Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 105


__ADS_3

Hadi terdiam mendengar Susan menanyakan tentang kemana dirinya semalam. Hadi masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk di katakan pada Susan. Karena kalau dia berbohong, Susan pasti akan sangat marah padanya. Dan itu sangat tidak baik baginya, karena dia baru saja mendapatkan promosi jabatan. Apa kata semua karyawan di tempat ini kalau baru sehari dia menjabat menjadi wakil CEO dia sudah membuat keributan di kantor.


Lagipula membohongi Susan itu sangat tidak mudah, tidak seperti membohongi Sila. Susan adalah tipikal orang yang sulit percaya kalau tidak ada buktinya, atau bahkan kalau Hadi bicara berbeda dari awal dia bicara. Kalau Sila, dulu asal Hadi bicara dengan lembut sambil tersenyum. Mantan istrinya itu akan sangat percaya sepenuhnya padanya.


"Susan? ini masih pagi. Kenapa membuat keributan di kantor?" tanya Hadi yang langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Susan.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu? kenapa semalam susah sekali menghubungi mu? kemana kamu pergi semalaman?" tanya Susan yang sangat kesal.


Hadi berpikir lagi, Susan juga sudah selesai dengan masa cuti kerjanya, dia pasti akan kembali masuk kerja dan pastinya dia akan bertemu dengan Irwan ataupun Deni, kemungkin mereka juga akan bercerita kalau mereka semalam merayakan kenaikan jabatan Hadi di klub malam pada Susan, kalau Susan bertanya pada mereka.


Hadi yang takut ketahuan oleh Susan langsung menuntun Susan untuk duduk di sofa.


"Susan, tenang dulu. Duduk dulu! semalam aku dan teman-teman merayakan kenaikan jabatan ku, kami minum-minum sampai lupa waktu...!" jelas Hadi dengan sedikit menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


Susan yang mendengar Hadi malah asik minum-minum dengan teman-teman kerjanya sementara dirinya di usir dari rumah oleh ibu Hadi pun menjadi kesal. Dia langsung berdiri tanpa menunggu Hadi yang ingin menjelaskan padanya.


"Hoh, enak sekali kamu ya mas. Kamu malah senang-senang semalam. Sementara aku kesal menahan amarah ku karena di usir oleh ibu mu dan semua orang yang dia undang ke rumah mu semalam!" kesal Susan yang sudah mulai meninggikan suaranya.


Hadi menjadi panik. Masalahnya dia tidak mau kalau sampai orang lain di kantor ini juga mengetahui hubungan nya dengan Susan yang lebih dari sekedar hubungan antara seorang atasan dengan bawahannya.


Hadi ikut berdiri, Hadi lalu memegang kedua lengan Susan dan berusaha meminta Susan untuk tenang dan tidak berteriak di dalam ruangannya.


"Susan, tenang dulu. Duduk dulu. Aku mana tahu kalau ibu akan mengadakan perayaan juga di rumah. Aku juga tidak tahu kalau kamu di usir oleh ibu, kalau aku tahu pasti aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" jelas Hadi yang membuat Susan makin mendengus kesal.


"Makanya ponsel itu jangan di matikan. Ingat ya mas, aku yang membantumu sampai kamu menjadi wakil CEO sekarang. Aku yang sudah membantumu memfitnah pak Wisnu sampai dia di pecat dan.. empht!" Susan belum selesai bicara ketika tangan kanan Hadi membekap mulutnya dan tangan kirinya mengisyaratkan agar Susan diam dan tidak melanjutkan apa yang dia katakan.


"Susan, apa kamu ingin karir ku berakhir?" tanya Hadi.

__ADS_1


Susan menepis tangan Hadi yang membekap mulutnya.


"Makanya kamu juga harus jelaskan pada ibumu itu, kalau aku ini adalah satu-satunya calon istrimu!" balas Susan.


Hadi hanya bisa mengusap kepalanya gusar.


