
Mikaila benar-benar terlihat sangat senang, sayang sekali masih harus menunggu satu minggu sampai sidang keputusan atas tuntutan hak asuh Mika yang di ajukan Sila baru bisa di gelar.
Mereka puas bermain hingga malam. Tepatnya pukul 7 malam, Dave pun mengajak Mika dan Sila untuk makan malam di sebuah restoran di dekat taman bermain. Sementara karena Mika memang sedikit takut pada Joseph yang wajahnya memang garang dari lahir pun terpaksa hanya menunggu di mobil sambil makan malam juga sebenarnya.
Mika makan malam sangat lahap, mungkin karena dia juga sangat senang hari ini dan makanan yang di pesan Dave juga semua adalah makanan kesukaan Mika.
Sementara itu, Diah yang memang menunggu di rumah bersama dengan Niken dan kedua anaknya pun juga sedang makan malam bersama. Tini dan Bima masih menjaga Prio Utomo di rumah sakit. Jadi Niken juga belum membawa kedua anak mereka pulang ke rumah mereka meski masalah hutang piutang dengan Baron Cs sudah beres. Bahkan mobil Bima juga sudah di tebus setelah di gadaikan, yang menebusnya tentu saja Oman atas perintah Dave.
Saat sedang makan tiba-tiba ponsel Diah berdering. Melihat latar ponsel dan membaca pemanggilnya adalah Susan, Diah pun minta ijin pada Niken untuk menjawab telepon sebentar.
"Nyonya, maaf ya. Saya jawab telepon sebentar. Dari majikan saya!" kata Diah sopan.
"Tentu saja, silahkan!" jawab Niken tak jalan ramah.
Diah menjauh sedikit dari ruang makan, karena dia tahu kalau Susan pasti akan bertanya-tanya tentang Mika. Dan kalau tahu Mika sedang bersenang-senang dengan ibunya dan juga tuan kaya raya itu, Susan pasti akan berteriak. Dia tidak enak kalau sampai teriakan Susan terdengar oleh Niken dan kedua anaknya.
"Halo nyonya!" sapa Diah pada Susan dengan sopan.
"Katakan sedang apa Mika sekarang? dia pasti tidak mau dekat-dekat dengan Mika kan?" tanya Susan begitu percaya diri karena dia tadi juga sudah menghasut Mika saat Mika akan berangkat ke rumah orang tua Sila.
"Awalnya iya nyonya, tapi yang namanya anak ya. Pasti kangen lah sama mamanya nyonya. Nona Mika sudah memeluk dan tertawa senang pada Nyonya Sila!" jelas Diah jujur.
"Apa!!!" pekik Susan dari ujung telepon membuat Diah sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Bagaimana bisa seperti itu, Diah kamu pasti bohong. Dia benar-benar sangat takut dan selalu menangis setiap aku bilang ibunya tidak pernah mencarinya dan menemuinya, bagaimana mungkin dia bisa luluh secepat itu. Sekarang dimana Mika? berikan ponsel mu padanya, aku ingin bicara dengannya!" perintah Susan pada Diah.
Susan sudah berencana untuk mengatakan kembali apa yang dia tiap
hari katakan pada Mika. Susan berpikir Mika pasti lupa apa yang dia katakan tentang ibunya karena itu dia bersikap baik pada Sila. Susan mau menghasut Mika lagi agar tetap menjauhi Sila.
__ADS_1
"Maaf nya, tapi nona Mika di ajak jalan-jalan dengan nyonya Sila dan tuan kaya raya uang sering nongol di tipi itu nya!" jelas Diah jujur.
"Apa!!!" pekik Susan lagi. Kali ini pekikan Susan bahkan lebih keras dari yang pertama tadi.
Hal yang sama pun di lakukan oleh Diah. Dia kembali menjauhkan ponselnya dadu telinganya.
'Ya ampun, telingaku bisa tuli kalau begini. Nyonya Susan ini hobi sekali sih berteriak-teriak. Ampun deh!' keluh Diah dalam hatinya.
"Jadi tuan Dave juga ikut jalan-jalan dengan Sila dan Mika?" tanya Susan.
"Iya nyonya, tuan Dave itu kelihatannya sangat baik pada Mika, tadi tuan Dave bilang akan mengajak Mika ke taman bermain dan membeli eskrim!" tambah Diah lagi.
