
Randy dan Karina juga sudah berada di dalam kamar Randy di lantai dua. Hanya kamar Dave dan Randy lah yang ada di lantai dua. Sementara kamar lain ada di lantai satu juga kamar tamu.
Melihat kamar Randy yang sudah di hias sedemikian rupa. Membuat Karina makin gugup saat masuk ke dalam kamar Randy itu. Apalagi ketika Randy menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
Deg deg deg
Jantung Karina benar-benar berdetak tidak menentu, tangannya dia tautkan satu sama lain karena semakin mendengar suara langkah Randy mendekat ke arahnya semakin jantungnya ingin lepas saja dari tempatnya.
Karina mencoba menghela nafasnya ketika merasa sebuah angin berhembus di belakangnya, yang artinya Randy sudah berada tepat di belakang Karina.
Dan Randy yang melihat wanita yang selama ini dia kejar sudah berada di hadapannya dan sudah resmi menjadi istrinya merasa sangat bahagia dalam hatinya. Perlahan Randy mengangkat tangannya dan memeluk Karina dari arah belakang.
Deg
Mata Karina terpejam sekilas, dia benar-benar sangat gugup sampai serasa jantungnya mau mencelos keluar.
Randy bahkan meletakkan ujung dagunya di bahu Karina. Membuat wanita yang tak pernah di sentuh oleh siapapun sebelumnya itu merasakan perasaan yang begitu tak bisa di deskripsikan. Seperti di gelitik di beberapa tempat yang tidak seharusnya di gelitik. Membuat Karina segera menarik dirinya menjauh dari Randy.
"Randy, aku akan mandi dulu!" ucap Karina gugup sambil berbalik melihat ke arah Randy.
Randy pun mengangguk pelan.
"Berdua?" tanya Randy.
Karina makin gugup saat Randy mengatakan pertanyaan itu padanya.
"Be... berdua?" tanya balik Karina.
Randy lalu mendekati Karina dan meraih kedua tangan Karina. Randy tersenyum saat merasakan betapa dinginnya kedua telapak tangan Karina. Randy mengerti kalau Karina pasti sangat gugup.
"Iya, bukankah kita harus mengenal setiap...!" Randy menjeda ucapannya karena Karina langsung menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Randy.
"Aku... aku...!" Karina ingin mengatakan dirinya belum siap. Tapi dia berpikir lagi, kalau dia memang seharusnya memberikan hak Randy.
Termasuk untuk melihat setiap yang ada pada diri Karina. Dan ketika dia melihat ke arah Randy, pria itu terlihat tersenyum penuh harap padanya. Semakin Karina tidak tega menolak permintaan Randy itu.
__ADS_1
"Baiklah!"
Saat mendengar suara lembut Karina itu, Randy tersenyum sangat senang. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Randy langsung membantu Karina melepaskan semua riasan yang melekat di kepala istrinya itu hingga rambut Karina yang hitam dan panjang itu terurai. Tak berhenti di situ saja, tangan Randy juga dengan terampil melepaskan setiap kancing kebaya yang Karina pakai.
Dengan perasaan tak menentu, gugup bercampur rasa canggung yang luar biasa Karina mencoba untuk tidak menolak setiap yang ingin Randy lakukan padanya.
Setelah kebaya megah nan anggun itu terlepas dari tubuh Karina dan hanya menyisakan kemben saja, mata Randy benar-benar di buat terpana dengan pemandangan yang ada di depannya. Selama ini Karina selalu memakai pakaian tertutup, hingga saat Karina berdiri di depan Randy dengan pakaian yang terbuka begitu, Randy benar-benar sudah hampir kehilangan akalnya.
Tangan pria tampan yang kekar dan berotot itu langsung memeluk pinggang Karina dan menariknya hingga Karina mendekat bahkan perutnya sudah menempel pada Randy.
Karina tidak berani mengangkat wajahnya yang sudah merona merah.
Hembusan nafas Randy membuat jantung Karina makin kencang lagi berdetak. Tangan nakal Randy yang satu lagi mulai menyentuh wajah putih nan mulus Karina. Tangan itu juga yang meraih dagu Karina dan mengangkatnya hingga Karina mendongak dan menatap ke manik mata coklat tua itu.
Kedua pasang mata saling bertemu. Randy makin mendekat dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir merah Karina. Ciuman lembut dari Randy membuat Karina memejamkan matanya menikmati setiap perasaan berbeda yang dia rasakan.
Beberapa detik Karina hanya diam menerima setiap pagut4n dari suaminya. Tapi semakin lama, saat suhu tubuh Karina mulai memanas dan rasa berbeda yan berdesir di seluruh tubuhnya, Karina pun mengalungkan kedua tangannya yang bertaut di belakang Randy.
