
Sore hari saat akan mengantarkan Sila pulang ke rumah ayahnya, Sila meminta agar Dave mengantarkan nya terlebih dahulu ke kontrakan Karina. Dia ingin ambil pakaian nya disana, meskipun kata Dave tidak usah karena Dave akan membelikan pakaian baru untuk Sila. Tapi alasan Sila mau ambil pakaian nya di rumah kontrakan Karina bukan hanya itu.
"Mas, aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik untukku. Tapi bukan masalah pakaiannya, tapi masalah ruang yang ada di lemari Karina. Dia sudah begitu baik memberikan tempat di lemarinya untuk pakaian ku, hingga dia harus meletakkan beberapa sprei dan selimut di sebuah keranjang di bawah tempat tidur kami. Aku hanya ingin mengambil pakaian ku, dengan begitu dia bisa meletakkan kembali barang-barang nya ke dalam lemari!" ucap Sila menjelaskan.
Dan setelah mendengar penjelasan Sila, Dave mengangguk paham.
"Dia teman yang baik!" ucap Dave.
"Iya mas, di saat semua orang tidak mempercayai aku, Karina adalah satu-satunya orang yang mempercayai aku tanpa bertanya. Meski dalam kondisinya yang serba pas-pasan dia masih menerimaku di rumahnya, memberikan aku makan ketika aku di pecat dari pekerjaan ku dan tidak punya uang sepeser... !" Sila menghentikan apa yang ingin dia ucapkan. Mengingat semua hal itu membuatnya menjadi sedikit sedih.
Dave langsung menggenggam erat tangan Sila.
"Sayang, maafkan aku. Seharusnya aku lebih cepat menemukanmu agar kamu tidak perlu mengalami semua hal menyedihkan itu!" ucap Dave dengan begitu lembut pada Sila.
Joseph yang sedang menyetir sambil mencuri dengar cerita Sila tentang Karina pun mulai merasa kalau Karuna adalah sosok wanita yang begitu tangguh dan mandiri. Joseph memang sudah pernah bertemu beberapa kali dengan Karina, tapi dia pikir wanita itu hanya karyawan biasa saja, tapi ternyata hatinya begitu baik.
"Bagaimana kalau kita belikan saja lemari untuk Karina?" tanya Dave pada Sila.
Sila pun menganggukkan kepalanya perlahan.
"Boleh mas, dia pasti akan sangat senang. Jujur saja, kunci lemarinya sudah mulai macet, dia pasti senang kalau mas membelikan nya lemari baru!" sahut Sila yang merasa sangat senang mendengar kalau Dave akan membelikan sahabatnya lemari baru.
"Jo, apa kamu dengar? besok urus semuanya!" seru Dave memberikan perintah pada Joseph.
"Baik tuan!" jawab Joseph.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di depan rumah kontrakan Karina. Karena Karina sudah tahu hubungan Dave dan Sila, jadi Sila tidak perlu lagi meminta Joseph untuk menghentikan mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumah.
Lagipula, ini baru pukul lima sore. Sila menebak kalau Karina pasti belum pulang kerja.
__ADS_1
Ketika Sila turun dari mobil setelah pintu mobilnya di bukakan oleh Joseph. Dave juga ikut turun.
"Mas, mau apa? aku hanya ambil pakaian sebentar!" tanya Sila pada Dave.
"Kamu yakin tidak butuh bantuan ku?" tanya Dave.
Sila hanya tersenyum dan langsung menggelengkan kepalanya. Kalau Dave ikut masuk, sedangkan Karina belum pulang. Sila tidak tahu apa yang akan di lakukan Dave padanya. Suaminya itu tidak bisa kalau tidak mengganggu Sila ketika mereka hanya berdua saja.
"Tidak usah mas, aku hanya sebentar!" ucap Sila yang langsung berlalu. Membuat Dave langsung berkacak pinggang dan mendengus kesal.
Namun ketika Sila sudah akan memasangkan anak kunci pada lubang kunci rumah kontrakan Karina. Ternyata pintunya sudah tidak terkunci. Sila sempat terkejut, tapi begitu dia memutar handel pintu, memang tidak terkunci.