Tut tut tut
Panggilan telepon pun terputus. Diah melihat ke arah layar ponselnya dan memang sudah di putuskan sepertinya oleh nyonya nya.
Sementara itu Susan yang mendengar dari Diah kalau Dave juga ikut pergi dengan Sila dan Mika mulai berpikir. Dia berjalan mondar-mandir di teras dekat kolam renang sambil menggigit kuku jarinya.
Susan masih terus menganalisa keadaan yang terjadi.
"Apa mungkin Sila dan tuan Dave itu ada hubungan lain selain atasan dan bawahan?" tanya Susan bergumam.
Tapi kemudian dia kembali diam dan masih terus berjalan bolak balik dari sisi kolam renang satu ke sisi yang lain. Tiba-tiba saja dia berhenti.
"Tidak mungkin, itu sama sekali tidak mungkin. Tuan Dave Hendrawan itu Myshopobia parah sekali, tidak ada yang bisa mendekatinya atau menyentuhnya. Jadi mana mungkin batang kayu seperti Sila itu bisa menaklukkan Dave Hendrawan. Mengambil hati dan menyenangkan mas Hadi saja dia tidak mampu. Aku pasti terlalu banyak berpikir!" Susan pun berhenti memikirkan tentang kemungkinan ada hubungan spesial antara Sila dan Dave.
"Lebih baik aku ke salon saja, spa malam hari pasti sangat menyenangkan. Mas Hadi juga bilang akan pulang terlambat kan!" gumam nya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Tapi saat Susan masuk, dia berpapasan dengan istri Zain, Ayu yang tidak sengaja membawa nampan berisi banyak gelas yang akan dia bawa ke ruang makan. Karena memang Ayu dan ibu mertuanya sedang menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Tanpa sengaja tangan Ayu yang tiba-tiba kebas pun menabrak lengan Susan dan membuat satu gelas terjatuh dari nampan yang dia bawa.
Prang
"Aduh!" pekik Susan yang kakinya terkena pecahan gelas yang tidak sengaja di jatuhkan oleh Ayu.
"Maaf kak, maaf aku tidak sengaja!" ucap Ayu yang langsung meletakkan nampan yang dia bawa ke lantai. Dan mencoba untuk membersihkan kaki Susan dengan ujung daster yang dia pakai.
"Ih, minggir kamu!" pekik Susan lagi dan langsung menendang tangan Ayu hingga Ayu yang sama sekali tidak siap pun terjatuh.
Tangannya malah tak sengaja menyentuh pecahan gelas yang lain.
"Augh!" Ayu mengaduh kesakitan karena telapak tangannya terkena pecahan kaca.
Zain yang kebetulan lewat pun segera berlari menghampiri istrinya dan membantu ayu berdiri.
"Ayu, tangan mu berdarah. Kenapa ini?" tanya Zain cemas.
"Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas itu, saat aku lewat kak Susan masuk dari luar dengan tiba-tiba. Aku tidak sengaja bang, aku sudah minta maaf padanya. Tapi dia mendorong ku!" jelas Ayu yang matanya sudah berkaca-kaca menahan pedih di tangannya.
"Kenapa mendorong istriku?" tanya Zain dengan nada tinggi pada Susan. Zain memang sudah lama kesal pada kelakuan Susan pada ibu dan istrinya yang semena-mena.
"Heh, kenapa berteriak begitu padaku. Istrimu saja yang tidak becus. Lihat kaki ku terkena pecahan gelas itu, dia malah membersihkannya dengan pakaian nya yang murahan itu. Dasar kampungan!" balas Susan tak kalah berbadan tinggi lalu pergi begitu saja meninggalkan Zain dan Ayu.
"Bang, kita pulang saja yuk. Lebih baik hidup dan makan seadanya, tidur di kasur tipis dengan kipas angin tapi kita hidup dengan tenang. Daripada di sini meski makan enak, tidur di kasur yang bagus dan empuk, kamar pakai pendingin ruangan tapi setiap hari mendengarkan kata-kata kasar dari calon kakak ipar mu itu!" ucap Ayu dengan air mata yang sudah mengalir di sudut matanya.
***
Bersambung...
__ADS_1