang melangkah maju, terasa bagaikan sebuah genderang di hati Shafa. Makin langkah itu bertambah, genderang itu makin terdengar sangat keras, dan membuat jantungnya melompat lompat takut. Joseph juga semakin menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa sangat bersalah. Tapi dia juga tidak mau kehilangan Shafa. Wanita di sampingnya itu sudah mengambil separuh nyawanya, bagaimana dia bisa hidup tanpa Shafa, tanpa nyawanya.


Shafa berdiri ketika sang ayah mendekat. Dia berdiri di depan Joseph. Shafa takut kalau sang ayah akan menyakiti Joseph seperti yang dilakukan kakaknya Dave tadi.


Shafa yakin meski ayahnya sangat marah padanya, ayahnya tak mungkin akan memukulnya. Sebab sejak kecil ayahnya memang tidak pernah main tangan, satu kali pun. Bahkan meski itu hanya sebuah jeweran atau cubitan kecil.

__ADS_1


"Minggir Shafa!" teriak Rizal Hendrawan.


Shafa tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat beberapa kali.


"Tidak ayah, ini bukan salah Joseph! aku yang mengejarnya, aku yang selalu mengganggunya, aku yang tidak membiarkan nya tenang meskipun dia sudah berulang ulang kali menolak ku. Ini salahku ayah...!"


Davina yang berdiri tak jauh dari Rizal pun tertegun sampai tak bisa berkata-kata lagi mendengar apa yang dikatakan Shafa. Air matanya tiba-tiba saja menetes melihat putri satu-satunya sampai seperti itu. Davina memejamkan matanya dan memegang dadanya ketika menyadari kalau ternyata putrinya selama ini sudah banyak menderita. Bahkan menyimpan hal seperti itu sendirian, Davina merasa gagal menjadi ibu yang seharusnya mengetahui apa yang terjadi pada putrinya.


Davina merasa ini juga kesalahannya, karena tak mampu mendapatkan kepercayaan dari putrinya sendiri.


Mata Rizal memerah, tadinya sudah merah sekarang bertambah merah lagi.


"Minggir ayah bilang!" teriak Rizal lagi.


Joseph yang sebenarnya masih sangat lemah, berusaha untuk meraih tangan Shafa. Dan mencoba untuk menggenggam erat tangan Shafa.


"Minggir Shafa!" ucap Joseph pelan.


Tapi Shafa masih tidak mau beranjak dari tempatnya. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia terus melihat ayahnya yang terlihat tanpa ekspresi itu di depannya.


"Shafa, aku mohon...!"


Setelah mendengar suara serak dan pelan itu dari Joseph. Shafa pun menoleh ke belakang. Wajah Joseph benar-benar mengenaskan. Saat Shafa melihat ke arahnya dengan tatapan tak rela, Joseph malah mengangguk pelan.


"Tidak apa-apa! percayalah!" ucap Joseph pelan, benar-benar seperti sebuah bisikan karena dia sangat lemah setelah dipukuli berulang ulang kali oleh Dave tadi.


Shafa masih sangat enggan melepaskan tangan Joseph. Namun pria itu yang melepaskan tangannya dari Shafa.


Tanpa menunggu lagi, Rizal menarik tangan putrinya hingga mundur ke arah belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Setelah itu Rizal maju melangkah ke depan.


Saat tiba persis di depan Joseph, Rizal terlihat mengeraskan rahangnya membuat giginya bertaut satu sama lain. Shafa yang melihat itu tentu saja cemas. Dia bahkan kembali menangis.

__ADS_1


"Ayah... hiks... hiks...!" lirih Shafa yang sudah sangat pasrah pada keadaan.


Joseph juga masih menundukkan kepalanya, mau berdiri dia rasanya sudah tidak mampu. Rasa bersalah benar-benar membuatnya lemah.


"Angkat kepalamu!" pekik Rizal membuat Shafa semakin berderaian air mata.


Davina yang merasa sangat kasihan pada sang putri pun perlahan mendekati Shafa yang tengah terisak bahkan nyaris tak kuat berdiri. Davina langsung merangkul Shafa dan memeluk putrinya itu dengan erat sambil menangis.


Di pelukan Davina Shafa terisak, sambil matanya tak lepas dari sang ayah dan sang kekasih. Shafa tak mau berkedip satu detik pun, dia takut ayahnya juga akan memukul Joseph sama seperti Dave karena marah pada Joseph dan juga dirinya.


Perlahan Joseph mengangkat kepalanya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Joseph memberanikan dirinya melihat ke arah Rizal Hendrawan.


Tangan Rizal terangkat, Shafa sudah takut bukan main.


Plakk


Sebuah pukulan mendarat di lengan Joseph. Tapi pukulan itu tidak keras. Shafa tertegun melihat sanga ayah memukul Joseph hanya seperti menepuk sahabat yang lama tak bertemu.


Sama dengan Joseph, dia juga terkejut. Karena awalnya Joseph sudah memejamkan matanya karena menyiapkan diri menerima pukulan Rizal. Tapi dia langsung membuka matanya ketika merasakan kalau pukulan yang dia terima tidak terasa sakit.


Ketika Shafa dan Joseph terbengong. Rizal langsung mendengus kesal.


"Dasar bodoh, kenapa tidak bilang saja kamu menyukai Shafa dan Shafa menyukai mu. Kenapa harus seperti ini dulu baru kalian mau terbuka pada kami?" tanya Rizal dengan mata berkaca-kaca.


Shafa dan Joseph masih terdiam. Mereka berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan Rizal.


"Bagun anak bodoh!" ucap Rizal pada Joseph.


Dengan bingung, Joseph berusaha untuk berdiri. Melihat Joseph yang kesulitan, Rizal langsung menarik lengan Joseph lalu memeluknya.


"Kau juga anakku Joseph, kenapa kamu berpikir aku tidak akan merestui mu dengan Shafa?" tanya Rizal lagi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2