Sila pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah kontrakan Karina. Tapi begitu dia akan memanggil nama Karina saat melangkah menuju ke kamar Karina. Tidak sengaja dia mendengar suara isakan tangis seseorang. Dan dia yakin sekali kalau itu adalah Karina.
Dengan cepat Sila membuka pintu kamar, dan benar saja. Setelah Sila masuk ke dalam kamar, dia langsung melihat Karina yang sedang menangis sambil tertunduk dan memeluk kedua lututnya yang di teluk di atas lantai kamar yang dingin sambil bersandar di salah satu tiang tempat tisu mereka.
Sila langsung bergegas menghampiri Karina dan merangkulnya.
Sila mengenal Karina selama ini adalah pribadi yang sangat kuat. Tidak seperti dirinya yang bisa di bilang cengeng dan tidak bisa menahan air matanya. Dan itu artinya kalau Karina sudah menangis, pasti saat ini masalah uang dihadapi Karina tidak mudah pasti sangat berat, masalah yang besar.
Begitu menyadari kalau Sila sedang ada di sampingnya. Karina mengangkat kepalanya perlahan, dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Karina memeluk erat Sila dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabat nya itu.
Mata Sila juga tidak bisa menahan air matanya meskipun sebenarnya dia belum tahu apa masalah yang terjadi pada Karina. Tapi melihat sahabatnya yang biasanya selalu tegar sampai menangis seperti itu, Sila jadi ikut merasa sangat sedih.
Cukup lama Karina menumpahkan air matanya, dan Sila pun hanya mengusap punggung sahabatnya itu perlahan sambil sesekali menyeka air matanya sendiri. Sampai seseorang mengetuk pintu kamar Karina.
"Sila, apa semua baik-baik saja?" tanya Dave dari luar pintu kamar Karina.
Dave yang merasa kalau Sila terlalu lama hanya untuk mengambil tas dan pakaiannya pun memutuskan untuk masuk dan memeriksa keadaan Sila. Tapi saat dia masuk, dia mendengar suara orang menangis dari arah kamar. Dia pikir itu bukan Sila, karena suaranya berbeda. Karena itu Dave mengetuk pintu dan bertanya.
__ADS_1
Mendengar ada suara Dave, Karina pun menjauhkan dirinya sedikit dari Sila.
"I.. itu tuan Dave?" tanya Karina yang masih sesenggukan.
Sila hanya mengangguk pelan. Karina lalu menyeka air matanya.
"Temui saja dia Sila, aku tidak apa-apa!" ucap Karina.
Sila pun jadi tidak tega untuk meninggalkan Karina yang sedang dalam keadaan seperti ini.
"Karina, ada apa?" tanya Sila.
Karina malah langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Sila, aku... aku hanya rindu ibu dan adik-adik ku. Aku pikir... aku mungkin akan pulang saja ke kampung." jawab Karina yang semakin membuat Sila cemas.
Sejauh dia mengenal sahabatnya itu, Karina tidak akan pernah berkata seperti itu meskipun dia sangat merindukan ibu dan juga adik-adiknya. Karina bertahan di kota ini demi mereka, rasanya tidak mungkin kalau hanya karena rindu pada ibu dan adik-adiknya Karina ingin berhenti berjuang dan pulang ke kampung halamannya.
"Karina sebenarnya apa yang terjadi, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya? kita sahabat kan?" tanya Sila berusaha untuk membujuk Karina menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.
Tangan Karina perlahan masuk ke kolong tempat tidur dan meraih sebuah kertas. Karina lalu menunjukkan kertas itu dan memberikannya pada Sila.
Sila segera meraih kertas itu, setelah membacanya Sila menutup mulutnya tidak percaya.
"Di pecat tidak hormat, dengan denda 2 Milyar. Ya Tuhan!" ucap Sila tak percaya.
Sila melepaskan kertas itu dari genggaman nya dan kembali memeluk Karina.
"Bagaimana ceritanya bisa seperti ini Karin?" tanya Sila.
__ADS_1
***
Bersambung...