"Memangnya kenapa ibu mengusir mu dari rumah?" tanya Hadi.


"Orang-orang tidak ingin aku yang belum resmi menjadi istrimu tinggal satu atap dengan mu. Itu juga yang jadi pertanyaan ku, kapan kamu akan menikahi aku?" tanya Susan dengan tatapan meminta kepastian dari Hadi.


"Susan, aku baru saja bercerai...!"


"Sudah dua bulan mas, bagi seorang pria dia tidak perlu menunggu beberapa waktu untuk menikah lagi. Alasanmu itu sungguh tidak masuk akal!" keluh Susan.


Hadi kembali menghela nafasnya. Dia sekarang merasa kalau Susan memang sudah berubah, dan yang awalnya Hadi ingin sekali menikah dengan Susan, dia jadi merasa harus memikirkan hal itu lagi. Karena ibunya yang awalnya setuju, sekarang malah seperti kucing dan juga guguk kalau bertemu dengan Susan.


Setelah memikirkan untung ruginya, Hadi pun memutuskan untuk menuruti kemauan Susan untuk segera menikahinya. Hadi mendekati Susan dan memegang kedua tangan wanita yang merupakan cinta pertama nya itu.


"Baiklah, dalam waktu dekat ini aku akan melamar mu ke rumah orang tuamu. Tapi kamu juga harus berusaha untuk berdamai ya dengan ibuku. Aku tidak mau kalian terus saling bertengkar, bagaimana pun dia kan akan menjadi ibu mertua mu!" ucap Hadi membujuk Susan.


Mendengar perkataan Hadi amarah Susan perlahan mereda.


"Tapi benar ya, jangan lama-lama. Aku tidak mau terus menerus tidak mendapat kejelasan seperti ini!" ucap Susan lagi.


Hadi pun mengangguk.


"Iya, tapi janji ya. Kamu harus berdamai dengan ibuku!" pinta Hadi.

__ADS_1


Susan juga menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya mas, aku akan berusaha lebih dekat dan berdamai dengan ibumu!" kata Susan.


Hadi pun memeluk Susan, Hadi cukup lega karena sudah berhasil membujuk Susan agar tidak lagi membuat keributan di kantor nya. Dia juga senang karena Susan sudah berjanji akan berdamai dengan ibunya. Karena Hadi memang sangat menyayangi ibunya.


Sedangkan Susan juga tersenyum di pelukan Hadi.


'Akhirnya aku akan menjadi nyonya wakil CEO juga. Tidak apa-apa, aku akan membujuk nenek tua itu agar tidak lagi marah padaku. Tidak masalah keluar modal kecil, yang penting aku bisa menjadi nyonya wakil CEO dan hidupku pasti akan lebih menyenangkan nantinya, tidak perlu bekerja dan mau apapun aku bisa memilikinya!' batin Susan begitu senang karena sebentar lagi Hadi akan menikahinya.


Namun saat mereka sedang berpelukan. Tiba-tiba pintu ruangan Hadi ada yang mengetuk. Dengan cepat Hadi melepaskan Susan, dan Susan pun menjauh dari Hadi.


"Masuk!" sahut Hadi dari dalam ruangannya.


Pintu terbuka, dan Deni lah yang masuk dengan membawa sebuah dokumen berisi laporan di tangannya.


"Pagi Pak wakil CEO, pagi Susan!" sapa Deni yang langsung masuk dan mendekati Hadi.


Susan hanya mengangguk dan langsung meraih tasnya bersiap untuk keluar dari ruangan Hadi. Tapi sebelum dia keluar...


"Ini laporannya, oh ya bagaimana wanita yang semalam. Apa dia luar biasa?" tanya Deni yang membuat langkah kaki Susan berhenti kemudian berbalik ke arah Hadi.


"Wanita semalam?" tanya Susan sambil menyipitkan matanya ke arah Hadi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2