Randy tersenyum di sela ciuman lembut itu, dia bahkan menarik Karina makin mendekat ke arahnya. Ciuman lembut Randy pun akhirnya mendapatkan balasan dari Karina. Setiap pagut4n berbalas dengan pagut4n, setiap *****4n berbalas *****4n hingga keduanya tak menyadari sudah berapa lama bibir mereka menyatu dan menimbulkan suara yang begitu merdu terdengar di telinga keduanya.
"Sshhh" Randy mendesis pelan.
Membuat Karina menyadari apa yang dia lakukan dan segera melepaskan bibirnya dari Randy.
"Hah... Randy maaf, aku... emptt!"
Tapi Randy tak mau mendengar apapun yang di katakan Karina. Dia kembali mencium Karina bahkan kali ini dia memaksa Karina membuka mulutnya. Karina memejamkan matanya lagi, dia benar-benar di buat terlena hingga tak kuasa untuk membuka matanya.
Perlahan Randy pun menuntun langkah Karina ke arah tempat tidur. Masih dengan bibir mereka yang bertaut, Randy membuka jas dan kemejanya dan melemparnya ke sembarang arah. Hingga Karina terjatuh di atas tempat tidur, dia baru membuka matanya dan melihat Randy yang sudah setengah polos.
"Aku akan lakukan sekarang, apa boleh?" tanya Randy lembut.
Randy masih meminta ijin pada Karina meskipun dirinya sudah tidak bisa menahan diri dan mengendalikan sesuatu yang sejak tadi menegang di bawah sana.
Karina pun mengangguk perlahan. Memang sudah seharusnya dia memberikannya pada Randy, suaminya.
__ADS_1
"Bolehkah kalau lampunya di matikan?" tanya Karina.
Randy pun tersenyum, dengan segera Randy berjalan ke arah tombol lampu dan mematikan lampu di kamar itu. Tetap saja meski lampunya di matikan, cahaya bulan dan lampu terang dari luar masih masuk ke celah-celah jendela dan celah-celah ventilasi.
Membuat Randy masih bisa melihat dengan jelas wajah gugup istrinya itu. Randy mulai membuka semua pakaian Karina, karena malu Karina menutup dadanya dengan kedua tangannya. Tapi Randy yang juga sudah selesai membuka semua pakaiannya meraih tangan Karina dan mengalungkannya di leher Randy yang sudah berada di atas Karina.
Randy mulai lagi dengan mencium lembut bibir Karina, lalu perlahan turun ke leher wanita cantik itu, membuat Karina yang awalnya sangat takut perlahan mengikuti irama permainan Randy yang membuatnya melenguuhh tiba-tiba.
Sadar akan suara yang dia keluarkan, Karina langsung membuka matanya.
'Ya Tuhan, aku tidak percaya aku bisa bersuara begitu. Ini memalukan!' batin Karina yang langsung menatap tanya yang ternyata malah sedang tersenyum menatapnya.
"Keluarkan lagi, suaramu terdengar sangat indah!" ucap Randy membuat Karina malu bukan main.
Setelah pemanasan cukup lama, Randy pun minta ijin lagi pada Karina untuk penyatuan mereka. Meski merasa sedikit takut karena yang dia dengar dari temannya. Melakukan hal itu untuk pertama kalinya akan sangat sakit. Seperti di robek.
Karina menghirup nafas panjang saat dia merasakan jagung Afrika Randy itu mulai berusaha memasuki miliknya.
"Aghkkkk!" pekik Karina yang merasakan sakit dan pedih dalam waktu bersamaan.
Mata Karina bahkan berkaca-kaca, namun dia tidak mau sampai air matanya itu keluar. Dia sama sekali tidak ingin membuat Randy merasa bersalah atau menundanya lagi setelah rasa sakit yang lumayan membuatnya menggigit lengan Randy dengan kuat.
Randy sampai memejamkan matanya ketika sudah memasuki Karina sepenuhnya. Randy baru membuka matanya lagi setelah dirinya berhasil di bawa terbang ke langit ketujuh oleh Karina.
Karina bahkan tidak tahu sudah berapa cakaran dan gigitan yang dia lakukan pada Randy hingga rasa sakit itu perlahan hilang dan berubah menjadi rasa yang membuatnya mengerang dan melenguuhh tak karuan.
Hingga jam di dinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Randy baru membaringkan tubuhnya di sebelah Karina yang sudah kehabisan suaranya.
Randy mencium kening Karina yang sudah memejamkan matanya karena kelelahan.
"Terimakasih untuk bersedia menjadi istriku sepenuhnya sayang, aku mencintaimu!" ucap Randy.
Karina masih mendengar itu, tapi dia terlalu lelah untuk membuka matanya dan membuka mulutnya.
***
__ADS_1
Bersambung...