
Kakek Praja hanya bisa menghela nafasnya sangat berat. Matanya merah dan berkaca-kaca. Sungguh tak pernah dia sangka kalau menantunya satu-satunya itu adalah wanita yang begitu kejam sampai tega mencelakai orang lain hingga menghilangkan nyawanya.
Kakek Praja memang mengenal Aline sebagai wanita yang ambisius dan perfeksionis, tapi dia tidak menyangka kalau dia bahkan bisa berbuat sekeji itu.
"Aline ada di lantai dua, dia sedang bersiap-siap karena Aline dan Luna akan pergi ke acara amal perusahaan!" ucap kakek Praja dengan raut wajah dan suara yang terdengar sudah pasrah saja terhadap apa yang akan terjadi pada keluarganya.
Dengan langkah cepat Nandes dan anak buahnya menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Randy pun ingin menyusul, tapi ketika Randy akan mengikuti mereka, tangannya di pegang oleh kakek Praja.
"Kakek sangat minta maaf padamu nak Randy. Kakek tahu semua ini tidak akan mengurangi rasa sakit hatimu, tapi kakek benar-benar minta maaf karena bahkan tidak tahu kalau menantu ku telah... !"
Randy yang tadinya sangat emosi, melihat wajah kakek Praja yang sudah sangat gusar dengan mata yang berkaca-kaca pun menjadi tidak tega. Toh, semua ini juga di luar pengetahuan dari kakek Praja. Setahu Randy kakek Praja dan anak kandungnya Adi Praja adalah orang yang baik. Mungkin kesalahan mereka atau bagaimana, bisa memilih menantu yang berhati ibl1s dan bermuka dua seperti Aline.
Randy langsung menepuk punggung tangan kakek Praja yang memegang lengannya.
"Aku tidak pernah menyalahkan kakek atau om Adi. Tapi tante Aline harus membayar semua ini kek. Harus!!" seru Randy dengan suara dan tatapan mata penuh keyakinan.
Selanjutnya Randy pun berlari menaiki anak tangga ke lantai dua.
Brakkk
Pintu kamar Luna di dobrak. Luna yang sedang menunggu ibunya dengan cemas pun terkejut bukan main.
"Po.. polisi...!" ucap Luna gugup, bukan hanya gugup dia juga panik.
Luna panik hingga tangan dan kakinya gemetaran. Dia nyaris terjatuh ke lantai sangking paniknya. Namun seorang petugas wanita langsung menarik tangannya hingga tak jadi terjatuh.
"Nona, katakan dimana nyonya Aline?" tanya petugas wanita itu dengan suara yang begitu tegas.
"Ibu.. ibuku tadi keluar!" jawab Luna cepat namun tetap tergagap.
__ADS_1
"Kemana?" tanya petugas polisi wanita itu sambil membentak.
Luna langsung gemetaran. Dia langsung jatuh ke lantai karena terkejut.
Air matanya bahkan sudah mengalir.
"Tidak tahu, dia bilang dia mau lihat apa yang terjadi di luar... aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu!" ucap Luna yang sudah sangat ketakutan.
Luna bahkan berkata dan menjawab pertanyaan petugas polisi wanita itu sambil memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Hiks... hiks .. aku tidak tahu!"
Petugas yang mendengar apa yang dikatakan Luna langsung saling pandang. Mereka curiga kalau Aline pasti sudah tahu tujuan kedatangan mereka. Dan sekarang Aline pasti sudah kabur.
"Jangan-jangan dia sudah melarikan diri, cepat lapor komandan!" seru petugas polisi wanita itu pada rekannya yang berada di ambang pintu.
Dengan cepat petugas itu melapor pada Nandes yang juga sudah menyisir semua kamar dan ruangan yang ada di lantai dua itu. Setelah tidak menemukan Aline. Mereka yakini Aline sudah melarikan diri.
"Dia kabur, Sialannn!" pekik Randy kesal.
Namun tak lama setelah mendengar suara mesin mobil menyala dan melaju cepat itu. Semua petugas polisi dan Randy mengejar keluar. Namun belum terlalu lama terdengar suara.
Brakkkkkkkk
Seperti dua buah benda yang beradu dengan sangat keras. Randy dan yang lain juga langsung berlari ke arah sumber suara. Para petugas langsung beralih ke arah dua buah mobil yang saling bertabrakan.
Mobil yang baru saja keluar dari kediaman Praja tampak ringsek di bagian depan kap mobilnya. Namun Aline terlihat berusaha keluar dari dalam mobil, dan berlari sebelum para petugas sampai padanya.
Dari mobil yang satu lagi, yang sepertinya sengaja menabrak mobil yang di kendarai Aline. Keluar Joseph yang dengan cepat mengejar Aline.
__ADS_1
"Berhenti, kami peringatkan nyonya Aline Praja sebaiknya anda menyerah atau kami tembak!" seru salah seorang petugas wanita yang ikut mengejar.
Namun saat Aline masih berusaha lari, Joseph langsung berlari kencang dan tak perlu waktu lama, Joseph sudah ada di samping Aline, lalu memotong langkahnya dengan menjag4l kaki Aline hingga wanita paruh baya itu tersungkur dengan wajah menyentuh aspal.
"Agkhh!" teriak Aline kesakitan.
Seorang petugas wanita langsung menarik tangan Aline dan mengunci pergerakan kedua tangannya dengan gelang besi petugas polisi wanita itu.
"Nyonya Aline Praja, anda di tangkap atas tuduhan pelenyapan terhadap nyonya Alisha Randy Hendrawan!" ujar petugas polisi wanita itu dengan tegas.
"Lepaskan! aku tidak membunuhnya! aku tidak membunuhnya. Kalian salah orang, aku akan tuntut kalian atas pencemaran nama baik!" teriak Aline tak terima dirinya di tangkap.
Bahkan di sekeliling mereka sudah banyak warga yang terkejut bukan main atas kejadian yang menimpa menantu keluarga Praja itu.
"Anda berhak untuk diam, hingga sampai di kantor polisi!" seru petugas wanita yang menarik paksa Aline menuju mobil polisi yang sudah ada di dekat mereka.
"Tidak, aku tidak bersalah... lepaskan aku!" teriak Aline yang tidak di perdulikan oleh petugas yang segera memasukkan dirinya El dalam mobil.
Dave terlihat mengikuti Joseph, dia cukup terkejut tadi saat mengetahui Joseph mengambil tindakan tanpa pikir panjang. Menabrakkan mobilnya ke arah mobil Aline yang melaju kencang. Dave benar-benar tak habis pikir pada Joseph.
Setelah berada di dekat pengawal sekaligus asisten pribadinya dan sekaligus sahabatnya itu, Dave langsung melirik tajam pada Joseph.
"Lain kali pikir lagi kalau mau melakukan adegan berbahaya seperti itu. Kau sih enak jomblo tak ada yang kau khawatirkan. Aku ini calon ayah dan ayah dari dua anak, istriku masih muda. Dan aku tahu dia sangat mencintai ku. Aku tak mau mati muda Jo!" tegas Dave yang membuat Joseph hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf tuan!" sahut Joseph merasa bersalah.
Tapi tadi memang yang ada di pikiran Joseph adalah menghalangi Aline yang sepertinya akan kabur. Jadi dia hanya pikirkan hal itu saja. Tapi sekarang setelah dia melihat kondisi mobil Aline yang ringsek parah di depan dan mobil Dave yang juga rusak parah di bagian depan. Dia baru menghela nafasnya.
'Lain kali aku akan lebih hati-hati dan berpikir panjang. Aku juga tak mau menjadikan Shafa janda untuk kedua kalinya!' batin Joseph.
__ADS_1
***
Bersambung...